Top 7 News Harianjogja.com Rabu 13 September 2023
Selamat pagi, semangat menjalani hari. Izin kirim kabar dari Bumi Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat, heritage-nya Indonesia, rumahnya start up.
Para pengurus Perkumpulan Pegiat Layang-Layang Nusantara Talikama berfoto bersama saat audiensi di Kantor Harian Jogja, Jumat (19/7/2019)./Harian Jogja-Bernadheta Dian Saraswati
Harianjogja.com, JOGJA--Perkumpulan Pegiat Layang-Layang Nusantara Talikama dipercaya Dinas Pariwisata DIY untuk kembali menyelenggarakan festival layang-layang bertajuk The 7th Annual Nusantara International Lite Festival 2019. Kegiatan tahunan tersebut akan dilaksanakan pada 25-28 Juli 2019 di Pantai Parangkusumo, Bantul.
Kegiatan tersebut akan diikuti peserta dari dalam negeri sebanyak 59 klub, seperti dari Tanjung Pinang, Cilacap, sampai kalimantan Selatan. Sementara peserta internasional diikuti 40 pelayang dari 10 negara.
Ketua Umum Talikama, Herdjuno Sukotioadi menjelaskan sebenarnya Pemerintah Provinsi DIY tidak menetapkan festival layang-layang sebagai kegiatan internasional. Namun karena pelayang Indonesia memiliki banyak kolega dari luar negeri, mereka akhirnya ingin ikut terlibat. “Mereka [pelayang luar negeri] senang datang ke Jogja," katanya saat melakukan audiensi di Kantor Harian Jogja, Jumat (19/7/2019).
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Talikama, Anang Sujiyanto menjelaskan festival layang-layang ini juga menjadi ajang pertemuan antara pembeli dan penjual layang-layang. Berkaca dari festival tahun sebelumnya, pelayang dari Perancis tertarik membeli layang-layang buatan pengrajin Tulungagung. “Sayangnya, untuk proses jual beli, kita masih terkendala pengiriman,” katanya.
Festival layang-layang akan diisi dengan lomba layang-layang nasional berupa lomba layang-layang tradisional bertema batik Nusantara, lomba layang-layang dua dimensi, tiga dimensi, pertandingan layang-layang Rokkaku atau layang-layang tradisional Jepang), dan lomba layang-layang train naga.
Ada pula lomba umbul-umbul dari peserta nasional bertema batik, juga lomba foto Instagram untuk peserta dan juga umum, bazaar dan kuliner, hiburan musik dan band nasional, serta tarian lokal.
Salah satu pelayang asal Jogja, R. Setyo Aji mengatakan sebenarnya Indonesia memiliki potensi layang-layang yang sangat menarik, salah satunya dari lokasi penerbangan yang ideal yaitu di wilayah pantai selatan. Sayangnya, minat masyarakat untuk bermain layang-layang masih sangat kurang, begitu juga keinginan untuk memahami teknik pembuatan layang-layang.
“Inginnya ada pusat studi layang-layang di Jogja. Ini bakal menjadi yang pertama di dunia,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Selamat pagi, semangat menjalani hari. Izin kirim kabar dari Bumi Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat, heritage-nya Indonesia, rumahnya start up.
Bulog DIY optimistis target serapan gabah 2026 tercapai sebelum Juni di tengah panen raya dan antisipasi dampak El Nino.
Aktivitas Gunung Mayon di Filipina meningkat dengan puluhan gempa vulkanik dan aliran lava, sementara status Siaga 3 tetap berlaku.
Kapolri Listyo Sigit menargetkan pembangunan 1.500 SPPG Polri pada 2026 untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis.
Rey’s Mediterranean Kitchen resmi buka di Jogja dengan konsep colorful dan menu khas Mediterania, western, hingga Timur Tengah.
Sapi kurban Presiden Prabowo asal Gunungkidul habiskan biaya pakan Rp80.000 per hari. Sapi simmental itu berbobot lebih dari 1 ton.