KULINER JOGJA: Berburu Hidangan Malam di Pasar Jejeran Jejeran

Pedagang makanan di Pasar Jejeran, Bantul - Harian Jogja/Rheisnayu Cyntara
16 Januari 2019 10:35 WIB Rheisnayu Cyntara Wisata Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Tak seperti lazimnya pasar di DIY yang dikenal karena nama hari pasarannya seperti pasar legi, pasar pahing, pasar pon,  Pasar Jejeran lebih dikenal karena kuliner malamnya, Sate Klatak Pak Bari.

Pasar yang terletak di Wonokromo, Pleret, Bantul, ini kian ramai seusai menjadi lokasi syuting film Ada Apa dengan Cinta (AADC) 2.  Bahkan saat sedang demam AADC 2, beberapa penyedia paket tur di Jogja memasukkan warung Sate Klatak Pak Bari sebagai salah satu destinasi wisata. Warung sate klatak yang buka mulai pukul 18.30 WIB ini selalu dipenuhi pembeli.

Meski banyak disinggahi wisatawan luar kota, artis, seniman, hingga pejabat warung ini tetap bersahaja. Tidak ada nuansa mewah ala warung sate ekslusif. Warung yang terletak di bagian tengah pasar ini mengambil tempat yang sama dengan lokasi berjualan pedagang kala pagi. Di antara lemari-lemari kayu pedagang dan remang lampu yang dipasang, para pembeli harus sabar menunggu pesanan datang. Pembeli bisa duduk di kursi atau lesehan di los-los pasar hingga berjam-jam jika pesanan sedang membeludak.

Pemilik warung, Subari, mengakui berjualan di Pasar Jejeran sudah dilakukan neneknya, Mbah Ambyah, pendiri pertama warung sate ini sejak 1945. Menurutnya sebelum kemerdekaan, Mbah Ambyah sudah berjualan sate dengan berjalan kaki memikul kerombong dan berkeliling. Barulah pascakemerdekaan, Mbah Ambyah menetap di bawah pohon waru yang sekarang menjadi bagian dari Pasar Jejeran.

Usaha sate lantas diteruskan Wakidi, ayah Subari. Kala itu, Subari menyebut ayahnya menyewa ruko. Namun selalu berpindah-pindah karena terkadang tidak diizinkan memperpanjang sewa. "Akhirnya kembali lagi ke sini [bawah pohon Waru] tapi akhirnya sewa los karena sudah jadi pasar," katanya akhir pekan lalu.

Sate klatak berbeda dengan jenis sate lainnya. Daging kambing hanya dibumbui garam dan dibakar dengan jeruji roda. Namun keunikan inilah yang membuat para pembeli berbondong-bondong datang.

Subari mengatakan ada beberapa resep untuk menghasilkan cita rasa sate klatak yang gurih dan khas. Salah satunya tidak sembarangan memilih daging kambing. Harus daging kambing muda antara usia delapan sampai sembilan bulan dan harus gemuk. Menurutnya, kambing gemuk tidak banyak berotot, sehingga dagingnya empuk. Penggunaan jeruji untuk membakar sate bukan asal sensasi namun agar daging matang merata dan empuk. "Karena saat dibakar, jeruji dari besi menjadi pengantar panas. Jadi bagian dalam juga ikut matang," ujarnya belum lama ini.

Seporsi sate klatak berisi dua tusuk disuguhkan dengan sepiring kuah gulai. Untuk satu porsi sate klatak lengkap, Subari membanderol Rp20.000. Selain sate klatak, ia juga menyajikan beberapa menu lain, seperti sate goreng, tongseng, kicik, nasi goreng, nasi godog, dan menu-menu lainnya.