Advertisement
Merasakan Manis Gurih Wedang Angsle Khas Jatim di Jogja
Wedang angsle - Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Kehangatan dan kesegaran wedang angsle biasanya hadir lewat para pedangang yang berkeliling di malam hari menggunakan gerobak. Minuman khas Jawa Timur ini juga dijual di Jogja. Tepatnya di sebuah warung kecil milik Susianti, 59, di seberang SMA IT Abu Bakar, Jalan Rejowinangun No.28 E, Rejowinangun, Kotagede, Jogja.
Sebelumnya, wedang angsle ini dijual di seberang kantor PLN Jogja. Susianti menyebut, minuman satu ini sangat jarang ditemukan di Jogja. Ia menyebut mulai berjualan sejak 2010. Warung wedang angsle miliknya buka pada pukul 15.00 WIB hingga 22.00 WIB, namun buka hingga malam rasanya mustahil. "Biasanya setelah adzan isya sudah habis, saya hanya jual sedikit, maksimal 50 mangkuk, banyak yang kecelik," kata Susi, kepada Harian Jogja, belum lama ini.
Advertisement
Wedang angsle buatan Susianti sudah melegenda hingga Boyolali, Magelang dan Jawa Barat. Banyak pecinta wedang angsle dari daerah tersebut jauh-jauh datang ke Jogja hanya untuk merasakan angsle buatannya.
Butiran kacang hijau yang empuk dipadu dengan harumnya ketan putih yang lembut dihasilkan dari proses dua kali pengukusan. Kandungan air di dalam kacang hijau dan ketan diminimalisir agar teksturnya empuk. Potongan roti tawar terasa lembut di lidah berpadu dengan wanginya kacang hijau dan ketan putih yang disiram dengan kuah wedang angsle akan memanjakan lidah penikmatnya.
"Biasanya wedang angsle itu santannya kental, oleh karena itu manisnya juga sangat manis. Kuah saya berbeda, santan saya tidak kental, agak jernih, saya biarkan wedang angsle saya tetap menonjolkan rasa gurih di kuahnya, gulanya tidak ditambahi," katanya.
Susianti mengaku tidak tahu cara membuat butir jenang dari tepung beras, seperti yang ada pada makanan Putu Mayang. Makanan itu biasanya ada pada wedang angsle, namun Susianti lebih memilih menggunakan potongan agar-agar aneka warna untuk menggantikan jenang tepung beras.
Kenyalnya potongan agar-agar menjadi sensasi rasa berbeda di tengah seluruh bahan wedang angsle yang terasa manis. Agar-agar digunakan Susianti agar lidah penikmat wedang angslenya merasakan sensasi dingin di tengah kuah yang panas. Bagi penikmat yang tak terlalu suka rasa manis kuah angsle, agar-agar ini dapat menjadi penetral rasa.
Satu mangkuk wedang angsle Susianti dipatok harga Rp5.000. Dalam sehari, Susianti hanya menjual 50 mangkuk wedang angsle. Susianti menyarankan pada penikmat wedang angsle agar datang tak terlalu malam apabila ingin menjajal angsle buatannya. Sebab biasanya pukul 19.00 WIB dagangannya sudah ludes.
"Meskipun begitu saya juga menerima pesanan. Bisa pesan tiga hari sebelumnya untuk arisan, pengajian dan pernikahan. Kalau digabung dengan permintaan itu, sebulan saya bisa jual ratusan mangkuk," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- WISATA RAMADAN: Jejak Dakwah di Kampung Maksiat Samarinda
- Siap-Siap Long Weekend! Libur Awal Ramadan Jatuh pada 18-20 Februari
- Panduan Wisata Jogja 2026: Dari Glamping hingga Hidden Gems
- Malaysia Perkenalkan Panda Raksasa Baru Chen Xing dan Xiao Yue
- Tren Wisata Solo Bergeser ke Destinasi Publik dan Hits Baru
Advertisement
Aniaya Pengguna Jalan di Muja Muju, Bang Jago Ngopo Diringkus Polisi
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement








