Sleep Tourism Makin Populer di Jepang, Hotel Tawarkan Retret Tidur

Jumali
Jumali Jum'at, 28 Agustus 2026 21:17 WIB
Sleep Tourism Makin Populer di Jepang, Hotel Tawarkan Retret Tidur

Ilustrasi. /Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Liburan tidak selalu harus diisi dengan jadwal padat dan berpindah dari satu destinasi ke destinasi lain. Di Jepang, wisatawan justru mulai mencari pengalaman berbeda dengan menjadikan tidur sebagai bagian utama dari perjalanan.

Tren tersebut dikenal sebagai sleep tourism atau wisata tidur. Sejumlah hotel di Jepang kini menawarkan paket menginap yang dirancang khusus untuk membantu tamu mendapatkan waktu istirahat yang lebih berkualitas.

Fenomena ini berkembang seiring meningkatnya perhatian wisatawan terhadap kesehatan dan kebugaran selama bepergian. Hotel tidak lagi hanya menawarkan kamar nyaman, tetapi juga pengalaman tidur yang dibuat lebih personal.

Hotel di Tokyo Tawarkan Retret Tidur

Salah satu hotel yang menangkap peluang tersebut adalah Hotel 1899 Tokyo di kawasan bisnis Shimbashi, Tokyo. Hotel ini menawarkan paket retret tidur bernama "Totono-ne".

Konsep tersebut memanfaatkan ritual minum teh sebagai bagian dari pengalaman relaksasi sebelum tidur. Tamu tidak sekadar mendapatkan kamar untuk bermalam, tetapi juga diajak mengenali kebiasaan tidur mereka.

Sebelum menikmati paket, tamu diminta menjawab sejumlah pertanyaan sederhana. Jawaban tersebut digunakan untuk membuat semacam "diagnosis tidur".

Berdasarkan hasil tersebut, hotel kemudian memberikan racikan teh yang disesuaikan dengan tipe tidur masing-masing tamu.

Salah satu racikan yang ditawarkan merupakan perpaduan chamomile dan teh bancha Mimasaka. Minuman tersebut menjadi bagian dari ritual untuk membantu tamu lebih rileks sebelum beristirahat.

Fasilitas di kamar juga disiapkan untuk mendukung pengalaman tersebut. Tamu mendapatkan bantal berkualitas tinggi, garam mandi, serta teh yang dapat dinikmati menjelang waktu tidur.

"Kami ingin mengoptimalkan pengalaman tidur, yang merupakan bagian signifikan dari masa menginap para tamu," ujar Yuiko Ogawa dari Hotel 1899 Tokyo, seperti dilansir Strait Times.

Wisatawan Mulai Mencari Liburan yang Lebih Menenangkan

Berkembangnya sleep tourism tidak terlepas dari persoalan kualitas tidur yang dirasakan banyak orang.

Kanae Usui, konsultan senior di JTB Tourism Research & Consulting, mengatakan tren tersebut didorong oleh tingginya jumlah orang yang merasa kualitas tidur mereka belum memuaskan.

Di sisi lain, wisatawan kini semakin tertarik pada perjalanan yang memberikan manfaat bagi kesehatan dan kebugaran.

Kondisi tersebut membuat tidur menjadi bagian dari pengalaman wisata yang mulai mendapat perhatian lebih besar.

Jika sebelumnya hotel berlomba menawarkan pemandangan, restoran, spa, atau fasilitas hiburan, kini kualitas istirahat juga menjadi nilai jual.

Konsep ini juga memberikan alternatif bagi wisatawan yang justru ingin menggunakan masa liburan untuk memulihkan energi setelah menjalani rutinitas sehari-hari.

Hotel Mewah Ikut Mengembangkan Sleep Tourism

Tren wisata tidur tidak hanya muncul di Hotel 1899 Tokyo. Hotel Chinzanso Tokyo di kawasan Bunkyo, Tokyo, juga telah menawarkan paket tidur selama sekitar dua tahun.

Hotel tersebut menggunakan perangkat yang dapat mengukur gelombang otak tamu ketika sedang tidur. Teknologi itu menjadi bagian dari pengalaman yang dirancang untuk membantu tamu memahami sekaligus meningkatkan kualitas istirahat mereka.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa sleep tourism mulai berkembang dari sekadar menyediakan tempat tidur yang nyaman menjadi pengalaman yang lebih terukur dan personal.

Tamu tidak hanya datang untuk bermalam, tetapi juga mendapatkan pengalaman yang berkaitan dengan pola dan kualitas tidur mereka.

Menjalar ke Kawasan Resor

Konsep wisata tidur juga mulai merambah hotel di kawasan resor.

Malibu Hotel di Riviera Zushi Marina, Prefektur Kanagawa, menawarkan paket bernama "Sleep Well Stay" sejak Februari.

Paket tersebut memiliki konsep yang lebih eksklusif karena hanya tersedia untuk satu kelompok tamu setiap hari.

Salah satu daya tarik utamanya adalah perlengkapan tidur yang dipersonalisasi. Hotel menyiapkan kasur berdasarkan kebutuhan masing-masing tamu.

Penyesuaian tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan informasi mengenai posisi tidur serta kebiasaan tidur tamu.

Dengan pendekatan tersebut, pengalaman menginap dibuat semakin personal. Setiap tamu tidak harus menggunakan perlengkapan tidur dengan pengaturan yang sama.

Saat Tidur Menjadi Tujuan Liburan

Perkembangan sleep tourism menunjukkan perubahan cara wisatawan memandang perjalanan.

Liburan kini tidak selalu identik dengan mengejar sebanyak mungkin destinasi. Sebagian wisatawan justru mencari kesempatan untuk memperlambat ritme, beristirahat, dan kembali menjalani aktivitas dengan kondisi tubuh yang lebih segar.

Jepang menjadi salah satu negara yang melihat peluang tersebut dengan menggabungkan perhotelan, tradisi teh, teknologi, hingga personalisasi perlengkapan tidur.

Bagi wisatawan, konsep ini menawarkan pengalaman yang cukup berbeda. Menginap bukan lagi sekadar aktivitas untuk mendapatkan tempat tidur setelah seharian berjalan-jalan, tetapi menjadi bagian utama dari perjalanan.

Tren tersebut juga memperlihatkan bagaimana industri pariwisata terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan wisatawan. Ketika semakin banyak orang mencari perjalanan yang berkaitan dengan kesehatan dan relaksasi, tidur pun berubah menjadi salah satu pengalaman yang memiliki nilai ekonomi.

Bukan tidak mungkin konsep serupa semakin banyak ditawarkan di berbagai destinasi wisata dunia, terutama ketika wisatawan mulai menempatkan kualitas istirahat sebagai salah satu pertimbangan penting dalam memilih hotel.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online