Kunjungi Kota Batu, Kulonprogo Belajar Pengembangan Desa Wisata

Dinas Komunikasi dan Informasi Kulonprogo saat melakukan kunjungan ke wilayah Pemkot Batu mengoptimalisasi pengembangan desa wisata. Kunjungan difokuskan ke Dinas Pariwisata Kota Batu pada Selasa (26/10 - 2021).
27 Oktober 2021 08:27 WIB Hafit Yudi Suprobo Wisata Share :

harianjogja.com, KULONPROGO-Pengembangan desa wisata di wilayah Bumi Binangun menjadi perhatian Pemkab Kulonprogo. Upaya yang dilakukan dalam mengembangkan desa wisata salah satunya adalah dengan mengadakan kunjungan ke Pemkot Batu, Jawa Timur.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Kulonprogo, Rudiatno, mengatakan upaya kunjungan ke wilayah Pemkot Batu bertujuan untuk mengoptimalisasi pengembangan desa wisata. Kunjungan difokuskan ke Dinas Pariwisata Kota Batu pada Selasa (26/10/2021).

Dikatakan Rudiatno, Pemkot Batu dinilai cukup sukses dalam mengembangkan 19 desa wisata. Pemkot Batu sendiri merupakan wilayah pemekaran dari kabupaten Malang. Kota Batu memiliki tiga kecamatan, empat kelurahan dan 19 desa.

"Sinergi itu kan tidak harus satu tambah satu sama dengan dua. Bisa tiga, empat, atau lima. Kunjungan kali ini kita harapkan seperti itu ya. Hal-hal yang inspiratif di kota Batu ini harapannya bisa kita aplikasikan di Kulonprogo," kata Rudiatno pada Selasa (26/10/2021).

Kota Batu yang notabene baru seumur jagung dinilai cukup berhasil dalam mendorong desa wisata yang ada bangkit untuk naik kelas. Pengembangan desa wisata yang ada di Kulonprogo perlu inspirasi dari luar daerah.

Baca juga: Aplikasi Berkunjung ke Malioboro Tambah Lagi, Kini Untuk Batasi Pengunjung

"Sehingga, kami juga melibatkan Dinas Pariwisata Kulonprogo dalam kunjungan ke Pemkot Batu kali ini. Harapannya, hal-hal positif terkait dengan pengembangan desa wisata di kota Batu bisa kita bawa ke Kulonprogo untuk diaplikasikan," imbuh Rudiatno.

Sebagai informasi, Kota Batu adalah sebuah kota di provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota ini terletak di 90 kilometer sebelah barat daya Surabaya atau 15 km sebelah barat laut Malang. Kota Batu berada di jalur yang menghubungkan Malang-Kediri dan Malang-Jombang.

Kota Batu dengan luas 19.908,70 hektar atau 199.09 kilometer persegi terdiri dari tiga kecamatan, 19 desa dan lima Kelurahan. Kota Batu memiliki panorama pegunungan indah yang eksotik di ketinggian 700 sampai dengan 2.000 MDPL.

Kota Batu dikelilingi Gunung Arjuno, Welirang, Anjasmoro, Panderman dan Pengunungan Banyak, dengan suhu udara rata-rata sekitar 22 derajat celsius. Dengan kekayaan alam yang luar biasa didukung dengan udara yang sejuk maka Kota Batu sering disebut " De Kleine Switzerland ".

Dianugerahi alam yang luar biasa Kota Batu berada dikawasan Hutan Tahura R. Soeryo dan Perum Perhutani dengan total 11.000 hektar. Memiliki 160 sumber air dan sebagai titik nol hulu sungai Brantas yang menyusuri 16 kabupaten atau kota di Jawa Timur.

Potensi alam, seni, dan budaya yang berada di masing-masing desa memiliki ciri khas yang unik untuk terus dieksplorasi, sehingga muncul potensi atraksi yang bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Berdasarkan visi Kota Batu, yakni Desa Berdaya Kota Berjaya, Pemerintah Kota Batu terus mendorong percepatan pengembangan usaha pariwisata yang meliputi pengembangan destinasi dan industri wisata, akomodasi wisata, jasa wisata, seni budaya dan ekonomi kreatif.

Baca juga: ASN DIY Dilarang Cuti Natal dan Tahun Baru

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Arief As Sidiq, mengatakan jawatannya mengakomodir 19 desa wisata yang ada di kota Batu. Selain pengelola desa wisata, jawatannya juga berupaya untuk mewadahi asosiasi pengelola wisata.

"Untuk mengakomodasi pelaku wisata di kota Batu, kami sediakan Batu Tourism Mall atau disingkat BTM. BTM diperuntukkan untuk mempermudah kegiatan-kegiatan kepariwisataan baik pengelola desa wisata maupun asosiasi," terang Arief.

Dikatakan Arief, kota Batu selama ini dinilai belum mempunyai wadah untuk menampung kegiatan yang dilakukan oleh pengelola desa wisata maupun asosiasi. Koordinasi yang dilakukan oleh pengelola wisata perlu untuk diberikan wadah.

"Kita ingin melalui adanya BTM ini, pengelola wisata yang tergabung dalam sejumlah asosiasi di sejumlah sektor mampu bersinergi secara cepat, tepat, dan efisien, dan satu visi. Pariwisata ini kan diciptakan untuk mereka dan dari mereka. Kantor juga kita siapkan infrastruktur sistem untuk pusat informasi pariwisata," terang Arief.