Ingin Nikmati Keindahan Sungai Progo, Anda Harus Jajal Tempat Wisata yang Baru Ini

Wisatawan sedang berswafoto di sekitar Bendung Kamijoro, Sabtu (16/2/2019). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
17 Februari 2019 15:20 WIB Ujang Hasanudin Wisata Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Tak hanya diandalkan sebagai sumber irigasi, Bendung Kamijoro yang berada di Desa Triwidadi, Kecamatan Pajangan, Bantul kini punya fungsi lain, yakni sebagai destinasi wisata.

Kepala Dinas Pariwisata Bantul, Kwintarto Heru Prabowo mengatakan jawatannya kini tengah mendampingi pengelola objek wisata Bendung Kamijoro. Pasalnya popularitas objek wisata itu terus meningkat sejak dua pekan terakhir atau sejak jembatan penghubung menuju Kulonprogo selesai dibangun.

Pendampingan itu, kata dia, dilakukan agar objek wisata yang baru dibuka itu memiliki jaminan dan standar keamanan serta kenyamanan. "Keamanan dan kenyamanan paling utama yang harus dikedepankan pengelola," kata dia, Sabtu (16/2/2019).

Kwintarto tidak ingin objek wisata menimbulkan membawa kesan negatif hanya karena kurangnya persiapan pengelolaan, belum terkoordinasinya antara pengelola parkir, pedagang, dan masyarakat sekitar. "Jangan sampai dikelola perorangan, bisa rebutan nanti," kata Kwintarto.

Bendung Kamijoro yang berada di Dusun Plambungan, Desa Triwidadi, Pajangan itu merupakan pengembangan dari Taman Belanda yang dibangun puluhan tahun lalu. Kawasan tersebut merupakan pusat pengairan untuk mengairi sawah di beberapa kecamatan di antaranya Pajangan, Kretek, Bambanglipuro, Srandakan, dan Pandak.

Namun direnovasi kembali oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Tak hanya merenovasi bendungan, namun Kementerian PUPR juga membangun jembatan di atas Sungai Progo yang menghubungkan Dusun Plambungan, Desa Triwidadi, Pajangan Bantul dan Dusun Kaliwiru, Desa Tuksono, Sentolo, Kabupaten Kulonprogo.

Jembatan yang dibangun sepanjang sekitar 160 meter dan lebar tiga meter itu kini jadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Namun berdasarkan pantauan Harian Jogja, Kamis (14/2) kanan kiri jembatan masih terbilang rawan lantaran pengamannya hanya berupa dua besi memanjang, sehingga rongganya terlalu besar dan membahayakan jika dilintasi oleh anak-anak.

Tidak hanya di Taman Belanda yang ramai, namun bagian seberangnya yang berada di wilayah Kulonprogo juga cukup ramai. Bahkan di sana sudah dilengkapi taman bermain, prasasti bertuliskan Bendung Kamijoro. "Saya baru pertama ke sini tempatnya bagus juga. Saya tahu Bendung Kamijoro dari kawan saya, lalu langsung ke sini karena penasran," kata Amalia, salah satu pengunjung.

Sampai saat ini, tidak ada tiket masuk untuk menuju kawasan Bendung Kamijoro. Pengunjung hanya dikenakan tarif parkir Rp2.000 oleh warga. Terlihat sejumlah pedagang makanan dan kerjinan menjajakan dagangannya hingga jalan masuk jembatan.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Plambungan, Yandaru mengatakan Bendung Kamijoro belum diresmikan. Namun karena desain bangunan bendungan dan jembatan sekitar enak dipandang sehingga membuat wisatawan berdatangan. "Tepatnya sejak awal Februari mulai banyak pengunjung," kata Yandaru.

Setiap hari pengunjung yang datang bisa sampai 1.000 orang sampai 1.500 orang, bahkan saat libur akhir pekan bisa sampai 3.000 orang. Dia mengatakan pengelolaan Bendung Kamijoro wilayah Plambungan sudah dikelola satu pintu melalui Pokdarwis baik pengelolaan parkir maupun pedagang.

Namun belum diresmikannya kompleks bendungan itu membuatnya kesulitan dalam mengelola. “Kontrktor masih memperbaiki beberapa bagian. Setelah ada peresmian nanti, rencananya, kata dia, pokdarwis akan lebih serius mengelola. Bukan hanya jembatan yang menjadi daya tarik, namun akan menjual taman belanda.”