Unik, di Kulonprogo Ada Camilan Bawang Goreng dengan Aneka Rasa

Dwi Nurani, Ketua KWT Putri Manunggal menunjukkan varian kemasan bawang goreng Superbram yang diproduksi kelompok tersebut, Rabu (9/10/2019). - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
10 Oktober 2019 08:57 WIB Lajeng Padmaratri Wisata Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO - Sebagai sentra bawang merah, di Desa Srikayangan, Sentolo, Kulonprogo tak semua petani hanya menjual bawang mentah. Di sana, ada kelompok wanita tani yang mengolah bawang merah mentah menjadi olahan bawang goreng bermerk Superbram.

Dwi Nurani, 57, ketua Kelompok Wanita Tani Putri Manunggal mengungkapkan sejak dahulu di Desa Srikayangan sudah terdapat ibu-ibu yang mengolah bawang merah menjadi bawang goreng secara pribadi.

Namun, baru pada 2018 ibu-ibu di sana memutuskan untuk membuat kelompok yang berfokus mengolah bawang goreng bernama KWT Putri Manunggal. "Kini ada 21 anggota," kata dia.

Ditemui terpisah, Kepala Desa Srikayangan, Aris Puryanto, menjelaskan bahwa hal ini dilakukan sebagai siasat menghadapi harga bawang merah yang anjlok pasca panen.

"Terobosan ini untuk menanggulangi pasca panen bawang merah yang harganya anjlok. Kalau jadi bawang goreng akan meningkatkan nilai jual bawang merah," ujarnya.

Untuk itu, sejak tahun 2018 dibuatkan rumah produksi di Pergiwatu Wetan RT 33 RW 17, Desa Srikayangan, Sentolo. Adapun kegiatan ini mulanya didampingi oleh Corporate Social Responsibility dari Bank Indonesia dan mendapatkan pelatihan dari Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gajah Mada.

Saat ditemui di sela-sela pengepakan bawang goreng, Rabu (9/10/2019) Dwi membenarkan bahwa sebelum diolah menjadi bawang goreng, ia juga sempat kesulitan menjual bawang merah hasil panennya. "Saya dulu pernah jual perkilo Rp7.000 nggak laku. Sudah saya tawarkan boleh dibeli berapapun saja pada enggak mau," tuturnya.

Hal itu tidak dapat dipungkiri jika bawang merah yang dipanen sedang berkualitas rendah. "Saya akui saat itu panenan bawang merah saya kecil-kecil. Pada enggak mau beli, karena pasti pada pilih bawang merah yang berukuran besar," kata Dwi yang juga merupakan guru BK di SMAN 1 Pengasih ini.

Kini, kekhawatiran itu agaknya menemukan solusi. Dengan diolah menjadi bawang goreng, nilai jualnya turut terdongkrak. "Kalau digoreng bisa tahan lama, karena kering," kata Aris.

Untuk menjaga kualitas Superbram, KWT Putri Manunggal menggunakan alat spinner untuk mengeringkan minyak dari bawang gorengnya. Setelah dikemas ke dalam kemasan plastik dan toples plastik pun, tidak ada minyak yang mengendap di bagian bawah kemasan.

"Itu yang kami jaga, untuk membedakan kualitasnya dengan bawang goreng lain," ujar Dwi.

Saat ini, Superbram sudah bisa didapatkan di toko-toko di Kulonprogo, seperti salah satunya jaringan Tomira. "Produk kami juga sedang dikurasi untuk masuk bandara. Sekarang sedang diupayakan untuk pengemasan toples kaca, karena untuk menyasar pasar luar negeri lebih bagus toples kaca," kata dia.

Superbram terdiri dari berbagai variasi kemasan, mulai dari 200 gram seharga Rp35.000, 125 gram seharga Rp25.000, 80 gram seharga Rp20.000, dan kemasan toples 75 gram Rp20.000.

Sebagai pembeda dibandingkan produk bawang merah lainnya, Superbram memiliki tiga varian rasa, yaitu original, pedas, dan krispi. "Yang paling diminati varian krispi, karena sekarang bawang goreng itu sudah buat camilan," kata Dwi.