Advertisement

Serupa Langit Malam, Terowongan Ini Pancarkan Sinar Biru dari Cacing Pendar

Lajeng Padmaratri
Jum'at, 20 Januari 2023 - 09:27 WIB
Lajeng Padmaratri
Serupa Langit Malam, Terowongan Ini Pancarkan Sinar Biru dari Cacing Pendar Terowongan Helensburgh yang berkilauan cahaya biru dari koloni cacing pendar. / Oddity Central

Advertisement

Harianjogja.com, HELENSBURGH—Cahaya biru kehitaman yang tampak dari sebuah terowongan di kota kecil Helensburgh, Australia sungguh menarik perhatian. Siapa sangka, sinar yang serupa langit malam itu berasal dari koloni cacing di langit terowongan.

Di kota itu, terdapat terowongan kereta api yang terbengkalai sejak lama. Terowongan itu terletak di Helensburgh, New South Wales, Australia.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Banyak cerita mistis yang melingkupi terowongan itu. Tak hanya itu, di sana juga ada koloni cacing pendar yang memberinya cahaya biru bioluminesensi yang ikonik.

Melansir Oddity Central, terowongan itu awalnya dikenal sebagai terowongan Metropolitan. Lorong bawah tanah sepanjang 624 meter ini mulanya diresmikan pada akhir abad ke-19 dan digunakan untuk mengangkut batu bara dari tambang lokal ke pinggiran kota.

Dibuka pada tanggal 1 Januari 1889, terowongan Metropolitan Helensburgh tetap beroperasi sampai tahun 1915, ketika akhirnya resmi ditutup. Paparan asap dan jelaga selama bertahun-tahun dari batu bara membuat terowongan tidak aman untuk dilewati awak kereta dan penumpang, sehingga jalur kereta digandakan dan terowongan itu ditinggalkan.

Salah satu ujung terowongan itu pun ditutup dan seluruh tempat diubah menjadi reservoir untuk keperluan penambangan. Akhirnya, terowongan itu benar-benar ditinggalkan hingga pertengahan 90-an. Selama rentang waktu tersebut, cukup waktu bagi koloni cacing pijar untuk mengakuisisi terowongan itu jadi rumah mereka.

Selama bertahun-tahun, terowongan itu ditelan oleh puing-puing dan semak belukar, dan kebanyakan orang lupa bahwa terowongan itu pernah ada. Baru pada tahun 1995 Metropolitan Colliery memutuskan untuk mengeringkan terowongan yang banjir, membersihkan puing-puing di dalam dan sekitarnya, dan mengubah situs tersebut menjadi daya tarik sejarah. Namun, mereka tidak menyangka bahwa upaya mereka justru menghasilkan destinasi alam yang unik.

Setelah restorasi awal, terowongan kereta api tua menjadi rumah koloni cacing pendar yang sejak saat itu menjadi salah satu yang terbesar di seluruh New South Wales. Koloni cacing itu menutupi langit-langit terowongan, memancarkan cahaya biru yang khas untuk menarik mangsa di malam hari, seringkali mereka mengincar invertebrata seperti nyamuk.

Meskipun bioluminesensi ini memiliki tujuan yang sangat praktis bagi para cacing pendar dalam menarik mangsa, namun fenomena itu juga menciptakan pertunjukan cahaya alami yang fantastis bagi manusia, dan akhirnya hal itu segera disadari oleh penduduk setempat.

Terowongan itu akhirnya dikenal sebagai Helensburgh Glow Worm Tunnel. Orang-orang dari seluruh Australia mulai melakukan perjalanan untuk melihat sendiri pertunjukan cahaya alami itu. Saat foto dan video yang diambil di sini mulai menjadi viral di media sosial, terowongan tersebut menjadi objek wisata internasional.

Meski warga kota Helensburgh menyambut baik perhatian tersebut, cacing pijar tidak. Seperti yang sering terjadi, orang lebih memedulikan kualitas foto dan video mereka daripada penghuni terowongan yang peka terhadap cahaya.

Pengunjung bahkan sama sekali mengabaikan peringatan untuk tidak menyalakan lampu ke atap terowongan atau menyalakan suar untuk membuat foto lebih terang. Tidak butuh waktu lama untuk jumlah cacing pendar di terowongan itu mulai berkurang.

Khawatir akan kepunahan dari daya tarik luar biasa mereka, komunitas Helensburgh Landcare untuk sementara waktu membatasi akses ke terowongan itu pada Januari 2019 untuk memungkinkan cacing pendar berkembang biak dengan damai. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Oddity Central

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Pemahaman tentang Kanker Akan Turunkan Risiko Kematian

Sleman
| Senin, 06 Februari 2023, 23:47 WIB

Advertisement

alt

35 Tahun ke Atas Dinilai Berisiko, Usia Berapakah yang Baik untuk Promil?

Lifestyle
| Selasa, 07 Februari 2023, 03:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement