10 Negara Bakal Ramaikan Festival Layang-Layang di Pantai Parangkusumo

Para pengurus Perkumpulan Pegiat Layang-Layang Nusantara Talikama berfoto bersama saat audiensi di Kantor Harian Jogja, Jumat (19/7/2019). - Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati
19 Juli 2019 21:27 WIB Bernadheta Dian Saraswati Wisata Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Perkumpulan Pegiat Layang-Layang Nusantara Talikama dipercaya Dinas Pariwisata DIY untuk kembali menyelenggarakan festival layang-layang bertajuk The 7th Annual Nusantara International Lite Festival 2019. Kegiatan tahunan tersebut akan dilaksanakan pada 25-28 Juli 2019 di Pantai Parangkusumo, Bantul.

Kegiatan tersebut akan diikuti peserta dari dalam negeri sebanyak 59 klub, seperti dari Tanjung Pinang, Cilacap, sampai kalimantan Selatan. Sementara peserta internasional diikuti 40 pelayang dari 10 negara.

Ketua Umum Talikama, Herdjuno Sukotioadi menjelaskan sebenarnya Pemerintah Provinsi DIY tidak menetapkan festival layang-layang sebagai kegiatan internasional. Namun karena pelayang Indonesia memiliki banyak kolega dari luar negeri, mereka akhirnya ingin ikut terlibat. “Mereka [pelayang luar negeri] senang datang ke Jogja," katanya saat melakukan audiensi di Kantor Harian Jogja, Jumat (19/7/2019).

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Talikama, Anang Sujiyanto menjelaskan festival layang-layang ini juga menjadi ajang pertemuan antara pembeli dan penjual layang-layang. Berkaca dari festival tahun sebelumnya, pelayang dari Perancis tertarik membeli layang-layang buatan pengrajin Tulungagung. “Sayangnya, untuk proses jual beli, kita masih terkendala pengiriman,” katanya.

Festival layang-layang akan diisi dengan lomba layang-layang nasional berupa lomba layang-layang tradisional bertema batik Nusantara, lomba layang-layang dua dimensi, tiga dimensi, pertandingan layang-layang Rokkaku atau layang-layang tradisional Jepang), dan lomba layang-layang train naga.

Ada pula lomba umbul-umbul dari peserta nasional bertema batik, juga lomba foto Instagram untuk peserta dan juga umum, bazaar dan kuliner, hiburan musik dan band nasional, serta tarian lokal.

Salah satu pelayang asal Jogja, R. Setyo Aji mengatakan sebenarnya Indonesia memiliki potensi layang-layang yang sangat menarik, salah satunya dari lokasi penerbangan yang ideal yaitu di wilayah pantai selatan. Sayangnya, minat masyarakat untuk bermain layang-layang masih sangat kurang, begitu juga keinginan untuk memahami teknik pembuatan layang-layang.

“Inginnya ada pusat studi layang-layang di Jogja. Ini bakal menjadi yang pertama di dunia,” katanya.