Mobil 4x4 Bekas Rp50 Jutaan, Ada Taft hingga Suzuki Jimny
Mobil 4x4 bekas mulai Rp50 jutaan masih tersedia. Simak pilihan Taft, Vitara, Jimny serta tips memeriksa mobil off-road sebelum membeli.
Temple of Literature atau Văn Miếu – Quốc Tử Giám, tempat favorit wisata yang dikunjungi di Hanoi, Vietnam. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Vietnam mulai mengubah cara membidik wisatawan mancanegara. Negara tersebut tidak lagi sekadar mengejar jumlah turis yang datang, tetapi ingin menarik wisatawan yang memiliki pengeluaran besar dan bersedia tinggal lebih lama. Salah satu strateginya adalah menyiapkan kebijakan visa preferensial bagi wisatawan yang dinilai memberikan kontribusi ekonomi tinggi terhadap sektor pariwisata.
Rencana tersebut menjadi bagian dari resolusi Politbiro Vietnam yang ditandatangani pada 22 Agustus 2026. Dalam kebijakan itu, pemerintah Vietnam mengarahkan pemberian kemudahan visa kepada kelompok wisatawan tertentu, terutama mereka yang memiliki tingkat belanja tinggi dan masa tinggal panjang.
Dilansir dari VNExpress, Jumat (28/8/2026), pemerintah Vietnam belum menetapkan secara rinci berapa nilai minimum pengeluaran atau berapa lama wisatawan harus tinggal untuk mendapatkan fasilitas tersebut.
Jenis kemudahan visa yang akan diberikan juga masih dalam tahap penyusunan. Demikian pula dengan waktu penerapannya.
Meski begitu, arah kebijakannya sudah cukup jelas. Vietnam ingin menjadikan visa sebagai salah satu instrumen untuk mendatangkan wisatawan yang memberikan dampak ekonomi lebih besar.
Visa Disesuaikan dengan Pasar Wisatawan
Selain visa preferensial, Vietnam berencana menerapkan kebijakan keimigrasian yang lebih fleksibel berdasarkan karakteristik masing-masing pasar wisatawan.
Pelonggaran aturan keluar-masuk negara akan diprioritaskan untuk pasar utama. Namun, pemerintah tetap menegaskan bahwa kebijakan tersebut harus memperhatikan kepentingan pertahanan dan keamanan nasional.
Vietnam juga akan memperluas skema pembebasan visa secara bilateral dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan kepentingan yang sama.
Di sisi lain, wisatawan internasional nantinya diwajibkan memiliki asuransi. Prosedur bagi wisatawan yang hendak mengunjungi kawasan perbatasan dan kepulauan juga akan dibuat lebih sederhana.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa Vietnam sedang berusaha membuat perjalanan wisata ke negaranya semakin fleksibel, tetapi sekaligus lebih terarah pada wisatawan yang dinilai mampu memberikan nilai ekonomi lebih besar.
Target 50 Juta Turis hingga 2030
Perubahan strategi tersebut tidak terlepas dari ambisi besar Vietnam di sektor pariwisata.
Vietnam menargetkan pariwisata mampu menyumbang 10 hingga 12 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) secara langsung pada 2030. Untuk mencapainya, pemerintah memasang target 45 juta hingga 50 juta kunjungan wisatawan mancanegara.
Selain itu, Vietnam menargetkan 160 juta perjalanan wisata domestik dan pendapatan pariwisata mencapai US$80 miliar hingga US$90 miliar.
Jika dikonversikan menggunakan asumsi kurs Rp17.729 per dolar AS, nilai tersebut setara sekitar Rp1.418,32 triliun hingga Rp1.595,61 triliun.
Target itu membuat kualitas kunjungan menjadi semakin penting. Wisatawan yang datang, menghabiskan lebih banyak uang, kemudian tinggal lebih lama dinilai memberikan manfaat lebih besar bagi hotel, restoran, pusat perbelanjaan, transportasi, hingga berbagai sektor ekonomi kreatif.
Hanoi hingga Phu Quoc Jadi Pusat Pariwisata
Vietnam juga telah menentukan sejumlah wilayah yang akan menjadi motor pengembangan pariwisata.
Hanoi, Ho Chi Minh City, dan Da Nang ditetapkan sebagai tiga pusat pertumbuhan utama. Sementara itu, Phu Quoc diarahkan menjadi kawasan resor pantai kelas atas yang mampu bersaing di tingkat internasional.
Pengembangan pariwisata juga mencakup rencana pembangunan 10 pusat pariwisata utama, 20 kawasan wisata nasional, serta 15 kelompok pariwisata yang memiliki merek kuat dan daya saing internasional.
Vietnam bahkan menargetkan ketersediaan sekitar 1,5 juta kamar akomodasi wisata.
Dari pengembangan tersebut, pemerintah memperkirakan sektor pariwisata dapat menciptakan sekitar 2,3 juta lapangan kerja langsung dan 3,5 juta lapangan kerja tidak langsung.
Untuk jangka panjang, Vietnam memasang target 70 juta kunjungan wisatawan internasional pada 2045. Pada tahun yang sama, kontribusi langsung pariwisata terhadap PDB diharapkan mencapai 14 hingga 15 persen.
Turis Asing Vietnam Tembus 21,2 Juta
Ambisi tersebut datang setelah Vietnam mencatat pertumbuhan signifikan dalam jumlah wisatawan asing.
Data Biro Statistik Nasional Vietnam menunjukkan jumlah wisatawan mancanegara yang datang sepanjang 2025 mencapai 21,2 juta orang. Angka tersebut naik 20,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Untuk 2026, Otoritas Pariwisata Nasional Vietnam menargetkan 25 juta wisatawan mancanegara.
Namun, pemerintah Vietnam melihat masih ada ruang untuk meningkatkan manfaat ekonomi dari setiap kunjungan.
Dalam Travel and Tourism Development Index 2024 yang diterbitkan World Economic Forum (WEF), Vietnam berada di peringkat ke-59 dari 119 negara dan ekonomi. Posisi tersebut turun dibandingkan peringkat ke-52 pada indeks 2021.
Karena itu, peningkatan jumlah turis bukan satu-satunya sasaran. Vietnam kini juga ingin meningkatkan belanja wisatawan selama berada di negara tersebut.
Belanja Wisatawan Jadi Perhatian
Untuk mendorong wisatawan mengeluarkan lebih banyak uang, Vietnam berencana memperluas skema pengembalian pajak pertambahan nilai atau VAT.
Fasilitas tersebut akan diarahkan ke pusat perbelanjaan, kawasan pariwisata utama, dan lokasi ritel yang memenuhi persyaratan.
Vietnam juga akan mengembangkan toko bebas bea, gerai outlet, pasar malam, serta kawasan pertokoan di berbagai destinasi unggulan.
Pusat outlet berstandar internasional akan dikembangkan di pusat pariwisata, kawasan wisata nasional, pintu perbatasan, bandara, hingga pelabuhan.
Dengan demikian, wisatawan diharapkan tidak hanya menghabiskan uang untuk akomodasi dan transportasi, tetapi juga memperbesar belanja untuk produk lokal dan pengalaman wisata.
Wisatawan Bakal Didorong Tinggal Lebih Lama
Strategi Vietnam tidak berhenti pada peningkatan belanja. Lama tinggal wisatawan juga menjadi perhatian.
Pemerintah berencana mengembangkan pusat pariwisata yang dapat beroperasi sepanjang hari. Fasilitasnya mencakup kompleks seni pertunjukan, tempat konser, kawasan festival, dan pusat hiburan terpadu.
Konsep yang menggabungkan pariwisata, budaya, olahraga, pusat perbelanjaan, dan layanan kesehatan juga akan dikembangkan di luar kawasan perkotaan.
Dari sisi konektivitas, Vietnam akan memperkuat hubungan antara pintu masuk internasional dengan pusat ekonomi dan kawasan wisata melalui jalan raya, penerbangan, kereta api, jalur air, pelabuhan kapal pesiar, marina, serta sistem digital.
Vietnam juga ingin memiliki pelabuhan yang mampu menerima kapal pesiar berukuran besar sehingga dapat masuk dalam rute utama pelayaran wisata Asia Pasifik.
Bahkan, pemerintah akan menguji mekanisme terkontrol untuk menarik wisatawan yang ingin tinggal lebih lama serta pekerja jarak jauh atau remote workers.
Promosi Tak Lagi Menyasar Semua Pasar
Perubahan strategi juga diterapkan dalam promosi pariwisata.
Vietnam akan lebih fokus memasarkan destinasi kepada negara atau kelompok wisatawan yang memiliki tingkat pengeluaran tinggi. Promosi tidak lagi dilakukan secara merata ke seluruh pasar.
Pemerintah juga berencana membangun jaringan duta pariwisata digital yang melibatkan influencer, kreator konten, dan pakar lokal di pasar sasaran.
Teknologi big data dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) akan dimanfaatkan untuk membaca permintaan wisatawan, memantau respons pengunjung, serta menyesuaikan produk wisata berdasarkan karakteristik pasar.
Vietnam juga menyiapkan basis data pariwisata nasional multibahasa yang dapat digunakan oleh media dan pemangku kepentingan pariwisata.
Dengan berbagai langkah tersebut, Vietnam sedang menggeser orientasi pariwisatanya dari sekadar "semakin banyak turis semakin baik" menjadi "semakin besar nilai ekonomi setiap turis semakin baik".
Kebijakan visa preferensial menjadi salah satu instrumen penting dalam strategi tersebut. Bagi wisatawan asing, termasuk dari kawasan Asia Tenggara, perubahan ini berpotensi membuat Vietnam semakin agresif menawarkan kemudahan perjalanan untuk menarik pengunjung yang dianggap memiliki daya belanja tinggi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Mobil 4x4 bekas mulai Rp50 jutaan masih tersedia. Simak pilihan Taft, Vitara, Jimny serta tips memeriksa mobil off-road sebelum membeli.
BPN DIY memantau kasus dugaan mafia tanah yang menimpa keluarga almarhum Komaridin di Sleman dan telah menyerahkan warkah tanah kepada Polda DIY.
The Jakmania memboikot laga Persija vs Brisbane Roar karena kenaikan harga tiket. Persija mengalihkan tiket jatah suporter ke penjualan umum.
Program Makan Bergizi Gratis atau MBG di DIY diperkuat edukasi gizi. Budi Waljiman mendorong SPPG tak hanya membagikan makanan, tetapi...
NNSiDE by Meliá Yogyakarta resmi memulai pembangunan ballroom baru melalui prosesi Groundbreaking Ceremony yang digelar pada Kamis (27/8).
Vietnam menyiapkan visa preferensial bagi wisatawan asing yang banyak belanja dan tinggal lebih lama. Simak target pariwisata Vietnam hingga 2030.