KULINER JOGJA: Mencicipi Jenang Pasar Lempuyangan Favorit Keluarga Kraton

Jenang pincuk Pasar Lempuyangan, Jogja - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
31 Oktober 2018 09:35 WIB Lajeng Padmaratri Wisata Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Berkunjung ke Kota Jogja tak lengkap rasanya jika belum menjajal kuliner pagi untuk sarapan. Jika Anda baru turun dari kereta di Stasiun Lempuyangan pada pagi hari, jangan lupa mampir ke Pasar Lempuyangan untuk mencicipi jenang pincuk legendaris.

Jenang merupakan olahan bubur kental. Makanan tradisional khas Jawa ini bisa dibuat dari tepung beras dan tepung kanji. Umumnya, penganan ini disajikan dengan kuah yang berbahan dasar santan segar ataupun kuah dari gula jawa.

Adalah Sugesti, perempuan berusia 53 tahun yang sehari-harinya menjajakan jenang di Pasar Lempuyangan. Selama ini ia meneruskan usaha keluarganya yang sudah berjualan jenang di Pasar Lempuyangan sejak tahun 1950-an.

“Pertama oleh Budhe saya. Karena Budhe pindah jualan ke Magelang, terus dilanjutkan ibu saya. Lalu sekarang saya,” ujar perempuan yang akrab disapa Bu Gesti kepada Harian Jogja, belum lama ini.

Saban hari, ia memulai aktivitasnya memasak jenang mulai pukul 03.00 WIB. Untuk pelanggan, ia menyiapkan beberapa jenis jenang, antara lain jenang sumsum, jenang candil, serta jenang mutiara.

Dua Jenis Jenang

Untuk jenang sumsum, ia menjual dua jenis, yaitu jenang sumsum gurih yang berwarna putih berbahan tepung beras dan santan, serta jenang sumsum manis yang berwarna cokelat hasil campuran gula jawa.

Selain itu, ada pula jenang candil yang juga berwarna cokelat. Bedanya, jenang candil memiliki tekstur lebih kenyal karena terbuat dari ketan.

Ada juga jenang mutiara dari tepung kanji, yang selaras dengan namanya berbentuk butiran-butiran bercorak merah muda. Masing-masing jenang tersebut ia sediakan dalam panci besar yang berbeda-beda. “Masing-masing jenang satu panci, tapi candil banyak yang suka jadi dua panci,” ungkap dia.

Untuk penyajiannya, Bu Gesti menggunakan daun pisang yang dilapisi kertas minyak berwarna cokelat yang dilipat ala pincuk sebagai pembungkusnya. Di dalam pincuk, ia selipkan sebungkus santan untuk kuah jenang. Pembeli cukup membayar sebesar Rp5.000 saja setiap pincuk.

Bu Gesti mulai membuka lapaknya mulai pukul 08.00 WIB hingga dagangannya habis. “Biasanya jam sepuluh sudah habis,” kata dia. Di Pasar Lempuyangan, losnya bisa ditemukan di area pasar sayap selatan. Baru-baru ini, anaknya yang biasa membantunya berjualan mulai menjual jenang yang sama di Pasar Kotagede. “Kalau di Kotagede bukanya pagi jam 06.00.”

Meski seringnya orang-orang membeli jenang untuk dibawa pulang, tetapi jenang jualannya juga bisa disantap di tempat. Jika dibawa pulang, jenang pincuk ini bisa tahan hingga malam hari. Bahkan, jika langsung disimpan di kulkas bisa lebih tahan sampai dua hari kemudian. Tipsnya adalah dengan tidak mencampur jenang dengan kuah santan terlebih dahulu supaya citarasa jenang tetap terjaga.

Bukan hanya kalangan pedagang pasar dan masyarakat biasa, jenang di Pasar Lempuyangan ini bahkan menjadi favorit beberapa tokoh besar di Jogja. Bu Gesti menyebutkan jenangnya menjadi kesukaan keluarga Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Saat pernikahan salah satu putri Sultan HB X yang lalu bahkan sempat memesan jenang darinya. “Dulu GKR Hemas juga sering beli setiap Jumat,” katanya.

Ia menambahkan pernah mendapat pesanan terbanyak ketika putri Mestro Seni Lukis Indonesia, Affandi yaitu Kartika Affandi berulang tahun yang ke-80. “Itu pesan banyak sekali sampai sembilan kuali besar.”

Dalam sehari, Bu Gesti bisa menjual sekitar 200-250 pincuk jenang. Jika berminat mencicipi kuliner ini untuk sarapan, disarankan untuk datang lebih awal, sebab jenang ini akan habis diburu pengunjung sekitar pukul 10.00 WIB, terutama di hari libur.