Advertisement
Halo Ladies, Yuk Cicip Es Goreng Pak Gatot
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Bagi warga Jogja, terutama yang kerap menghabiskan waktu menjelang senja di Alun-Alun Kidul, Jogja, pastinya kerap bertemu dengan jajanan Es Goreng Pak Gatot. Setiap sore, motor besarnya akan mangkal di sebelah barat alun-alun. Di bagian belakang joknya, terdapat sebuah etalase tempat Pak Gatot meracik es gorengnya. Namun, sisi menarik dari Es Goreng Pak Gatot tidak cukup berhenti sampai di situ saja.
“Halo, ladies. Sering makan es goreng kelak kamu akan menjadi anak yang pintar, ya,” celetuk lelaki bernama asli Gatot Sunardi dari atas motornya pada suatu senja, belum lama ni. Dari pengeras suara yang terletak di atas etalase, suaranya nyaring memanggil pengunjung untuk mendekat ke dagangannya.
Advertisement
Di dekat bibirnya terpasang mikrofon untuknya berinteraksi dengan pengunjung sekaligus sebagai strategi menarik perhatian orang-orang. Kegemarannya berbicara layaknya penyiar radio dan sapaannya yang ramah diselingi humor pada pengunjung membuat Gatot mendapat tempat tersendiri di hati pelanggan.
Es Goreng Pak Gatot merupakan salah satu street food Kota Jogja. Penggemarnya mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Di Alun-Alun Kidul, es gorengnya bisa dinikmati mulai dari pukul lima sore hingga sepuluh malam. “Sebetulnya es saya itu tidak mengenal cuaca, pokoknya laris terus,” jelasnya.
Selain di Alun-Alun Kidul, Pak Gatot setiap Minggu juga menjajakan es gorengnya di pasar akhir pekan, Sunday Morning UGM.
Sajian es goreng ini sebetulnya merupakan jajanan jenis es potong. Awalnya Gatot memulai usaha es potong pada tahun 1981. Beranjak enam tahun, usahanya sempat menurun. Namun, ia kembali bangkit dengan inovasi es potong yang dicelup cokelat dan dari situlah tercetus istilah es goreng.
Setiap hari, Gatot menyetok 100 batang es potong lonjong dengan panjang kira-kira 30 cm. Dalam penyajiannya, ia akan membagi dua es tersebut sama panjang. Sebagai pegangan, bagian bawah es potong akan ditusuk dengan batang lidi. Terakhir, Gatot akan menggoreng esnya dengan mencelupkannya ke dalam cokelat mendidih sehingga es potongnya akan terlumuri cokelat kering yang seolah-olah sehabis digoreng.
Ada tiga varian rasa yang disediakan, yaitu cokelat, bluberi dan kacang hijau. Untuk varian cokelat, di dalam es potong akan dijumpai butiran-butiran ketan hitam yang menambah nikmat ketika mengudap. Sensasi dari es yang dingin namun empuk dan manis, bersatu dengan ketan yang gurih serta cokelat kering yang renyah.
Meski tergolong street food, usahanya tersebut sudah lolos sertifikasi kesehatan terbukti dengan surat yang tertempel pada samping etalasenya. Es Goreng Pak Gatot terbebas dari bahan pengawet serta pemanis buatan.
Untuk satu buah es goreng, Anda cukup menyiapkan uang sebesar Rp3.000. “Ladies, es goreng ini cukup tiga ribu saja. Khusus buat kamu yang cantik, tak kasih lima ribu dapat dua,” ujar lelaki asal Klaten ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- WISATA RAMADAN: Jejak Dakwah di Kampung Maksiat Samarinda
- Siap-Siap Long Weekend! Libur Awal Ramadan Jatuh pada 18-20 Februari
- Panduan Wisata Jogja 2026: Dari Glamping hingga Hidden Gems
- Malaysia Perkenalkan Panda Raksasa Baru Chen Xing dan Xiao Yue
- Tren Wisata Solo Bergeser ke Destinasi Publik dan Hits Baru
Advertisement
Mudik Lebaran 2026: Penumpang Terminal Giwangan Jogja Naik 15 Persen
Advertisement
Pembatasan Media Sosial Anak Dinilai Tekan Depresi dan Bullying
Advertisement
Advertisement
Advertisement







