Yuk..Berwisata ke 8 Bangunan Tertua di Jakarta  

Museum Wayang di Jakarta. - Kemdikbud
21 September 2021 20:17 WIB Annasa Rizki Wisata Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Jalan-jalan di Jakarta tidaklah cukup bila belum mengunjungi bangunan tua dan bersejarahnya. Dulunya bernama Sunda Kelapa dan dikenal sebagai kota pelabuhan.

Namun pada 22 Juni 1527 Pangeran Fatahillah menghancurkan Sunda Kelapa dan sebagai gantinya mendirikan kota Jayakarta di area tersebut. Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan sebagai tanggal berdirinya kota Jakarta. 

Berikut ini daftar delapan bangunan tua yang ada di Jakarta. 

1. Hotel Sriwijaya  

Awalnya, hotel yang dimiliki oleh Conrad Alexander Willem Cavadino (CAW Cavadino) ini merupakan sebuah restoran. CAW Cavadino memulai usaha restoran, roti/kue, dan toko pada tahun 1863. Tempat usaha ini dibangun persis di pojokan Rijswik (sekarang Jalan Veteran) dan Citadelweg (kini Jalan Veteran I). 

Selama sembilan tahun, usaha tersebut kian berkembang. Pada tahun 1872 restoran Cavadino berubah menjadi Hotel Cavadino. Banyak orang Belanda maupun Eropa lainnya yang bermukim di Batavia. Hotel Cavadino ini sempat bertahan sampai tahun 1898, dan sejak 1899 hotel itu berubah nama menjadi Hotel du Lion d’Or.

Kemudian pada 1941 hotel tersebut berubah lagi namanya menjadi Park Hotel. Lalu, sekitar pertengahan tahun 1950-an hotel tersebut berganti nama menjadi Hotel Sriwijaya hingga kini. 

Sejak 1975 Hotel Sriwijaya ini diketahui dimiliki oleh Al Jufri. Bangunan lama kemudian terpaksa diubah pada tahun 1999, karena kondisi kayu jati yang sudah lapuk. Meski sebagian besar bangunan lama sudah tidak tampak lagi, jejak hotel dari masa Hindia Belanda ini masih dipertahankan sampai sekarang, sebagai bukti adanya hotel tertua di Jakarta. 

2. Menara Syahbandar 

Sebelum menjadi menara, pada abad 16 lokasi ini menjadi benteng Cuylenburg yang kemudian dihancurkan dan dibangun menara. Dahulu, Menara ini dibangun oleh Pemerintah kolonial Belanda sekitar tahun 1839 dan dikenal dengan nama Uitkijk. Menara ini berfungsi sebagai tempat untuk memantau kapal-kapal yang keluar masuk kota Batavia melalui jalur laut.

Selain itu, Menara Syahbandar ini dulu juga dijadikan sebagai kantor pabean yaitu tempat mengumpulkan pajak atas barang-barang yang dibongkar di Pelabuhan Sunda Kelapa. 

Menara Syahbandar memiliki ketinggian 12meter dan terdapat tiga lantai yang bisa dikunjungi. pada lantai pertama, terdapat batu prasasti kedatangan saudagar china pada abad 17. Batu Prasasti tersebut merupakan penanda titik nol Batavia atau Jakarta pada kala itu. Naik ke lantai selanjutnya, kamu dapat melihat banyak kaca kotak yang berisi teropong yang masih asli dan sudah berumur hampir satu setengah abad. Teropong ini dahulu digunakan untuk memantau kapal.  

Di lantai dua, kamu akan melihat banyak jendela-jendela besar khas bangunan tua. Kemudian selanjutnya pada lantai paling atas adalah tempat untuk memantau kapal-kapal yang lalu lalang dalam jalur perdagangan keluar masuk Kota Batavia. Pada lantai paling atas, kamu dapat melihat pemandangan sekeliling area Menara Syahbandar, mulai dari Jembatan, Bioskop pertama, Tugu Pantura, dan Museum Bahari. 

3. Gedung Kesenian Jakarta  

Gedung Kesenian Jakarta merupakan bangunan tua peninggalan bersejarah pemerintah Belanda yang hingga sekarang masih berdiri kokoh di Jakarta. Gedung ini memiliki bangunan bergaya neo-renaissance yang dibangun tahun 1821 di Weltevreden yang saat itu dikenal dengan nama Theater Schouwburg Weltevreden, juga disebut dengan Gedung Komedi.

