Serunya Bersepeda Menyusuri Bangunan Warisan Belanda di Sleman

Sejumlah wisatawan menggunakan sepeda berhenti di salah satu bangunan kuno di kawasan Berbah, Sleman belum lama ini. - Ist/Dok Nge/Fiets.
15 Februari 2020 11:57 WIB Sunartono Wisata Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Sejumlah wisata berbasis masyarakat kini bermunculan di wilayah DIY. Salah satunya wisata dengan konsep  bersepeda menyusuri pedesaan dengan mengunjungi sejumlah bangunan warisan kolonial Belanda di wilayah Berbah, Sleman. Wisata berbasis masyarakat ini menyuguhkan suasana yang berbeda dan cocok bagi warga yang ingin menghilangkan kepenatan sekaligus berolahraga menggunakan sepeda yang telah disediakan.

Konsep wisata ini digagas oleh sejumlah pemuda desa di Kematan, Berbah, Sleman dengan nama Jogja Nge-Fiets. Komunitas yang tidak hanya sekedar mancal sepeda tetapi juga memberikan perhatian terhadap sejumlah bangunan warisan tempo dulu yang potensial jadi destinasi wisata.

Koordinator Komunitas Jogja Nge-Fiets Hari menjelaskan banyaknya bangunan bernilai sejarah di wilayah Berbah, Sleman baik peninggalan Jepang maupun Belanda. Pihaknya sudah melakukan sejumlah riset ringan mengumpulkan banyak data tentang cerita di balik berdirinya titik bangunan yang layak disinggahi sehingga pengunjung mendapatkan pengetahuan tambahan.

Bangunan itu antara lain peninggalan Belanda mulai dari bangunan bekas gudang pabrik gula serta rumah kuno berumur lebih dari 100 tahun tetapi hingga saat ini kondisi bangunan masih kokoh. Bahkan kawasan rumah kuno berciri khas arsitektur Belanda ini sering digunakan untuk lokasi pembuatan film dokumenter maupun film dengan kemasan tempo dulu.

"Ini memiliki nilai informasi yang menarik, karena ada di beberapa titik lokasi maka kami melalui komunitas menyediakan sepeda bagi pengunjung," ungkapnya Sabtu (16/2/2020).

Hari mengatakan komunitas Jogja Nge- fiets ini baru ia rintis bersama sejumlah pemuda kampung pada September 2019 lalu. Meski tergolong baru, namun respons masyarakat sangat besar, banyak wisatawan dari berbagai daerah yang ingin bersepeda mengelilingi sejumlah bangunan warisan Belanda dan meninjau sejumlah desa di sisi timur Kota Jogja.

"Kami ingin ikut andil mengenalkan wisata di Sleman yang banyak dan beragam terutama untuk wisata sejarah. Harapannya sekaligus memberdayakan warga sekitar. Tetapi saat ini kami mengalami kendala teknis tidak memiliku cukup sepeda gunung yang layak untuk membawa wisatawan sehingga kami masih sewa sepeda," ungkap Hari yang juga penggerak komunitas Jogja Nge-fiets ini.

Ia mengaku kesulitan mendapatkan sewa sepeda untuk hari libur seperti Sabtu dan Minggu karena banyaknya permintaan sehingga belum bisa memberikan pelayanan maksimal. Banyaknya peminat karena masyarakat ingin menikmati wisata dengan cara berbeda. Komunitasnya menyediakan dengan bersepeda menyusuri perkampungan warga desa, jalan setapak  yang dikelilingi hijaunya tanaman. Sehingga wisatawan akan merasakan sensasi berbeda. Mereka bisa berselancar ke sejarah masa lalu kejayaan Belanda sekaligus berolahraga ringan  melintasi suasana pedesaan yang sangat asri.

"Wisatawan juga diajak mengunjungi sejumlah bangunan peninggalan tentara  Jepang dan mengenalkan potensi warga lokal yang selama ini belum terpublikasikan. Paket Rp300.000, dengan durasi sekitar tiga jam, setiap lokasi waktunya sekitar 20 sampai 30 menit," ujarnya. (Sunartono)