KULINER SLEMAN : Puasa, Permintaan Nugget Nila Melonjak

Pekerja di Unit Pengolahan Ikan Mino Ngudi Lestari Dusun Nayan, Desa Maguwoharjo, kecamatan Depok sedang mengolah ikan nila menjadi nugget, Kamis (9/7/2015). (JIBI/Harian Jogja - Bernadheta Dian Saraswati)
12 Juli 2015 08:20 WIB Wisata Share :

Kuliner Sleman menawarkan nugget ikan nila.

Harianjogja.com, SLEMAN-Bulan puasa seperti ini menjadi berkah peruntungan bagi Unit Pengolahan Ikan (UPI) Mino Ngudi Lestari Dusun Nayan Desa Maguwoharjo Kecamatan Depok. Pasalnya, permintaan olahan ikan meningkat drastis dari biasanya.

Salah satu olahan favorit di tempat ini adalah nugget nila. Rasanya yang gurih dan mengandung protein tinggi menjadi menu berbuka puasa yang banyak dicari. Hanya dengan lima orang pekerja, pengelola UPI Mino Ngudi Lestari Heri Santisa pun sampai kewalahan melayani konsumen.

"Kalau musim seperti ini [bulan puasa] yang pesan naik 50 sampai 60 persen," kata Heri saat ditemui di showroom UPI Mino Ngudi Lestari, Kamis (9/7/2015).

Selain dari Jogja, kebanyakan pemesan datang dari luar kota. Seperti Bandung, Magelang, Solo, dan Cirebon. Tidak hanya nugget yang banyak dicari, olahan lain seperti rolade nila, sosis, bakso, dan otak-otak nila juga diburu.

Heri mengaku pada bulan puasa seperti ini omzet mencapai Rp15.000. Awalnya, petani ikan di Dusun Nayan hanya fokus pada pembibitan nila. Bibit nila dan juga nila siap konsumsi dijual segar ke beberapa daerah di Jogja. Para petani merasa hasil panenan ikan terus meningkat namun pendapatan hanya meningkat sedikit.

"Setelah kita pikir-pikir, ternyata karena kita hanya jual ikan segar. Kalau nila segar sekilo Rp20.000. Kalau diolah bisa dua kali lipatnya maka kita tambah jual olahan nila," ungkapnya. Akhirnya bersama kelompok pembudidaya ikan di kampungnya, Heri mulai mengolah ikan menjadi makanan kering seperti baby ikan nila dan juga nila krispy.

Tanggapan konsumen pun baik. Semakin hari semakin banyak orang yang mengenal produknya. Menurut Heri, salah satu penyebabnya karena produk Mina Ngudi Lestari diproduksi secara higienis, tidak menggunakan pengawet, dan telah mendapatkan standar kelayakan pengolahan (SKP) dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.

Menu favorit KPI Mino Ngudi Lestari lainnya adalah dawet nila. Dawet yang selama ini hanya terbuat dari tepung atau ubi, di tangan ibu-ibu Dusun Nayan ini dapat diolah jadi cendol dawet. Cara pembuatannya sama, hanya saja kalau untuk dawet nila, tepung aren dicampur dengan daging nila yang telah dikukus dan dihaluskan.

Jauh dari bayangan, dawet nila sama sekali tidak mengeluarkan bau amis karena dicampur perasan buah lemon. Harga yang dipatok untuk satu gelas dawet ukuran besar adalah Rp5.000, sementara ukuran kecil Rp3.000.