KABAR WISATA: Pernah Dipenuhi Sampah, Taman Wisata Batu Kapal Kini Ramai Pengunjung

Wisatawan saat mengunjungi Taman Wisata Batu Kapal di Klenggotan RT 01 Srimulyo, Piyungan, Senin (31/5/2021). Harian Jogja - Jumali
01 Juni 2021 08:57 WIB Jumali Wisata Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Pandemi Covid-19 tidak selamanya membuat sektor pariwisata terpuruk. Sebaliknya, ada satu lokasi wisata di Bantul yang justru moncer dan dijejali oleh pengunjung, meski dalam kondisi pandemi.

Adalah Taman Wisata Batu Kapal, yang terletak di Klenggotan RT 01 Srimulyo, Piyungan. Tempat seluas 5.000 meter yang berada di pinggir Sungai Opak ini selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan. Padahal, sampai saat ini, lokasi yang menawarkan pemandangan berupa batuan dari bentukan lava cair gunung api purba ini belum pernah dibuka secara resmi.

BACA JUGA : Muncul Wisata ala Jepang di Tepi Sungai Opak Bantul & Kini

“Resmi dibuka belum pernah. Tapi banyak pengunjung yang datang ke sini. Terutama, para pegowes,” kata Samsi Dwi Asapa Rudin, Koordinator Taman Wisata Batu Kapal, Senin (31/5/2021).

Para pegowes yang datang ini, lanjut dia, rata-rata berasal dari Solo dan Semarang. Selain itu juga berasal dari beberapa wilayah di DIY. Mereka sengaja datang ke tempat ini, setelah memacu sepeda mereka melewati beberapa rute di wilayah Piyungan dan Berbah.

“Perlahan, tempat ini mulai dikenal. Pegowes banyak yang datang, sekadar melepas lelah dan membagikan foto swafoto di tempat ini. Dan booming tempat ini terjadi pada Juni lalu, ada puluhan ribu yang datang. Kalau akhir pekan biasanya seribuan, sedang hari biasa ratusan pengunjung,” terang Samsi.

Sebelum dikenal sebagai lokasi wisata, menurut dia, Batu Kapal adalah kawasan di pinggir Sungai Opak yang kotor dan dipenuhi oleh sampah. Oleh warga sekitar, kawasan yang kini tidak hanya menawarkan pemandangan batuan dan sungai, tapi juga digunakan sebagai wahana tubing dan susur menggunakan ban ini kemudian dibersihkan.

BACA JUGA : Pemkab Klaim Objek Wisata di Bantul Bebas Zona Merah

Adapun untuk pembangunan dan penataan kawasan tersebut yang dimilai 11 April 2020 tersebut sepenuhnya hanya mengandalkan semangat dan doa. Bahkan, sebagai awal penataan, ungkap Samsi, warga sekitar nekat memotong bambu yang ada di kawasan Batu Kapal dan menjualnya. Uang dari penjualan itu, digunakan warga untuk membuat rambu penunjuk ke kawasan lokasi wisata tersebut. 

“Jadi modal kami nol. Kami sadar 80 persen warga di sini bekerja sebagai buruh. Jadi tidak mungkin swadaya. Semua biaya pembangunan mengandalkan dana retribusi dari pengunjung. Dan tiket masuk itu pun seikhlasnya,” terang Samsi.

Meski mengandalkan tiket masuk seikhlasnya dari pengunjung, papar Samsi, ternyata Batu Kapal mampu mengangkat perekonomian warga. Hal ini terbukti dengan berdirinya sekitar 22 warung milik warga sekitar yang menawarkan berbagai macam menu makanan kepada pengunjung di tempat tersebut.

BACA JUGA : Viral Harga Makanan Rp420.000 di Pantai Baru, Ini Respons

“Semuanya dikelola warga. Begitu juga dengan fasilitas seperti tubbing dan susur menggunakan ban, ini pengembangan. Ke depan kami juga akan melengkapi sarana lainnya. Kami anggap semua ini berkah,” ucap Samsi.

Salah satu pengunjung, Rani, 25, warga Klaten mengaku sengaja datang ke Batu Kapal karena penasaran dengan lokasi tersebut.

“Teman-teman banyak yang bilang tempatnya bagus. Dan sempat lihat di Instagram, makanya saya kesini. Tempatnya masih asri, makanannya murah dan tenang,” paparnya.