Ayam Taliwang Lombok Menyimpan Cerita Sejarah

Ayam Taliwang khas Lombok - Youtube
17 Oktober 2018 10:35 WIB Eva Rianti Wisata Share :

Harianjogja.com, LOMBOK-Lombok menyimpan khazanah kuliner yang sangat menggugah selera lidah para penikmatnya. Di balik kelezatannya, kuliner khas Lombok tersebut juga menyimpan cerita sejarah yang menarik. Di antaranya Ayam Taliwang dan Sate Rembiga.

Ayam taliwang merupakan salah satu kuliner yang paling populer di Lombok. Kuliner ini mengambil nama dari Karang Taliwang, kampung yang menjadi cikal bakal para juru masak di tengah peperangan sengit antar Kerajaan Karangasem.

Konon, menurut sejarah, makanan ini dinilai mampu meredakan konflik. Suatu ketika, Ayam Taliwang karya para juru masak di zaman itu disuguhkan di meja makan para pemimpin kerajaan Karangasem.

Berkat kenikmatan bumbu yang meresap ke dalam daging ayam, gemuruh emosi yang membuncah diantara mereka menjadi terkikis. Masyarakat meyakini bahwa makanan memang pembawa diplomasi.

Namun, sumber lain menyebutkan bahwa kemunculan Ayam Taliwang berasal dari racikan Ayam Pelalah buatan seorang Nini Manawiyah pada 1960-an.

Nini menjual bakulan berisi Ayam Pelalah dan Beberuk Terong ke pasar. Kelezatan masakannya tenar se-Mataram. Ayam ini kemudian diberi nama Ayam Taliwang karena diambil dari lokasi rumahnya di Karang Taliwang.

Hingga kini, Ayam Taliwang terus eksis. Kuliner ini memiliki ciri khas rasa yang pedas. Rasa pedas ini sesuai dengan lidah dan selera Suku Sasak. Namun, tidak hanya pedas, perpaduan rasa manis dan gurih kian menambah cita rasa yang semakin memanjakan lidah.

Chandra, Chef Putera Lombok, salah satu restoran yang menyajikan sejumlah makanan khas Lombok menceritakan bahwa ayam kampung yang dipakai dalam sajian Ayam Taliwang pada umumnya memiliki usia 30 hari.

“Umumnya 30 hari, tetapi kalau di sini [Jakarta] kita menyesuaikan pasar menjadi 45 hari. Umur ayam yang muda ini membuatnya terasa lebih empuk,” ujarnya.

Banyak varian rasa Ayam Taliwang yang selalu dikreasikan resepnya, diantaranya plecingan, pedas manis, madu, dan kecap. Setiap varian memiliki tingkat kepedasan yang berbeda.

Selain varian yang bisa dikreasikan, bentuk sajian juga bisa. Seperti Chandra yang mengkreasikan Ayam Taliwang menjadi Taliwang Lollipop.

Sesuai namanya, Ayam Taliwang ini berbentuk selayaknya permen lollipop yang dinikmati dengan cara seperti makan permen lollipop pula.

“Kita bikin seperti lollipop supaya dimakannya enak,” tuturnya.

Bahan dasar dari kuliner ini berupa ayam kampung yang disisihkan jeroannya, jeruk limau yang diambil airnya, dan minyak goreng serta garam.

Adapun, bumbu halus yang digunakan berupa cabai merah besar yang dibuang isinya, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, tomat, gula merah, terasi, dan kencur.

Cara membuatnya terbilang mudah. Awalnya, cuci daging ayam dan lumuri dengan air jeruk serta garam, lalu didiamkan sejenak sekitar 15 menit.

Tumis bumbu yang dihaluskan hingga harum. Menghaluskan dengan cobek akan membuat bumbu terasa lebih menggugah selera.

Setelah itu, oleskan bumbu tersebut ke seluruh tubuh daging ayam. Panggang daging ayam hingga matang. Sayat bagian dalam ayam agar bumbu meresap ke dalam. Ayam Taliwang siap disajikan. Ayam Taliwang sering disajikan bersanding dengan Beberuk Terong dan Plecing Kangkung.

Selain Taliwang, ada pula kuliner Lombok yang saat ini tengah ngetren, yaitu Satai Rembiga. Satai yang sangat dekat dan lekat dengan Suku Sasak ini berasal dari Kecamatan Rembiga di Lombok, NTB.

Tidak berbeda dengan Ayam Taliwang, Satai Rembiga ini juga memiliki sejarah yang berasal dari suatu daerah, yaitu Kelurahan Rembiga. Resepnya lahir dari keluarga Kerajaan Pejanggik, salah satu kerajaan di Lombok tengah yang paling terkemuka di akhir abad ke-17.

Satai Rembiga kemudian dinikmati secara turun-temurun dan berkembang menjadi makanan yang dijajakan di luar banteng kerajaan. Hingga saat ini, kuliner ini justru naik daun.

Sapi sebagai bahan dasar dari kuliner ini hidup dan berkembang biak di kawasan savana yang sangat sempurna untuk menjadi habitatnya. Para sapi ini hidup di alam bebas sehingga bisa bergerak dengan leluasa dan memakan rumput serta tidak mengonsumsi pakan pabrikan. Alhasil, daging-daging sapi ini menjadi lebih manis.

Dalam proses pembuatan kuliner ini, daging sapi dilumuri dengan bumbu pedas manis yang berasal dari campuran terasi, cabai rawit, cabai merah besar, bawang putih, dan gula aren. Sekitar 12 jam, bumbu dibiarkan meresap pada badan daging agar cita rasanya semakin kaya.

Ketika mengunyah satai ini, rasa pedas-manisnya memang langsung terasa. Selain rasa pedas-manis, juga seperti ada rasa asin dan gurih di dalamnya.

Kedua kuliner ini masih terus dikenal keotentikannya karena menggunakan bumbu asli Lombok.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia