Harga Avtur Melonjak, Alaska Air Group PHK 200 Karyawan

Jumali
Jumali Senin, 02 November 2026 08:47 WIB
Harga Avtur Melonjak, Alaska Air Group PHK 200 Karyawan

Foto ilustrasi maskapai penerbangan. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Alaska Air Group memangkas 200 posisi pekerjaan setelah menghadapi tekanan keuangan akibat tingginya harga bahan bakar pesawat dan kondisi geopolitik. Perusahaan penerbangan tersebut memperkirakan kerugian hampir US$700 juta atau setara dengan sekitar Rp11,5 triliun sepanjang 2026.

Dari total posisi yang dihapus, sebanyak 125 di antaranya berada di Washington. Pengurangan tenaga kerja ini hanya menyasar karyawan nonserikat pekerja yang menempati posisi administratif atau back-office.

Dengan demikian, kebijakan tersebut tidak berdampak pada pilot, pramugari, petugas layanan penumpang di bandara, maupun karyawan bagian pemeliharaan dan teknik pesawat.

CEO Alaska Air Group, Ben Minicucci, menyampaikan perusahaan perlu menyeimbangkan investasi jangka panjang dengan pengendalian biaya operasional.

"Agar tetap kompetitif dan bangkit lebih kuat dari periode yang menantang ini, kita harus terus berinvestasi pada armada, pengalaman tamu, kapasitas, dan jaringan kita," tulis Minicucci, dikutip dari Seattle Times.

"Pada saat yang sama, kita harus kembali menerapkan disiplin keuangan yang selama ini menjadi keunggulan kompetitif utama kita. Ini berarti meninjau kembali biaya operasional secara cermat serta memastikan sumber daya kita difokuskan pada prioritas yang akan memperkuat perusahaan untuk jangka panjang," tegasnya.

Alaska Air Group menaungi sejumlah bisnis penerbangan dan layanan pendukung, yakni Alaska Airlines, Hawaiian Airlines, maskapai regional Horizon Air, serta perusahaan layanan darat McGee Air Services.

Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis pada Oktober 2026, perusahaan membukukan kerugian US$416 juta selama sembilan bulan pertama tahun ini. Kondisi tersebut berbalik dari periode yang sama tahun sebelumnya ketika Alaska Air Group masih mencatatkan laba US$79 juta.

Perusahaan juga memperkirakan tingginya biaya bahan bakar akan terus menekan kinerja keuangan. Dengan tambahan beban bahan bakar US$1,8 miliar dibandingkan proyeksi awal tahun, Alaska memperkirakan kerugian sebesar US$5 hingga US$5,50 per saham untuk keseluruhan 2026.

Rencana Ekspansi Alaska Air Group Tetap Berjalan

Di tengah tekanan biaya operasional, Alaska Air Group tetap berupaya menjalankan strategi pertumbuhan jangka panjang.

Dalam pertemuan investor pada September 2026, jajaran eksekutif berusaha meyakinkan investor Wall Street bahwa perusahaan masih berada di jalur yang tepat meskipun kenaikan harga bahan bakar pesawat membebani keuangan.

Manajemen menyebut mulai merasakan manfaat dari strategi ekspansi jangka panjang bernama Alaska Accelerate. Program tersebut diluncurkan pada 2024, tidak lama setelah Alaska menyelesaikan akuisisi Hawaiian Airlines.

Strategi itu mencakup pembukaan lebih dari selusin rute internasional jarak jauh tanpa transit dari pusat operasional di Seattle. Perusahaan juga mengembangkan program loyalitas, kartu kredit premium, fasilitas ruang tunggu atau lounge, serta kursi pesawat yang dapat direbahkan hingga menjadi tempat tidur datar atau lie-flat suites.

Meski demikian, para eksekutif pada September mengingatkan bahwa perusahaan berpotensi tidak mencapai sasaran keuangan jangka panjang. Target tersebut mencakup tambahan laba US$1 miliar dan laba per saham US$10 pada 2027. Tingginya harga bahan bakar pesawat menjadi salah satu alasan utama risiko tersebut.

Dalam surat kepada karyawan pada Jumat, Minicucci menyebut proyeksi kerugian sekitar US$700 juta pada 2026 akan menjadi kerugian sebelum pajak yang disesuaikan pertama bagi perusahaan sejak 2003, jika periode pandemi tidak diperhitungkan.

PHK Berdampak pada Kurang dari 1% Karyawan

Alaska Air Group memiliki sekitar 32.500 karyawan di seluruh unit bisnisnya. Dengan penghapusan 200 posisi, jumlah tersebut setara dengan kurang dari 1% total tenaga kerja perusahaan.

Selain 125 posisi di Washington, pengurangan juga mencakup 48 karyawan di Honolulu, lokasi kantor pusat Hawaiian Airlines.

Perusahaan menetapkan 13 November 2026 sebagai hari kerja terakhir bagi karyawan yang terkena PHK. Meski demikian, mereka masih akan menerima gaji hingga 31 Desember 2026.

Kebijakan ini menunjukkan tekanan harga bahan bakar tidak hanya memengaruhi target keuangan maskapai, tetapi juga mendorong perusahaan meninjau kembali kebutuhan tenaga kerja dan pengeluaran operasionalnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online