KABAR WISATA: Menikmati Jogja Exotarium di Era Pranatan Anyar

Anggota Komisi B DPRD DIY Yuni Satiya Rahayu saat berkomunikasi dengan Pemilik Jogja Exotarium Akbar Taruna (kanan) terkait penerapan protokol kesehatan di masa pranatan anyar, Minggu (25/10/2020). - Harian Jogja/Sunartono.
26 Oktober 2020 14:07 WIB Sunartono Wisata Share :

Harianjogja.com. SLEMAN—Jika ingin menikmati berfoto dengan berbagai jenis hewan atau menaiki bebek kayuh di sebuah Pulau Buatan, Mini Zoo Jogja Exotarium bisa menjadi referensi yang patut dicoba.

Kawasan wisata dengan konsep edukasi ini dibuka sejak akhir 2017 silam yang terletak di dua dusun yaitu di sisi timur merupakan Dusun Mulungan Kulon dan sisi barat Dusun Duwet, Desa Sendangadi, Mlati, Sleman. Jaraknya dari pusat Kota Jogja sekitar 10 kilometer dan bisa ditempuh dengan perjalanan sekitar 20 menit hingga 30 menit untuk waktu normal.

Jika ingin lewat pintu timur bisa melewati Jalan Magelang, setibanya di Km.8 lalu berbelok ke barat menuju Jalan Manunggal dan langsung terhubung ke pintu masuk sisi timur. Sedangkan jika ingin lewat pintu barat bisa melalui Jalan Kabupaten, kemudian masuk ke sebuah gang di Dusun Duwet. Gang tersebut berjarak sekitar 100 meter ke utara dari Kantor Stasiun Klimatologi BMKG DIY.

BACA JUGA : Wisatawan Luar DIY Mulai Berdatangan 

Pemilik Jogja Exotarium Akbar Taruna menjelaskan Jogja Exotarium di dalam terdapat wanasatwa, taman bunga, arena berkuda, area taman air bebek kayuh, tubing, flying fox hingga kolam renang. Namun di saat adaptasi kebiasaan baru ini belum semuanya dibuka karena masih penyesuaian.

“Saat adaptasi kebiasaan baru ini yang sudah dibuka mini zoo, taman bunga, arena berkuda dan bebek kayuh. Untuk sementara kolam renang masih menunggu protokol terkait bagaimana penerapan zona air, belum bisa buka semua,” katanya Minggu (26/10/2020).

Adapun wahana yang paling banyak diminati pengunjung adalah mini zoo, antara lain memberi makan Kura-Kura, kelinci, reptil dan berkuda. Selain itu bebek kayuh di danau yang mengelilingi pulau buatan juga sangat digemari pengunjung.

Pulau buatan ini disering disebut dengan istilah Segitiga Bermuda. Karena sudah ada lima drone yang jatuh dan tenggelam ketika mengambil gambar tanpa izin. “Lima drone yang jatuh rata-rata tidak izin dari petugas, ini pulau buatan,” ujarnya.

BACA JUGA : Objek Wisata Makin Ramai, Wisatawan Non-DIY Mendominasi

Untuk masuk cukup membayar Rp20.000 setiap pengunjung bisa menyaksikan berbagai wahana. Ada beberapa arena yang harus membayar lagi seperti berkuda dengan tarif antara Rp15.000 hingga Rp25.000. Jika pengunjung ingin naik bebek kayuh di pulau buatan atau sekitar Taman Bunga bisa membayar Rp20.000.

Pengunjung tidak perlu khawatir apabila ingin berfoto dengan sejumlah hewan di mini zoo karena petugas yang sudah memiliki pengalaman akan setia memberikan pelayanan dengan ramah. Saat pagi hari menjadi waktu yang tepat untuk jalan-jalan di kawasan ini karena udara masih segar dengan dikeliling berbagai tanaman dan area persawahan. Jika capek berjalan di tempat wisata seluas enam hektare ini anda bisa beristirahat karena disediakan gazebo di beberapa titik.

