Mengintip Wisata Arkeologi di Kepulauan Seribu

Benteng di Kepulauan Seribu - JIBI/Bisnis Indonesia/Eva Rianti
31 Desember 2018 08:35 WIB Eva Rianti Wisata Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Salah satu destinasi wisata yang menarik pada akhir pekan adalah Kepulauan Seribu. Letaknya yang sangat dekat dengan daratan Jakarta memudahkan wisatawan untuk menjangkaunya. Nuansa romansa laut beserta banyak situs sejarah di dalamnya menjadi daya tarik yang kuat.

Kepulauan Seribu memang menjadi tujuan wisata populer di ibu kota, bahkan sejak 2016 dicanangkan sebagai salah satu destinasi wisata prioritas di Indonesia. Sejumlah wisatawan, tidak hanya dari Jakarta tetapi juga dari wilayah Indonesia lainnya, bahkan turis asing turut menyambangi ikon wisata Jakarta tersebut.

Kepulauan yang terletak sekitar 45 kilometer di sebelah utara Jakarta dengan jumlah 110 pulau ini menawarkan pengalaman yang beragam bagi para pengunjung. Salah satu daya tarik dari beberapa pulau adalah cerita sejarah zaman Belanda. Misalnya, Pulau Onrust dan Pulau Kelor.

Sesampai di Pulau Onrust yang memakan waktu 1 jam dengan menggunakan kapal layar atau speed boat, pengunjung langsung merasakan romansa zaman dulu. Di sejumlah titik di pulau tersebut, nuansa Belanda begitu kental lewat beberapa kincir angin yang berdiri kokoh.

Terlihat banyak puing atau peninggalan arkeologi zaman Belanda di seantero pulau. Terdapat pula museum Pulau Onrust yang menyimpan bukti-bukti sejarah pada 1600—awal 1900-an. Di museum tersebut dipamerkan semua koleksi penemuan barang-barang atau perabotan yang digunakan zaman Belanda. Di antaranya piring, mangkuk, gerabah, alat perokok, kloset, dan sepatu besi.

Menurut penutur sejarah di pulau tersebut, pulau yang dahulu disebut sebagai Pulau Kapal ini awal mula dibangun pada 1615 oleh orang-orang VOC. Fungsinya sebagai penampungan rempah-rempah dari Batavia menuju ke Belanda. Selain sebagai lokasi penampungan rempah-rempah, pada 1980-an Onrust juga menjadi tempat pangkalan militer dan galangan kapal, bahkan pernah menjadi tempat galangan kapal terbaik di dunia. Tidak hanya itu, pada 1911—1933, Pulau Onrust juga sempat difungsikan sebagai tempat karantina jamaah haji.

Nuansa Mistis

Beranjak keluar dari museum, sekelumit cerita mistis di Pulau ini cukup kental. Tak jauh dari museum, terdapat sebuah bangunan yang dahulu diperuntukan sebagai rumah tahanan para pejuang atau pahlawan Indonesia. Mereka ditahan dan difungsikan untuk membangun Pulau Onrust. Satu ruang penjara yang berukuran sangat kecil berisikan 120 tahanan.

Di gedung tersebut terdapat lingkaran berwarna putih yang bentuknya seperti kolam digunakan sebagai tempat mengadu para tahanan sampai ada yang mati. Ini menjadi cara bagi VOC untuk mengurangi tahanan dan mengurangi jatah makan.

Nuansa mistis lainnya juga dirasakan ketika mengunjungi pemakaman orang Belanda yang letaknya tak jauh dari rumah tahanan. Hingga saat ini, terdapat sekitar 20—30 nisan orang Belanda yang berpengaruh di zaman itu yang dikuburkan di lokasi tersebut. Dahulu mungkin lebih banyak dari sekarang lantaran sebagian tanah telah tersapu oleh air laut. Konon, kawasan ini dinilai menyeramkan bagi sejumlah wisatawan.

Beralih ke pulau lain, yakni Pulau Kelor, terletak sekitar 15 menit menggunakan kapal layar dari Pulau Onrust. Kendati sangat kecil, pulau ini juga menjadi saksi sejarah. Tampak dari kejauhan, pengunjung akan melihat sebuah bangunan yang terbuat dari tumpukan batu merah bernama Benteng Martello.

Menurut papan informasi di lokasi, tinggi bangunan tersebut 9 meter dari permukaan laut, diameter luar benteng 14 meter dengan tebal dinding 2,5 meter. Bahan pembuatan benteng adalah batu merah berukuran 27x10x5 sentimeter. Di dinding sekeliling benteng Martello terdapat delapan buah jendela. Masing-masing berukuran 2 meter dengan lebar 2,2 meter.

Letak jendela sekitar 3,5 meter di atas permukaan tanah. Di antara jendela tersebut terdapat lubang sempit yang dahulunya berfungsi untuk menembak ke luar. Di bawah empat jendela yang menghadap ke arah Utara dan Barat terhadap lubang berbentuk setengah lingkaran. Fungsinya sebagai tempat untuk meletakkan laras meriam. Secara keseluruhan, fungsi benteng yang dibangun pada 1851—1853 tersebut sebagai benteng pengintai dan pusat militer VOC.

Pulau ini juga tak luput dari cerita mistis. Dalam bahasa Belanda, pulau ini dinamakan Pulau Pemakaman. Konon, setelah Perang Dunia II, sekitar 3.000 orang Jerman yang mati dibuang di pulau tersebut.

Para wisatawan yang berkunjung ke pulau tersebut umumnya menuju ke benteng atau puing yang tersebar di pesisir pantai untuk berfoto-foto. Gedung Martello yang terkesan classy itu memang sangat menarik untuk dijadikan objek memotret.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia