Menikmati Angin Musim Gugur di Bern

Bern, Swiss - JIBI/Bisnis Indonesia
31 Januari 2019 10:35 WIB Anggi Oktarinda Wisata Share :

Harianjogja.com, BERN-Angin musim gugur di Bern menghembuskan suhu 10°C pagi itu ketika saya bersiap-siap menjelajah kota yang berusia lebih dari 800 tahun ini.

Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Swiss, untuk menghadiri acara Fact Finding on Swiss Fintech yang digelar oleh Kedutaan Besar RI di Bern selama sepekan.

Bern adalah destinasi pertama saya. Sengaja saya tiba lebih dulu agar dapat mengeksplorasi Ibu Kota Swiss ini.

Bagi umumnya masyarakat di Indonesia, Bern mungkin kalah populer dibandingkan dengan Zurich atau Jenewa. Namun, Bern tidak kalah penting. Kota ini tempat berdirinya pusat pemerintahan, pusat administrasi serta lokasi kantor-kantor kedutaan besar negara-negara dunia di Swiss.

Bern sudah menjadi Ibu Kota Swiss sejak 1848. Lokasinya yang terletak tepat di jantung Swiss, membuat Bern menjadi titik awal yang paling pas untuk menjelajah negara di Eropa Tengah yang berbatasan dengan Jerman, Perancis, Italia, Liechtenstein, dan Austria itu.

Rekam jejak Bern merentang sejak 1191, ketika kota ini didirikan oleh Duke Berchtold V. von Zähringen. Nama Bern berasal dari kata bärren atau beruang, binatang pertama yang menjadi buruan Duke saat membangun kota ini. Beruang juga yang menjadi lambang Kanton Bern hingga saat ini.

Pada akhir zaman pertengahan, Bern sempat menjadi kota terbesar dan paling berpengaruh di kawasan Alpen utara. Kota Bern sempat terbakar hampir seluruhnya pada 1405. Namun segera dibangun kembali. Dan kini, Bern terdaftar menjadi salah satu situs bersejarah dunia atau UNESCO World Heritage Site List.

Bukan rahasia lagi jika segala sesuatu di Swiss, termasuk Bern, serba mahal. Begitu pula transportasi. Namun, bagi turis yang menginap di hotel-hotel manapun di Bern, akan mendapatkan kartu serba guna yang dapat dimanfaatkan sebagai tiket gratis menggunakan setiap moda transportasi dalam kota. Itu termasuk bus, trem, dan kereta api.

Maka berbekal kartu itu, saya pun berkeliling menjelajah kota. Titik pertama yang saya kunjungi adalah pusat informasi turis. Letaknya tepat di jantung Kota Tua, di ujung salah satu pintu keluar stasiun Bern Bahnhof (stasiun pusat kereta api), dan tak jauh dari stasiun pusat trem. Di sini, kita akan mendapatkan segala informasi yang kita butuhkan tentang Bern. Para staf di sini juga sangat membantu dan sabar melayani kebutuhan para turis.

Bagi saya, Bern merupakan paket lengkap untuk menikmati atraksi wisata sejarah, pengalaman, seni dan alam. Berjalan kaki seharian di Bern tidak terasa melelahkan. Sebab, kita akan disuguhi dengan pemandangan kota yang teramat cantik dan rupawan. Lanskap Bern sendiri sudah amat memesona sekaligus unik karena terletak tepat di jalur putaran Sungai Aare.

Memulai perjalanan dari Kota Tua, mata kita puas menikmati pesona arsitektur dari bangunan-bangunan tua khas zaman pertengahan. Salah satunya adalah Zytglogge, menara jam yang pernah menjadi gerbang barat Kota Bern pada era lampau dan menjadi penanda teknologi mekanik dari abad ke 15. Kini, Zytglogge menjadi landmark kota.

Saat malam, gedung parlemen di pusat Kota Tua juga menjadi tempat pertunjukan cahaya (semacam layar tancap)

Jalanan Kota Tua Bern tidak terlalu luas dan tidak ada macet sama sekali. Di sini juga kita akan menemukan banyak kafe lokal yang nyaman, restoran-restoran dengan menu andalan khas yakni keju dan cokelat panas, gerai-gerai jam tangan dan souvenir, galeri seni, juga beragam museum.

Salah satu yang menarik tentu saja Museum Einstein. Ternyata Einstein pernah tinggal di Bern, yaitu tepat ketika fisikawan ini menemukan teori relativitas yang terkenal hingga saat ini. Maka tidak heran jika di Bern, kita dapat menemukan banyak monumen Einstein, termasuk Museum Einstein, patung bangku Einstein, hingga kafe Einstein.

Tidak jauh dari Museum Einstein, kita akan menemukan jembatan tua yang menyambung ke jantung Kota Tua. Kita dapat menyusuri jalan kecil yang menurun di sudut jembatan, dan akan ‘mendarat’ tepat di salah satu sisi Sungai Aare.

Sisi sungai ini menjadi salah satu arena favorit warga lokal untuk berkegiatan sore sambil menikmati udara bersih dan kaya oksigen yang menguar dari pepohonan aneka warna di hutan kecil di sepanjang sisi sungai. Mulai dari sekelompok kecil pesepeda, para pelari, sepasang ayah dan anak, keluarga kecil, seorang ibu dan kereta bayinya, hingga pasangan opa dan oma.

Berjalan ke utara menyusuri sisi Sungai Aare ini, kita akan tiba di Baren Park atau Bear Park. Di situ, kita akan bertemu dengan beruang cokelat, yang menjadi lambang Kanton Bern sejak 1224.

Jika punya waktu lebih, tidak ada salahnya mampir ke Gurten Park. Berlokasi di pinggiran Bern, Gurten merupakan bukit terdekat sekaligus puncak tertinggi untuk melihat seluruh hamparan Kanton Bern dari atas.

Untuk naik ke puncaknya, pengunjung bisa menggunakan dua rangkaian kereta nirawak dengan warna semarah di stasiun Gurtenbahn. Tarifnya 11,5 CHF per orang, pergi pulang, yakni naik ke puncak, lalu turun kembali. Namun, berbekal kartu serbaguna dari hotel tempat menginap, biaya inipun tidak dipungut alias cuma-cuma.

Namun, ada satu tempat yang tidak boleh dilewatkan jika kita sempat mampir ke Bern. Yakni Rosengarten atau kebun mawar. Rosengarten merupakan destinasi favorit wisatawan yang berkunjung ke Bern. Di puncaknya terdapat hamparan rerumputan, taman bermain dan restoran terbuka tempat para turis menikmati suasana ditemani kepulan cokelat hangat atau semerbak kopi panas yang tak bercacat.

Terletak di lokasi yang cukup tinggi, tetapi tidak terlalu jauh dari pusat kota, Rosengarten adalah tempat yang paling sempurna untuk menikmati lanskap kota tua Bern dari atas, baik di kala siang, senja, maupun malam.

Duduk di puncak Rosengarten, sambil memandang matahari perlahan tenggelam di atas lanskap kota tua Bern yang berlatarkan pegunungan, pada pertengahan musim gugur kali itu, rasanya seperti magis. Tak dapat diungkapkan dengan kata-kata, hanya mampu disampaikan lewat rasa.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia