Survei: Orang yang Sudah Divaksin Mulai Traveling

Ilustrasi traveling - JIBI/Bisnis.com
03 September 2021 12:27 WIB Mia Chitra Dinisari Wisata Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pegipegi melakukan survei kepada lebih dari 1.000 pelanggan pada 22—29 Juli 2021.

Survei ini dilakukan untuk mengetahui kebiasaan traveling masyarakat setelah lebih dari satu tahun pandemi. Mulai dari adaptasi, preferensi, hingga kebiasaan baru yang muncul untuk melakukan traveling secara aman saat pandemi. 

Hasil survei ini memperlihatkan banyak temuan menarik dari kebiasaan baru masyarakat. Di tengah pandemi ini, empat dari lima orang yang melakukan traveling selama pandemi sudah melakukan vaksinasi minimal dengan dosis pertama.

Masyarakat yang melakukan traveling ini mayoritas didorong oleh tujuan untuk berwisata sebanyak 63%, lalu dilanjutkan oleh kunjungan keluarga sebesar 50% dan sisanya merupakan perjalanan bisnis. Wisata ini pun lebih banyak dilakukan dengan destinasi ke luar kota (87%) dibandingkan dengan di dalam kota (38%) dan luar negeri (3%). 

Temuan menarik dalam konteks perubahan kebiasaan dapat terlihat dari kecenderungan masyarakat dalam memilih transportasi sebelum dan setelah pandemi. Sebelum pandemi, pertimbangan terbesar dalam memilih transportasi adalah harga serta kenyamanan. Namun, setelah pandemi, pertimbangan pertama merupakan bagaimana transportasi tersebut menerapkan protokol kesehatan, lalu disusul oleh harga dan kenyamanan. 

Pola yang sama juga dapat terlihat dari alasan pemilihan hotel yang turut berubah. Sebelum pandemi, poin utama yang dipertimbangkan adalah harga lalu disususl oleh lokasi dan fasilitas. Sedangkan di masa pandemi, masyarakat lebih mengutamakan hotel yang menerapkan protokol kesehatan, disusul oleh harga, dan pemilihan area yang minim kasus COVID-19. Fakta ini memperlihatkan bahwa harga tidak lagi menjadi prioritas utama saat memesan transportasi serta akomodasi. 

Dari perubahan ini, dapat dibuktikan terdapat behaviour shifting ketika melakukan traveling. Ditemukan bahwa 99,9% kebiasaan baru masyarakat selama pandemi adalah memperhatikan kebersihan di hotel atau destinasi wisata. Fakta ini dibarengi dengan kebiasaan baru masyarakat yang paling sering dilakukan saat traveling yaitu, memperhatikan kebersihan dengan mencuci tangan, sanitasi barang serta mandi saat sampai hotel (81%). Disusul oleh kebiasaan untuk selalu membawa hand sanitizer (61%) dan melakukan 5M (58%). 

Selain perubahan behavior ketika berada pada lokasi destinasi, perubahan ini juga dapat terlihat dari pemanfaatan fitur dalam Online Travel Agent (OTA). Fitur yang dianggap paling penting oleh masyarakat selama traveling dikala pandemi adalah 

Tiket yang bisa di-refund (66%)
Tiket yang bisa di-reschedule (62%) 
Tiket dengan harga promo/ miring (62%) 

Mereka yang masih enggan traveling

Terlepas dari masyarakat yang masih melakukan traveling di tengah pandemi, terdapat juga masyarakat yang masih enggan untuk bepergian. Sebanyak 38% responden memilih untuk tidak melakukan traveling. Hal ini disebabkan karena adanya kekhawatiran yang tinggi. Meskipun mayoritas sudah melakukan vaksinasi, namun masih ada rasa takut terpapar COVID-19 ketika melakukan perjalanan. 

Hal ini menjadi menarik karena mereka yang masih enggan melakukan traveling ternyata telah melakukan vaksinasi minimal sebanyak satu dosis. Peran multi-stakeholder menjadi penting untuk dapat memberikan jaminan keamanan dan higienitas akan sangat berpengaruh dalam menciptakan dan meningkatkan kepercayaan masyarakat yang masih enggan traveling. 

Secara garis besar, pandemi ini memang membawa perubahan dalam sektor pariwisata. Mulai dari preferensi masyarakat hingga behavior. Tentunya perubahan ini harus disikapi dengan bentuk-bentuk adaptasi baru yang dapat membawa keamanan dan kenyamanan dalam bepergian selama masa pandemi. 

Sumber : JIBI/Bisnis.com