Perkosa Pacar di Bawah Umur, Pemuda Wonogiri Ancam Sebar Video
Polres Wonogiri menangkap pemuda 18 tahun yang diduga melakukan kekerasan seksual dan memeras korban dengan ancaman penyebaran rekaman.
Antrean di roti bakar Alvin/Harian Jogja-
Harianjogja.com, JOGJA—Jajanan roti bakar tak asing dan banyak ditemukan. Kudapan satu ini digemari oleh beragam kalangan, mulai anak-anak hingga orang dewasa. Ketika malam hari, banyak penjual roti bakar akan bisa ditemui di pinggir jalan. Biasanya, mereka menggunakan gerobak untuk menjajakan dagangannya.
Namun, berbeda dengan Roti Bakar Alfin yang tidak menjual roti bakarnya pada malam hari. Dengan menggunakan gerobak yang ukurannya relatif lebih kecil ketimbang gerobak roti bakar pada umumnya, Roti Bakar Alfin akan mangkal di samping SD Negeri Keputran 2, di Jalan Kadipaten Kidul No.17, Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Jogja, setiap pagi pukul 09.00 WIB.
Meski berjualan di dekat sekolah, yang mengerubuti gerobaknya bukan hanya siswa sekolah dasar, melainkan juga orang-orang dewasa. Para orang tua yang sedang menjemput anaknya sekolah pun tak mau kalah. Mereka harus sabar mengantre setelah menuliskan pesanannya pada sebuah buku kecil yang diletakkan di dekat daftar menu.
Berbagai pilihan rasa dari isian roti bakar ditawarkan oleh Heru Surajito, sang pemilik Roti Bakar Alfin. Mulai dari cokelat, keju, stroberi, sosis, hingga rasa kekinian seperti greentea. Meski begitu, sejak 2008 ia mulai berjualan, rasa yang selalu diminati oleh pelanggan yaitu cokelat.
Satu yang menjadikan roti bakar buatan Heru istimewa adalah roti yang digunakan merupakan buatan sendiri. Heru mengatakan roti yang diproduksinya merupakan roti tawar yang rasanya sangat tawar karena kadar gulanya hanya sedikit.
”Rotinya saya produksi sendiri. Kayak roti biasa itu, tapi [roti] tawarnya lebih tawar karena kandungan gulanya lebih sedikit. Jadi, rasanya berani di isian itu. Kalau roti saja, tawar banget. Buat [penyandang] penyakit gula itu bagus,” jelas Heru kepada Harian Jogja, belum lama ini.
Dalam sehari, Heru bisa mengoven sekitar 300 buah roti tawar yang kemudian akan dijajakan. Ketika pemesan sudah menuliskan pilihan isian yang diinginkan, Heru akan mengisi bagian tengah roti yang sudah dibelah itu dengan isian. Setelah itu, ia akan menggorengnya di atas teflon panas sampai permukaan rotinya agak kering.

Setiap roti yang sudah dipanggang kemudian akan dibungkus menggunakan kertas minyak dan plastik bening untuk memudahkan para pelanggannya untuk makan roti bakar tanpa takut tangan kotor akibat minyak. Heru juga masih menawarkan apakah ingin diberi topping atau tidak. Sehingga, akan dihasilkan rasa yang kuat ketika dimakan. Permukaan roti yang kering ini juga menambah kenikmatan Roti Bakar Alfin yang cocok disantap dalam keadaan masih hangat.
Tak perlu merogoh kantong terlalu dalam, sebab harga per biji Roti Bakar Alfin ini sangat merakyat. Harga bervariasi tergantung dari isian pilihan pelanggan, namun tetap ramah di dompet sebab hanya berkisar antara Rp2.000 hingga Rp5.000.
Setiap hari Senin-Sabtu, gerobak Roti Bakar Alfin dapat dijumpai di sebelah barat SD Negeri Keputran 2. Sedangkan, pada hari Minggu, Heru akan berpindah jualan di Alun-Alun Utara. Jangan datang terlalu siang jika ingin menikmati setangkup roti bakar aneka isi ini, sebab sekitar pukul 13.00 WIB Heru akan menutup lapaknya karena roti bakarnya telah terjual habis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Polres Wonogiri menangkap pemuda 18 tahun yang diduga melakukan kekerasan seksual dan memeras korban dengan ancaman penyebaran rekaman.
Sekjen parpol koalisi pemerintah berkumpul di rumah Sugiono. Pertemuan diisi silaturahmi dan refleksi menjelang 17 Agustus.
Polda Metro Jaya menetapkan empat tersangka kasus tantangan hafalan surat Al-Qur'an berhadiah minuman beralkohol di The Sound Project.
Profil Dewi Astutik, sosok yang dikaitkan dengan jaringan narkoba Segitiga Emas dan kasus penyelundupan 2 ton sabu.
Pelajar SMP di Bantul dibekali kecakapan digital untuk menghadapi FOMO, cyberbullying, hoaks, dan risiko penggunaan layar berlebihan.
Empat anak Michael Bambang Hartono menerima warisan saham senilai sedikitnya US$2,93 miliar dari perusahaan induk keluarga Hartono.