JALAN-JALAN : Menikmati Sore di Tian Zi Fang

05 Juni 2013 07:48 WIB Wisata Share :

[caption id="attachment_412917" align="alignleft" width="370"]http://www.harianjogja.com/baca/2013/06/05/jalan-jalan-menikmati-sore-di-tian-zi-fang-412916/ngopi-1" rel="attachment wp-att-412917">http://images.harianjogja.com/2013/06/ngopi-1-370x277.jpg" alt="" width="370" height="277" /> Foto Suasana salah satu kedai di Tiang Zi Fang, Shanghai, China
JIBI/Harian Jogja/Wisnu Wardhana[/caption]

Berkunjung ke Shanghai, China, rasanya kurang pas kalau tidak mengunjungi Tiang Zi Fang untuk bersantai sekadar ngobrol, minum kopi, beer atau makan. Tempat apakah Tiang Zi Fang ini?

Tian Zi Fang merupakan gang-gang kecil dengan bangunan rumah di kiri kanannya. Di sepanjang gang banyak terdapat lampion.

Di sini terdapat banyak kios kecil yang menjajakan oleh-oleh dan barang antik khas China. Ada juga jam tangan unik, tas dan lainnya. Para penjual di tempat tersebut juga ramah. Harga-harga di sini sudah harga pas, tidak bisa ditawar. Tetapi tidak ada salahnya kalau ingin mencoba. Siapa tahu ada yang bisa ditawar.

Sebelum terkenal seperti sekarang ini, dahulunya, tempat ini merupakan kawasan kumuh. Rumah-rumah kecil berlantai dua atau tiga berdiri saling berimpitan. Untuk jalan ada gang kecil yang lebarnya tak lebih dari 2 meter. Banyak belokan-belokan gang yang semuanya sempit.

Arsitektur rumah bergaya Shi Ku Men, yaitu paduan arsitektur tradisional Shanghai-Hai Pai, dengan arsitektur Barat di awal abad 20. Tembok-tembok rumah berbata merah dibiarkan telanjang sehingga menambah keunikan tempat tersebut. Bahkan kabel listrik pun juga jelas kelihatan.

Ada pemilik rumah yang masih tinggal di lantai dua dan memanfaatkan lantai satu untuk membuka usaha. Ada pula pemilik rumah yang memanfaatkan kedua lantai rumahnya untuk membuka usaha, sementara ia dan keluarganya tinggal di luar Tian Zi Fang.

Sebagian kecil lainnya mengontrakkan rumah mereka kepada orang lain sebagai tempat usaha. Karena masih ada yang tinggal di tempat tersebut, jadi jangan heran kalau melihat jemuran yang dibuat menjorok ke luar rumah dan biasanya ini ada di lantai atas.

Sore itu, Sabtu (4/5/2013), kami berlima menyusur gang-gang di Tian Zi Fang. Selain jemuran, ada pemandangan lain yang cukup mencolok, yaitu lampion-lampion warna merah yang sebagian bersusun dengan indahnya. Ada sekitar 200 rumah di sana.

Usaha yang banyak digeluti adalah kedai kopi, bar, galeri, restoran, bistro, toko produk kerajinan, dan lukisan, serta studio seni rupa. Meski dibiarkan apa adanya dengan retakan tembok di sana sini di antara pintu-pintu kayu berwarna kusam, setiap sudut ruang ditata menarik.

Rak-rak kayu, topeng-topeng, patung-patung batu dan kayu, karya-karya foto dan lukisan dalam ukuran besar dan kecil, pot-pot dan tanaman gantung semuanya ada. Bahkan toilet pun dibuat dengan unik, meski tempatnya cukup sempit.

Kecilnya ruang membuat pemilik usaha memanfaatkan gang untuk menata kursi dan meja. Kursi-kursi ini membuat gang kecil itu menjadi kian sempit. Bahkan terkadang kalau kita jalan-jalan harus rela berdesak-desakan.

Tidak hanya kedai kopi, bar atau restoran. Tempat tersebut juga menjadi salah satu tempat untuk berjualan souvenir. Sebagian galeri, studio seni rupa, dan toko kerajinan di sana yang mendekorasi ruang dengan tema-tema bermacam etnik dan kebangsaan, atau kontemporer. Suvenir yang dijual pun cukup unik.

Tidak salah jika tempat ini jadi favorit wisatawan asing yang berkunjung ke Shanghai. Tidak hanya itu, wisatawan lokal China pun juga yang berkunjung. Bahkan komunitas fotografi juga memilih tempat ini untuk berfoto. Mereka membawa model sendiri, seperti yang kami saksikan sore itu.

Kami berkeliling gang-gang sempit tersebut untuk menyaksikan keindahannya sekaligus mencari tempat yang paling asyik untuk bercengkerama. Setelah cukup lelah berjalan, kami duduk melepas lelah di depan Kedai Corner Asia.

Tempat ini bersebelahan dengan Alley Caffee & Bar. Kami pun memesan tiga gelas besar beer Paulaner untuk tiga rekan pria, sebotol corona dan segelas besar es krim coklat untuk dua rekan putri, datang. Hidangannya, sepiring roti lapis berisi sayur mayur, dan sepiring kayu pizza panas.

Suhu yang dingin—ketika kami datang suhu antara 10-20 derajat celcius—membuat saya menggigil kedinginan. Apalagi saya pas tidak membawa jaket. Angin yang berhembus kencang membuat dingin serasa menusuk tulang. Bahkan teman-teman yang berjaket pun merasakan dingin yang luar biasa. Maklum suhu di Indonesia jauh di atas itu.

Tian Zi Fang, kalau dibandingkan mungkin mirip kawasan Sosrowijayan Jogja dengan gang-gang sempitnya. Tetapi Tiang Zi Fang jauh lebih tertata, lebih rapi dan cukup bersih. Bahkan tempat tersebut menjadi salah satu lokasi favorit bagi wisatawan. Kapan Jogja bisa memiliki tempat seperti ini?