Menikmati Rumah Tradisional Jepang

Rumah gassho di Shirakawa-go dengan atap berbentuk segitiga dan terbuat dari anyaman jerami./JIBI/Bisnis Indonesia - Annisa Sulistyo Rini
09 April 2018 14:35 WIB Annisa Sulistyo Rini Wisata Share :

Harianjogja.com, TOKYO-Jepang identik dengan perkembangan teknologi canggih tetapi masih ada beberapa destinasi wisata yang menyuguhkan sisi tradisional negeri Matahari Terbit tersebut.

Shirakawa-go adalah salah satu destinasi wisata yang patut menjadi pilihan saat berkunjung ke Jepang untuk menikmati suasana zaman dahulu. Wilayah ini berada di Prefektur Gifu, Chubu, atau sekitar 300 kilometer dari Ibu Kota Jepang, Tokyo dan dikelilingi oleh pegunungan.

Shirakawa-go terkenal dengan rumah tradisional bernama gassho, yang berupa rumah dengan atap berbentuk segitiga dan terbuat dari anyaman jerami. Beberapa rumah gassho di Shirakawa-go telah berusia lebih dari 250 tahun.

Gassho merupakan bahasa Jepang yang berarti posisi kedua tangan di depan dada saat berdoa dalam agama Buddha. Dengan kata lain, gaya arsitektur ini disebut gassho karena atap rumah yang berbentuk segitiga menyerupai bentuk tangan tersebut. Bentuk segitiga pada rumah gassho ini bertujuan agar salju yang tertimbun di atap rumah saat musim dingin lebih mudah diturunkan.

Selain itu, agar air tidak tergenang di atap rumah saat turun hujan. Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI) berkesempatan mengunjungi wilayah yang ditetapkan sebagai salah satu warisan dunia oleh Unesco pada 1995 ini saat musim dingin, tepatnya pada pertengahan Januari.

Salju tebal terlihat menyelimuti wilayah ini dan suhu di Shirakawa-go saat itu berada di kisaran empat derajat Celsius, cukup dingin bagi wisatawan yang berasal dari negara tropis.

Salah satu area di Shirakawa-go yang menjadi objek wisata utama adalah Ogimachi. Saat puncak musim salju, Ogimachi, tertutup salju setebal satu meter hingga dua meter. Untuk mencapai area terbesar di Shirakawago ini, wisatawan harus menyebrangi jembatan yang membentang di atas sungai Shogawa dari pintu masuk.

Rp1,2 Juta Arihara Susumu, pemandu wisata lokal, menuturkan untuk menginap di rumah gassho warga, wisatawan harus mengeluarkan kocek senilai 10.000 yen atau sekitar Rp1,2 juta per malam.“Biaya tersebut termasuk fasilitas dua kali makan dalam sehari,” jelasnya.

Wisatawan juga dapat melihat-lihat isi rumah gassho di area Ogimachi. Salah satu rumah gassho yang terkenal adalah rumah Wada yang merupakan rumah tertua dan sudah dihuni sekitar 20 generasi.

Di dalam rumah Wada, pengunjung akan diajak untuk merasakan atmosfer Jepang pada zaman pertengahan Edo. Rumah ini terdiri dari dua lantai, di mana lantai pertama digunakan sebagai tempat tinggal dan lantai dua merupakan loteng yang digunakan untuk beternak ulat sutra.

Untuk bisa menikmati suasana zaman dahulu di rumah Wada, pengunjung harus membayar tiket senilai 300 yen atau sekitar Rp36.000. Rumah Wada buka dari pukul 09.00 hingga 17.00.

Beberapa rumah warga juga dijadikan sebagai toko suvenir yang menjual bermacammacam pernak-pernik dan jajanan khas Shirakawa-go, seperti kue kering atau cookies berbentuk rumah gassho. Selain itu, di sini wisatawan bisa membeli suvenir berbentuk boneka sarubobo.

Boneka sarubobo merupakan jimat keberuntungan berbentuk boneka manusia berwarna merah dan tidak memiliki wajah. Shirakawa-go bisa dicapai menggunakan kereta cepat Hokuriku Shinkansen dari Tokyo dengan waktu tempuh antara dua jam hingga 2,5 jam. Harga tiket Hokuriku Shinkansen untuk menuju Toyama adalah 12.500 yen atau sekitar Rp1,5 juta untuk sekali jalan.

Dari Toyama, wisatawan bisa menggunakan bus untuk mencapai Shirakawa-go dengan waktu tempuh 1,5 jam dan biaya 1.700 yen atau sekitar Rp204.000 sekali jalan.

Selain dari Tokyo, Shirakawa-go juga dapat dicapai dari Nagoya menggunakan Bus Gifu. Waktu tempuh dengan bus ini sekitar tiga jam dengan biaya 3.900 yen atau setara Rp468.000 untuk sekali jalan. Para wisatawan bisa naik bus melalui Meitetsu Bus Center yang berada di sebelah Stasiun Nagoya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia