Melihat Rumah Khas Tionghoa di Museum Kapten Tan Jin Sing di Kampung Ketandan

Ruang makan konsep Tionghoa di museum rumah "Kapten Tan Jin Sing", Ketandan Kota Jogja. - Harian Jogja/Siti Halida Fitriati
05 Februari 2020 08:17 WIB Siti Halida Fitriati (ST19) Wisata Share :

Harianjogja.com, JOGJA -- Museum peranakan yang terletak di jalan Malioboro, tepatnya di Kampung Ketandan, Yogyakarta, menyuguhkan konsep perumahan Tionghoa.

Memasuki kampung Pecinan yang terletak di kiri jalan Malioboro, saat masuk sedikit kemudian berbelok ke arah kanan, sebelum memasuki kawasan pasar Beringharjo, di kanan jalan terdapat  papan bertuliskan "Kapten Tan Jin Sing". Di sanalah letak museum peranakan Tionghoa. Museum ini hanya dapat dikunjungi selama ajang Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY).

Sesampai di museum, memasuki ruang utama, terdapat patung berukuran kecil yang diletakkan di atas sebuah meja, berukuran sedang, dihiasi dengan lampu-lampu berwarna merah. Patung ini biasa digunakan sebagai tempat peribadatan.

Selanjutnya, terdapat ruang berukuran persegi panjang. Di sisi kiri merupakan ruang tamu, dihiasi dengan berbagai macam barang antik peninggalan leluhur yang diwariskan secara turun temurun, seperti radio, TV jadul, gramofon, dan banyak jenis lainnya.

Terdapat juga foto-foto keluarga, dengan corak warna hitam putih, sesuai dengan konsep zaman dahulu. Di sisi sebelah kanan terdapat berbagai pernak-pernik, seperti payung China dan juga dupa serta lilin merah, sangat khas dengan budaya Tionghoa.

Ruang tamu, menuju ke halaman belakang, dihubungkan dengan sebuah lorong pendek. Di kiri kanan lorong, terdapat kamar. Setiap kamar disediakan tempat tidur beratap dan berpenutup tirai.

Menuju ke halaman belakang, ruangannya cukup luas dibandingkan sebelumnya. Tidak terlalu banyak pernak-pernik, hanya terdapat meja makan berukuran besar. Ruang makan ini mengusung konsep outdoor, dapat digunakan oleh enam sampai delapan orang. Di dinding terdapat hiasan, berupa piring-piring pecah belah yang digantungkan, dengan berbagai macam corak bunga.

Layaknya rumah pada umumnya, di bagian belakang terdapat gudang, menampung berbagai macam barang tidak terpakai. Namun, karena orang-orang Tionghoa memiliki kebiasaan mengkoleksi barang antik peninggalan leluhur mereka, maka gudang dijadikan tempat penyimpanan barang-barang berharga dan tentunya memiliki nilai jual tinggi.

Rupa-rupanya, rumah yang dijadikan sebagai tempat perhelatan museum peranakan sampai pada tanggal 8 Februari Ini, merupakan peninggalan seorang Tionghoa peranakan, bernama Tan Jan Sing.

"Rumah ini merupakan rumah peninggalan Tan Jan Sing namanya. Ia seorang Tionghoa peranakan," kata Agus Handoko, selaku konseptor dari museum peranakan Tionghoa, ketika ditemui wartawan harianjogja.com di Pameran Rumah Budaya, Selasa (4/2/2020).

Tan Jan Sing adalah seorang kapiten Tionghoa, dan merupakan salah satu dari tiga keturunan Tionghoa yang berada di lingkungan Keraton Yogyakarta. Ia diberi gelar Kanjeng Raden Tumenggung Secadiningrat.

Adapun tujuan dari konsep living museum ini adalah untuk memperkenalkan, penampakan khas perumahan Tionghoa. Mulai dari tata letaknya hingga pada pernak-pernik yang disuguhkan di dalamnya.

"Saya konsep seperti rumah tinggal, rumah tinggal seorang peranakan Tionghoa itu seperti ini, supaya masyarakat tahu. Makanya penataannya kan ada ruang utama, ada ruang tamu, tempat tidur, ruang makan, seperti layaknya rumah tinggal. Saya kepengen masyarakat tahu sepeti ini perumahan Tionghoa dengan segala pernak-perniknya," ujar lelaki keturunan Tionghoa, akrab disapa Agus.

Tidak hanya memperkenalkan perumahan khas Tionghoa. Pameran rumah budaya ini juga menyuguhkan photobooth. Pengunjung dapat berfoto secara gratis, menggunakan barang-barang khas Tionghoa yang sudah disediakan, seperti menggunakan kebaya encim, dan berbagai pernak-pernik lainnya.

Bagi yang ingin menguji keberuntungan di tahun Tikus Logam ini, pameran rumah budaya juga menyediakan ruang khusus untuk meramal.

"Di sini juga tempat khusus unurk ramalan, dibuka mulai pukul 17.00. Ini nggak free, tapi nanti disediakan kotak, bisa bayar seikhlasnya, kalau nggak mau juga nggak apa-apa," kata Denis, selaku pengurus atau penjaga museum selama ajang PBTY.