Paspor Singapura Terkuat, Akses ke 192 Negara, Indonesia Urutan 68

Jumali
Jumali Jum'at, 24 Juli 2026 10:17 WIB
Paspor Singapura Terkuat, Akses ke 192 Negara, Indonesia Urutan 68

Paspor Indonesia - ist/Dirjen Imigrasi

Harianjogja.com, JOGJA— Singapura kembali dinobatkan sebagai negara dengan paspor terkuat di dunia berdasarkan Henley Passport Index 2026. Paspor negara tersebut memberikan akses bebas visa atau visa saat kedatangan ke 192 destinasi di seluruh dunia, mempertahankan posisinya sebagai yang teratas dalam pemeringkatan global untuk kedua kalinya pada tahun ini.

Peringkat terbaru yang dirilis pada Juli 2026 ini menempatkan Singapura di posisi pertama, melanjutkan dominasinya dari edisi Januari 2026. Sementara itu, Indonesia berada di peringkat ke-68 bersama Kenya, dengan akses bebas visa atau visa saat kedatangan ke 70 destinasi. Posisi ini masih berada di bawah sejumlah negara Asia Tenggara lainnya, seperti Malaysia di peringkat ketujuh dengan akses ke 183 destinasi, Brunei di posisi ke-19 dengan 163 destinasi, dan Thailand di peringkat ke-63 dengan 77 destinasi.

Di posisi kedua, Uni Emirat Arab mencatat kenaikan paling signifikan dibandingkan edisi sebelumnya. Negara itu melonjak tiga peringkat dan kini berbagi posisi kedua bersama Jepang dan Korea Selatan dengan akses bebas visa ke 188 destinasi. Swedia menempati posisi ketiga dengan akses ke 187 destinasi.

Sementara itu, peringkat keempat dihuni oleh 11 negara Eropa, yakni Belgia, Denmark, Finlandia, Perancis, Jerman, Irlandia, Italia, Luksemburg, Belanda, Norwegia, dan Spanyol, yang masing-masing memiliki akses ke 186 destinasi. Austria, Yunani, Malta, Portugal, dan Swiss berada di posisi kelima dengan akses ke 185 destinasi. Adapun Hungaria, Polandia, dan Inggris menempati posisi keenam dengan akses ke 184 destinasi. Malaysia, Australia, Kanada, Selandia Baru, Republik Ceko, Latvia, Slovakia, dan Slovenia berbagi peringkat ketujuh dengan akses ke 183 destinasi.

Di sisi lain, Afghanistan kembali menjadi negara dengan paspor paling lemah di dunia. Warga negara tersebut hanya dapat mengakses 22 destinasi tanpa visa atau dengan visa saat kedatangan, menurun dibandingkan edisi Januari 2026 yang mencatat akses ke 24 destinasi. Kesenjangan mobilitas antara Singapura dan Afghanistan kini mencapai rekor 170 destinasi.

Henley Passport Index yang kini memasuki tahun ke-20 menunjukkan tren meningkatnya kebebasan bepergian secara global. Rata-rata paspor di dunia saat ini memberikan akses bebas visa ke 108 destinasi, meningkat tajam dibandingkan 58 destinasi ketika indeks pertama kali diterbitkan pada 2006.

Henley & Partners juga mencatat, perluasan mobilitas global terjadi meskipun tingkat perdamaian dunia terus menurun selama 12 tahun berturut-turut berdasarkan Global Peace Index yang diterbitkan Institute for Economics & Peace. Perbandingan kedua indeks tersebut menunjukkan adanya korelasi kuat antara tingkat perdamaian suatu negara dengan kekuatan paspornya selama dua dekade terakhir.

Singapura menempati peringkat kedelapan dalam Global Peace Index sekaligus berada di posisi pertama dalam Henley Passport Index. Jepang, Swiss, Irlandia, Austria, Portugal, Finlandia, Denmark, Selandia Baru, Kanada, Republik Ceko, dan Malaysia juga mencatat peringkat tinggi pada kedua indeks tersebut.

Sebaliknya, Afghanistan, Suriah, dan Yaman termasuk negara dengan tingkat perdamaian terendah sekaligus memiliki paspor paling lemah di dunia. Meskipun demikian, terdapat beberapa pengecualian. Israel, Amerika Serikat, Korea Selatan, Ukraina, dan Rusia memiliki paspor yang relatif kuat meskipun berada pada posisi lebih rendah dalam peringkat perdamaian global. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan paspor tidak selalu sejalan dengan tingkat perdamaian internal suatu negara, melainkan lebih mencerminkan hubungan diplomatik dan ekonomi dengan negara lain.

Pencipta Henley Passport Index sekaligus Chairman Henley & Partners, Christian H. Kaelin, mengatakan kekuatan paspor mencerminkan posisi geopolitik suatu negara di mata dunia.

"Data selama 20 tahun menunjukkan bahwa kekuatan paspor adalah salah satu ekspresi paling jelas dari modal geopolitik suatu negara. Hal itu mencerminkan jauh lebih dari sekadar perdamaian atau kemakmuran," kata Kaelin, dikutip dari laman resmi Henley & Partners, Jumat (24/7/2026).

"Paspor terkuat di dunia dimiliki oleh negara-negara yang diinginkan negara lain sebagai mitra – untuk perdagangan, investasi, keamanan, atau kerja sama. Mobilitas pada akhirnya merupakan ukuran nilai yang diberikan negara lain pada hubungan mereka dengan Anda," imbuh dia.

Henley Passport Index diterbitkan dua kali setiap tahun untuk mengukur jumlah destinasi yang dapat diakses pemegang paspor tanpa harus memperoleh visa sebelum keberangkatan. Indeks paspor tersebut disusun menggunakan data perjalanan resmi dari International Air Transport Association (IATA).

Pemeringkatan mencakup 199 paspor dan 227 destinasi di seluruh dunia, sehingga menjadi salah satu acuan global dalam mengukur kebebasan mobilitas internasional. Bagi Indonesia, posisi ke-68 ini menjadi tantangan untuk terus meningkatkan kerja sama bilateral dan diplomasi agar akses bebas visa bagi pemegang paspor Indonesia dapat semakin luas di masa depan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online