Pranatan Anyar

Guna memastikan realisasi adab kebiasaan baru dengan berbagai protokol ketat di kawasan wisata, DPRD DIY bersama dinas terkait terus melakukan pemantauan, simulasi dan edukasi. Untuk di DIY lebih dikenal dengan istilah pranatan anyar.

Anggota Komisi B DPRD DIY Yuni Satiya Rahayu menjelaskan salah satu simulasi pranatan anyar digelar di Jogja Exotarium sekaligus memberikan semangat kepada pelaku ekonomi serta kelompok sadar wisata di sekitar Kawasan tersebut. Mengingat beberapa bulan kawasan wisata ini sempat tutup akibat Covid-19. Harapannya termasuk dibukanya Jogja Exotarium ini dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat dapat mengungkit perekonomian bagi warga sekitar. Ia telah meminta keterangan secara langsung dari pengelola terkait bagaimana menerapkan protokol kesehatan dengan ketat.

BACA JUGA : HARIAN JOGJA HARI INI: Wisatawan asal Pulau Jawa Masuk 

“Kami sepakat, bahwa saat ini harus bercepat mencari peluang, pariwisata harus segera bangkit, mengingat kalau selama ini kita selalu dihadapkan pada masalah ekonomi. Dan ujung tombak ekonomi di DIY adalah pariwisata seperti destinasi wisata, desa wisata, hotel, restoran semuanya bisa menyerap tenaga kerja cukup banyak,” kata politikus PDIP ini.

Pengalaman pandemi Covid-19, kata dia, banyak yang harus ditaati bersama sehingga mau tidak mau semua yang masuk ke kawasan harus menggunakan masker. Selain itu ada hal-hal baru yang harus diperhatikan oleh pengunjung seperti tidak boleh berkerumun dan harus selalu menjaga jarak serta melakukan cuci tangan pada tempat yang sudah disediakan. Yuni berharap sektor wisata bisa memberikan kontribusi mengungkit ekonomi DIY di tengah sektor pendidikan yang belum bisa berjalan.

 “Sehingga kalau mahasiswa yang datang ke Sleman luar bisa, karena saat ini dianggap belum aman pendidikan masih daring, ini jadi tantangan bukan hanya pemerintah tetapi masyarakat, pengelola wisata harus beradaptasi dengan kondisi baru yang ada saat ini,” ujarnya.

Kabid Sarana Prasarana Dinas Pariwisata DIY Eliana mengatakan secara umum Jogja Exotarium sudah memenuhi berbagai syarat yang direkomendasikan dinas terkait pembukaan Kkwasan wisata di masa pranatan anyar. Ia berharap pengelola terus melakukan pemantauan kepada pengunjung. Selain itu jumlah pengunjung juga harus dibatasi.

BACA JUGA : Bus Wisata Malioboro-Parangtritis, Malioboro-Baron, & YIA

“Selain cek suhu, pengelola harus mengingatkan kepada pengunjung jika tidak memakai masker dan harus jaga jarak,” ujarnya.

Akbar Taruna tidak menampik bahwa akibat Covid-19 ini tempat wisata yang dikelolanya ikut terdampak. Pihaknya menerapkan protokol ketat sebelum masuk harus cek suhu, cuci tangan dan ada petugas yang terus melakukan pemantauan pengunjung. Jumlah pengunjung untuk hari biasa saat pranatan anyar ini berkisar antar 30 hingga 50 orang. Sedangkan akhir pekan bisa mencapai 250 orang. Jumlah itu menurun jauh dibandingkan saat sebelum Covid-19 paling tidak ada 500 orang yang berkunjung.

“Kami menerapkan protokol ketat, apalagi sempat ada klaster Cebongan yang dari sisi jarak tidak jauh dari kami, kami benar-benar harus ketat protokolnya. Sehingga pengunjung yang datang tidak perlu khawatir,” ujar dia.