Makanan Lokal Mulai Langka, Kuliner DIY Terancam Punah

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Minggu, 04 Oktober 2026 05:57 WIB
Makanan Lokal Mulai Langka, Kuliner DIY Terancam Punah

Ilustrasi satai klathak./Instagram @sateklathakpakpong3

Harianjogja.com, JOGJA—Sejumlah makanan lokal di berbagai daerah di Indonesia mulai langka dan bahkan disebut berpotensi punah. Kementerian Pariwisata mendorong pelestarian kuliner tradisional dengan kembali mengenalkannya melalui industri pariwisata dan restoran.

Plt. Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata Rizky Handayani mengatakan pemetaan warisan budaya tak benda yang dihimpun Kementerian Kebudayaan mencatat sekitar 2.000 warisan budaya di Indonesia. Sebanyak 207 di antaranya merupakan makanan.

Dari pemetaan tersebut, kata Rizky, ditemukan sejumlah makanan lokal yang mulai sulit ditemukan di berbagai daerah. Bahkan, sekitar 45% makanan di setiap lokasi atau destinasi disebut berpotensi punah apabila tidak segera dilestarikan.

"Bagaimana makanan-makanan ini perlu dipreserve, dinaikkan kembali," katanya Jumat (2/10/2026).

Chef Punya Peran Kenalkan Kuliner Tradisional

Menurut Rizky, upaya menghidupkan kembali makanan tradisional dapat melibatkan chef generasi saat ini. Kreativitas para chef dinilai dapat menjadi salah satu jalan untuk membuat kuliner lokal kembali dikenal dan diterima masyarakat.

Rizky mencontohkan Chef Nando yang turut melakukan upaya pelestarian kuliner Indonesia. Selain melalui industri kuliner, pemerintah daerah juga dapat mengangkat makanan tradisional sebagai bagian dari atraksi wisata.

Dengan cara tersebut, makanan lokal tidak hanya dipertahankan sebagai bagian dari warisan budaya. Kuliner tradisional juga dapat kembali hadir dalam aktivitas pariwisata dan industri restoran.

Kuliner Lama di DIY Mulai Tak Populer

Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY GKR Bendara mengatakan persoalan serupa juga terdapat di DIY. Sejumlah makanan yang memiliki nilai sejarah kini sudah tidak populer di tengah masyarakat.

Dia menyebut sego golong dan sego gilik sebagai contoh makanan yang dahulu disajikan dalam acara tertentu. Kuliner tersebut dinilai dapat diperkenalkan kembali kepada industri kuliner, termasuk restoran.

Dengan masuk kembali ke industri kuliner, makanan tersebut tidak hanya berhenti sebagai catatan sejarah. Wisatawan juga dapat mengenal sekaligus menikmati kuliner yang memiliki kaitan dengan tradisi di DIY.

"Ini yang bisa kita preserve menjadi narasinya, kita bisa reintroduce kepada industri untuk mulai memperkenalkannya menjadi bagian dari restoran," ujarnya.

Gudeg DIY Terkendala Bahan Baku Nangka

Persoalan pelestarian kuliner tidak hanya berkaitan dengan popularitas makanan. Ketersediaan bahan baku juga menjadi tantangan, termasuk untuk gudeg yang selama ini dikenal sebagai salah satu kuliner khas DIY.

GKR Bendara mengatakan ketersediaan nangka di DIY masih terbatas. Kondisi tersebut membuat sebagian bahan baku gudeg harus didatangkan dari luar daerah.

Di Gunungkidul, lanjut dia, masyarakat bahkan mulai menggunakan batang pisang sebagai bahan pengganti nangka untuk membuat gudeg.

Kondisi itu menunjukkan bahwa keberlanjutan makanan tradisional juga berkaitan dengan ketersediaan bahan yang digunakan untuk membuatnya.

Dawet Sambel Kulon Progo Butuh Regenerasi

Kuliner lain yang disebut perlu kembali diperkenalkan adalah dawet sambel dari Kulon Progo. Makanan tersebut telah ditetapkan sebagai warisan budaya, tetapi menghadapi persoalan regenerasi pembuat.

Dawet sambel memiliki perpaduan dawet dengan sambal pecel dan tahu. Kuliner tersebut dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bagian dari paket wisata desa dan desa wisata.

Pengembangan melalui pariwisata diharapkan membuat kuliner tersebut kembali dikenal oleh masyarakat, terutama generasi sekarang. Pada saat yang sama, keberadaan industri dan aktivitas wisata dapat membuka dampak ekonomi dari keberlanjutan kuliner lokal.

"Harapannya lebih banyak orang mengetahui tentang dawet sambel sehingga generasi-generasi sekarang bisa mencoba dan mendapat dampak ekonomi dari dawet sambal tersebut," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online