KULINER KULONPROGO : Roti Kolombeng, Roti dari Jaman Dulu

-Seorang warga memasukkan adonan roti kolombeng ke dalam loyang cetakan di sebuah rumah produksi di Dusun Diran, Desa Sidorejo, Kecamatan Lendah, Kulonprogo, Selasa (18/10/2016) pekan lalu. (Rima Sekarani I.N./JIBI - Harian Jogja).
29 Oktober 2016 16:20 WIB Rima Sekarani Wisata Share :

Kuliner Kulonprogo mengenai roti khas di Diran.

Harianjogja.com, KULONPROGO -- Roti kolombeng tetap memiliki tempat tersendiri di kalangan pecinta makanan tradisional. Sejumlah warga Dusun Diran, Desa Sidorejo, Kecamatan Lendah, Kulonprogo pun masih setia memproduksi roti kolombeng dan berusaha bertahan di tengah perkembangan kuliner moderen.

Roti kolombeng ala warga Diran tampak sederhana, baik dari sisi bahan maupun penampilan. Bahan utamanya memang hanya tiga, yaitu tepung tapioka, telur, dan gula pasir. Semua bahan dicampur menjadi satu. Adonan tersebut kemudian dituang ke dalam sebuah loyang dengan 10 cetakan roti dan dipanggang di atas tungku selama sekitar lima menit.

Cara pemanggangannya cukup unik. Bukan oven yang digunakan, melainkan kerajinan gerabah yang disebut mandeng. Loyang dimasukkan ke mandeng tersebut dan ditutup dengan mandeng lain yang berisi bara api. Roti pun diangkat jika sudah matang dan berwarna kecoklatan lalu dikeluarkan dari cetakan saat masih panas. Roti kolombeng terlihat sangat mengembang saat baru saja matang. Rasanya empuk dan manis. Namun, roti itu akan mengempis menjadi hanya sekitar setengahnya kalau sudah dingin.

Seorang warga Diran, Sutikno mengungkapkan ada tiga orang yang memproduksi roti kolombeng, yaitu dia sendiri serta ayah dan adiknya. Ayahnya membuat roti kolombeng sejak 1998, sedangkan Sutikno memulai pada 2009 lalu.

“Ini roti zaman dulu dan sudah semakin jarang dibuat. Dulu biasanya buat sesaji. Sekarang juga masih sering untuk acara tradisi,” kata Sutikno, Selasa (18/10/2016) pekan lalu.

Sutikno mengatakan, ketenaran roti kolombeng semakin menurun. Sebelumnya dia bisa memproduksi 2.000-3.000 buah per hari. Namun, saat ini rata-rata hanya 1.000 buah dan belum tentu dilakukan setiap hari. Menurutnya, kondisi itu karena variasi makanan sudah semakin banyak. Dia pun mesti bersaing dengan kuliner populer yang lebih moderen. Meski begitu, dia tetap setiap membuat roti kolombeng karena ingin mencari penghasilan sekaligus melestarikan makanan tradisional.

Roti kolombeng buatan Sutikno dijual di sejumlah pasar tradisional di wilayah Sleman. Ayah dan adiknya diketahui memasarkan roti itu ke sekitar Jogja dan Bantul. Mereka juga melayani konsumen yang datang langsung ke rumah. Harganya cukup terjangkau, yaitu sekitar Rp1.500-2.000 per buah.

Salah satu konsumen bernama Arning mengaku membeli roti kolombeng untuk disajikan dalam acara keluarga. Dia memilih untuk datang langsung rumah produksi agar bisa membawa pulang roti yang masih hangat.

“Rasanya khas dan beda sama bolu lain. Ini tidak pakai pemanis dan pengawet. Saya malah paling suka yang kering dan agak gosong,” ujar Arning