Mau Gaet Wisman? UGM: Patuhi Protokol karena Wisman Butuh Jaminan Keamanan Berbasis Fakta

nWisatawan asing melintas di lereng Gunung Merapi wilayah Kaliadem, Cangkringan, Sleman, setelah terjadi erupsi, Selasa (3/3/2020). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
03 Juli 2020 13:57 WIB Bernadheta Dian Saraswati Wisata Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Kepatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan selama new normal sangat berpengaruh dalam membangun kepercayaan wisatawan mancanegara (wisman) untuk berkunjung ke Tanah Air.

“Seberapa tinggi komitmen kita untuk menjalankan protokol kesehatan saat new normal itu sangat penting. Sudah berbudaya new normal belum? Kalau dijalankan dengan ketat bisa membuat wisman datang, tapi tanpa itu terlalu ambisius berharap turis akan datang ke tanah air,” kata Kepala Pusat Studi Pariwisata (Puspar) UGM, Prof. Janianton Damanik dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Kamis (2/7/2020). 

Menurutnya, jika masyarakat tidak displin menjalankan maka harapan tersebut sulit untuk terwujud. Wisman memerlukan jaminan keamanan berbasis fakta. Tidak hanya aman di destinasi wisata, tetapi juga kemanan saat berinteraksi dengan masyarakat tanah air yang telah menjalankan protokol kesehatan dengan ketat.

Melihat kondisi masyarakat tanah air dalam menjalankan protokol kesehatan, Janianto merasa ragu dapat menarik wisatawan manca negara untuk berkunjung. Pasalnya, masih banyak masyarakat yang tidak mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Sementara kunci utama membangun kepercayaan wisman adalah kepatuhan masyarakat menjalankan protokol kesehatan.

“Di jalan-jalan banyak terlihat orang bergerombol tanpa memakai masker, kalau wisman lihat tidak akan lagi menggubris promosi yang kita sampaikan jika masyarakat sudah taat protokol kesehatan,” urainya.

Situasi saat ini disebutkan Janianto, menjadi sebuah pembelajaran bahwa jaminan keamanan dari wabah merupakan hal yang sangat penting dalam sektor pariwisata. Karenanya, dalam kondisi saat ini hal utama adalah bagaimana membuat wisatawan percaya jika detinasi wisata aman.

Belajar dari pandemi ini, pelaku pariwisata juga diharapkan tidak lagi fokus dalam mengejar target jumlah pengunjung ke detinasi wisata namun lebih menguatamakan kualitas. Dalam tatanan kenormalan baru, dia menilai hal tersebut tidak lagi relevan.

“Jadi hanya menarik orang yang benar-benar melakukan aktivitas wisata bukan hanya sekedar hura-hura, tapi yang mau belajar di destinasi wisata. Buat paket wisata berkualitas tinggi yang memiliki nilai lebih dan ini menjadi tantangan bagi pelaku usaha pariwisata,” ucapnya.

Tidak kalah penting, pengelola/pelaku pariwisata untuk membuat sistim baru untuk manajemen pengunjung berbasis digital. Dengan begitu terdapat pengaturan waktu dan jumlah pengunjung di destinasi wisata yang diharapkan dapat menghindari penularan virus corona.

“Sistem manajemen pengunjung di destinasi wisata ini menjadi salah satu target perubahan di new normal,” pungkasnya. *