Gedung tersebut merupakan tempat para seniman dari seluruh Nusantara mempertunjukkan hasil kreasi seninya, seperti drama, teater, film, sastra, dan lain sebagainya. Gedung Kesenian Jakarta ini beralamat di Jl. Gedung Kesenian 1, Jakarta Pusat. 

4. Kota Tua  

Dikenal juga sebagai Museum Fatahilah di area Kota tua, museum ini menjadi saksi sejarah kota Jakarta. Dibangun pada tahun 1707 dengan nama Stadhuis atau Municipal Hall of Batavia, gedung ini menjadi tempat yang menceritakan sejarah kota Jakarta sejak sebelum zaman penjajahan Belanda sampai hari ini, dalam materi logam, tekstil, bebatuan, kristal, keramik, kertas, dan tulang. 

5. Museum Wayang  

Museum Wayang berdiri di gedung bekas gereja tua yang didirikan oleh VOC pada tahun 1640 dengan nama “De Oude Hollandsche Kerk”. Pada tanggal 13 Agustus 1975 diresmikan sebagai Museum Wayang oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.

Museum Wayang memamerkan berbagai jenis wayang mulai dari wayang golek, wayang kulit, wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, wayang beber, topeng, boneka dan gamelan. Selain itu, Museum Wayang juga mengadakan pagelaran wayang setiap satu kali dalam seminggu dengan tema yang berbeda-beda. 

6. Museum Bahari  

Bangunan ini didirikan VOC pada tahun 1718-1774 di sisi Barat Ciliwung untuk menyimpan, memilih, dan mengepak rempah-rempah, kopi, teh, tembaga, timah, dan tekstil.

Pada 7 Juli 1977 gedung ini diresmikan sebagai Museum Bahari oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin dengan koleksi kapal dari berbagai era di Indonesia, alat-alat kelautan seperti teropong, peta kartografi, jangkar, mercusuar, dan berbagai biota laut Nusantara. Di komplek Museum Bahari terdapat Menara Syahbandar (Uitkijk) sebagai titik nol (kilometer) Batavia. 

7. Gedung OLVEH  

Kawasan Kota Tua Jakarta dikenal memiliki banyak sejarah pada bangunannya, tak jauh dari kawasan Kota Tua ada bangunan peninggalan zaman Belanda yaitu Gedung OLVEH dibangun biro arsitek Schoemaker pada 1921. Semula, bangunan ini diperuntukkan kantor cabang Onderlinge Levensverzekering van Eigen Hulp (OLVEH), perusahaan asuransi jiwa Belanda. Setelah rampung direstorasi dan diresmikan kembali pada Maret 2016 lalu, banyak kegiatan yang diberlangsungkan seperti Pameran, Pasar Kreatif, dan Workshop. Selain itu tempat ini terkenal dengan memiliki spot foto yang bagus. Nuansa vintage dan konsep bangunan tua sangat kuat untuk menampilkan foto. 

8. Museum Bank Indonesia  

Museum Bank Indonesia menyajikan informasi peran Bank Indonesia dalam perjalanan sejarah bangsa yang dimulai sejak sebelum kedatangan bangsa barat di Nusantara hingga terbentuknya Bank Indonesia pada tahun 1953 dan kebijakan-kebijakan Bank Indonesia, meliputi pula latar belakang dan dampak kebijakan Bank Indonesia bagi masyarakat sampai dengan tahun 2005. 

Penyajiannya dikemas sedemikian rupa dengan memanfaatkan teknologi modern dan multimedia, seperti display elektronik, panel statik, televisi plasma, dan diorama sehingga menciptakan kenyamanan pengunjung dalam menikmati Museum Bank Indonesia. Selain itu terdapat pula fakta dan koleksi benda bersejarah pada masa sebelum terbentuknya Bank Indonesia, seperti pada masa kerajaan-kerajaan Nusantara, antara lain berupa koleksi uang numismatik yang ditampilkan juga secara menarik. 

Peresmian Museum Bank Indonesia dilakukan melalui dua tahap, yaitu peresmian tahap I dan mulai dibuka untuk masyarakat (soft opening) pada tanggal 15 Desember 2006 oleh Gubernur Bank Indonesia saat itu, Burhanuddin Abdullah, dan peresmian tahap II (grand opening) oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, pada tanggal 21 Juli 2009. 

Masih banyak bangunan tua yang tersebar dan dapat dinikmati oleh masyarakat. Mengunjungi bangunan tersebut dapat menjadi salah satu pilihan untuk menikmati Kota Jakarta.

Sumber : Jakarta Tourism