Ini Koleksi Vredeburg yang Dipamerkan di Wisata Wayang Imogiri

Petugas menunjukkan salah satu koleksi yang dipamerkan di Wisata Wayang, Wukirsari, Imogiri, Bantul (9/7/2019). - Ist/MBVY.
09 Juli 2019 22:07 WIB Sunartono Wisata Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta melakukan terobosan dengan menggelar pameran keliling bersamaan dengan kegiatan merti dusun untuk menjangkau masyarakat pedesaan lebih luas. Pameran bertajuk Merawat Kebhinekaan Memperkokoh Nasionalisme digelar bersamaan  Merti Dusun Nogosari, Wukirsari, Imogiri, Bantul pada Selasa (9/7/2019) hingga Sabtu (13/7/2019).

Dalam pameran itu setiap harinya diramaikan dengan berbagai pentas seni dan hiburan, beragam stan kuliner dan UMKM serta sejumlah komunitas. Kemudian ada pemutaran film, wayang kulit, dongeng anak hingga workshop arkeologi. Pameran dibuka dari pukul 08.00 WIB hingga 21.00 WIB terbuka untuk masyarakat umum.

Kepala Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta Suharja menjelaskan pihaknya menggelar kerja sama dengan desa di Bantul dalam kaitan pelaksanaan pameran bersamaan dengan merti dusun. Mengingat merti dusun menjadi salah satu unggulan kegiatan desa yang mendatangkan banyak masyarakat. Kerja sama itu sepenuhnya tidak mengurangi esensi kegiatan baik dari sisi dusun selaku penyelenggara merti dusun maupun Vredeburg yang menyajikan pameran.

“Kami berusaha mendekati masyarakat dengan pameran keliling, ini yang kelima kalinya. Kami memilih di Nogosari, Wukirsari ini karena memiliki potensi budaya, selain itu Imogiri ada sejarahnya juga kaitan dengan sejarah perjuangan bangsa,” terang dia dalam rilisnya.

Ia mengatakan dalam kegiatan itu berbagai koleksi Vredeburg yang berkaitan dengan perjuangan bangsa di wilayah Imogiri, Bantul dipamerkan di Joglo Wisata Wayang, Desa Wukirsari. Sehingga respons masyarakat setempat sangat antusias karena ada kedekatan emosional dengan berbagai koleksi tersebut.

“Terutama anak muda ya, kalau koleksi ini tidak kami pamerkan langsung ya mereka tidak tahu. Koleksi yang kami bawa sebagian besar berkaitan dengan perjuangan perebutan kemerdekaan di wilayah Bantul dan beberapa wilayah lain,” ujarnya.

Suharja berharap dengan masyarakat terutama anak muda memahami koleksi dan latar belakang di sejarahnya, bisa meningkatkan karakter berkebangsaan mereka sejak dini. “Sehingga memiliki wawasan kebangsaan, identitas jati diri dan tidak mudah terpengaruh budaya luar yang ekspansinya sangat kuat,” katanya.

Beberapa koleksi yang dipamerkan berikut latar belakang sejarahnya antara lain :

1. Gogok dan Poci

Gogok dan poci ini adalah milik Bapak Marito yang rumahnya di Dusun Srunggo, Selopamioro, Imogiri, Bantul yang digunakan untuk markas Letkol Zulkifli Lubis (Wakil Kepala Staf Angkatan Darat), pemegang pucuk pimpinan perjuangan di Imogiri, Bantul pada 1948-1949. Benda ini dipakai oleh pasukan Zulkifli Lubis. Poci untuk tempat minum, sedangkan Gogok yang fungsi aslinya sebagai tempat minyak namun digunakan untuk menyimpan candu, sebuah komoditi dagang yang hasilnya untuk biaya perjuangan. Pemanfaatan candu sebagai modal perjuangan masa revolusi karena desakan kebutuhan dana pejuang untuk menghadapi Belanda. Sebagai jalan keluar mereka menjual candu kemudian hasilnya ditukar dengan senjata dan amunisi.

 2. Lumpang

Merupakan lumpang yang sebelumnya digunakan sebagai dapur umum di rumah Sukijan Noto Admojo di wilayah Bantul yang saat itu digunakan sebagai markas perjuangan masa revolusi fisik 1948-1949. Lumpang ini digunakan untuk menumbuk beras.

 3. Peralatan Minum

Benda ini milik Broto Sudarmo yang rumahnya dijadikan sebagai markas gerilya Kompi Widodo. Pada saat agresi militer Belanda II, TNI melakukan perlawanan gerilya keluar kota. Hasil konsolidasi daerah Bantul dan sekitarnya masuk dalam Sub Wehkreise 102 (SWK 102) di pimpin Kapten Sardjono, Kompi Widodo berada di dalamnya. Dalam persiapan serangan umum dan perjuangan gerilya, Kompi Widodo pernah bermarkas di rumah Broto Sudarmo di Jetis, Bajang, Gilangharjo, Pandak, Bantul. Di markas tersebut Kompi Widodo menyusun strategi militernya untuk menghadapi Belanda.

 4. Tas Ransel

Milik Suharto warga Purworejo, Wonolelo, Pleret, Bantul yang digunakan untuk wadah perbekalan TNI seperti peluru, amunisi, granat dan lain-lain ketika masa revolusi fisik 1948-1949.

 5. Lampu Gantung

Milik Mertanggala yang tinggal di Kajor, Selopamioro, Imogiri, Bantul. Pada waktu itu rumah digunakan sebagai tempat pembuatan ORI (Oeang Republik Indonesia), khususnya dalam pembuatan nomor seri. Lampu ini berfungsi sebagai alat penerangan pembuatan ORI pada masa 1946-1949. ORI adalah mata uang pertama setelah Indonesia merdeka yang secara resmi beredar pada 30 Oktober 1946.