DPRD Bantul Ingatkan Pilur 2026 Bebas Politik Uang dan SARA
DPRD Bantul meminta Pilur Serentak 2026 berlangsung sehat tanpa politik uang, kampanye hitam, dan isu SARA. Sejumlah kalurahan masih berproses.
Pameran Harmoni di Tanggul Tirto menampilkan 30–40 foto untuk mengenalkan keragaman destinasi wisata Bantul di luar kawasan pantai. /Harian Jogja-Kiki Luqman.
Harianjogja.com, BANTUL— Pariwisata Bantul tidak hanya soal pantai dan aktivitas bermain air. Pesona perbukitan, hutan pinus, sungai, air terjun, desa wisata hingga sentra kerajinan diperkenalkan melalui pameran foto “Harmoni di Tanggul Tirto” yang digelar Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul.
Pameran tersebut menghadirkan 30–40 foto destinasi dan desa wisata Bantul. Karya-karya yang dipajang merupakan hasil terpilih dari lomba foto destinasi dan lomba foto desa wisata yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Bantul.
Kepala Seksi Promosi dan Pelayanan Informasi Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul, Markus Purnomo Adi, mengatakan pameran tersebut menjadi sarana untuk mengajak masyarakat melihat potensi Bantul melalui perspektif berbeda.
"Jadi foto yang kami pajang itu untuk melihat Bantul dari sisi yang lain, dari sudut yang lain," kata Markus, Jumat (4/9).
Tak Hanya Pantai
Menurut Markus, citra pariwisata Bantul selama ini masih kerap melekat dengan kawasan pesisir. Padahal, wilayah tersebut memiliki beragam pilihan destinasi yang menawarkan karakter berbeda.
Potensi tersebut antara lain keasrian perbukitan dan hutan pinus di kawasan Mangunan-Dlingo, wisata negeri di atas awan, hingga olahraga ekstrem sandboarding di Gumuk Pasir Parangkusumo.
Bantul juga memiliki daya tarik berupa sungai dan air terjun alami, berbagai kegiatan camping, konservasi penyu, serta sentra kerajinan gerabah dan batik.
Selain destinasi alam dan aktivitas wisata, desa-desa wisata unggulan turut menjadi bagian dari kekayaan pariwisata Bantul melalui berbagai produk lokal yang dimilikinya.
Puluhan Foto Dipajang
Keragaman destinasi tersebut kemudian diterjemahkan dalam bentuk karya fotografi yang dipamerkan kepada masyarakat.
Sebanyak 30–40 foto destinasi dan desa wisata Bantul dipajang dalam agenda tersebut. Seluruh karya merupakan foto terpilih dari dua ajang lomba yang digelar Dinas Pariwisata Bantul.
"Ya, itu foto lomba yang kami adakan, terus kan baru dua kali kami adakan pameran. Tahun kemarin sama tahun ini," ujarnya.
Pameran tahun ini menjadi kali kedua agenda serupa diselenggarakan Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul. Karya fotografi dari lomba tersebut tidak hanya menjadi dokumentasi, tetapi juga digunakan untuk memperkenalkan ragam destinasi kepada masyarakat.
Tanggul Tirto Jadi Lokasi Pameran
Pemilihan Pantai Tanggul Tirto sebagai lokasi pameran juga memiliki tujuan tersendiri. Dinas Pariwisata Bantul memanfaatkan kegiatan tersebut untuk sekaligus memperkenalkan objek wisata pantai yang relatif baru berkembang kepada publik.
Tanggul Tirto dinilai memiliki perjalanan pengelolaan yang berbeda dibandingkan sejumlah pantai yang lebih dahulu berkembang di Bantul, baik dari sisi penamaan maupun pola pengelolaannya.
"Dulu namanya Indokor, tetapi kan belum dikelola. Belum ada pengelola seperti ini. Nah, kemudian beberapa masyarakat yang semula di Kuwaru bergeser ke Tanggul Tirto itu untuk mengembangkan sampai seperti ini," terangnya.
Perubahan tersebut menjadi bagian dari perkembangan Pantai Tanggul Tirto hingga dikenal dan dikelola seperti saat ini.
Dorong Wisatawan Melihat Destinasi Lebih Beragam
Melalui pameran “Harmoni di Tanggul Tirto”, Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul berharap masyarakat maupun wisatawan memiliki pandangan yang lebih luas terhadap pilihan destinasi di daerah tersebut.
Pengenalan melalui fotografi diharapkan dapat memperkuat kesadaran bahwa pengalaman wisata di Bantul tidak hanya berpusat pada kawasan pantai. Beragam potensi alam, aktivitas wisata, produk lokal, kerajinan, konservasi, serta desa wisata menjadi bagian dari kekayaan pariwisata Bantul.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Bantul meminta Pilur Serentak 2026 berlangsung sehat tanpa politik uang, kampanye hitam, dan isu SARA. Sejumlah kalurahan masih berproses.
Desil DTSEN di Bantul tidak bisa langsung diubah. Dinsos menyebut warga harus menunggu hingga tiga bulan setelah mengajukan koreksi data.
Erupsi Anak Krakatau pada 5 September 2026 diduga menyebabkan dentuman terdengar hingga Bandung Raya, Banten, dan Lampung.
Aturan operasional Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih segera terbit. Ferry Juliantono menargetkan Perpres keluar pekan depan.
PVMBG memastikan erupsi Gunung Anak Krakatau tak berpotensi memicu tsunami. Masyarakat diminta tetap tenang dan waspada.
DPRD DIY menyoroti anggaran logistik bencana BPBD yang hanya Rp53 juta dan mendorong tambahan dana untuk penanganan bencana.