4 Desa Wisata di Kulonprogo Didorong Jamin Keselamatan Wisatawan di Masa Pandemi Covid-19

Direktur Pengembangan Destinasi Regional I Kemenparekraf Ony Yulfian (kanan) saat menyerahkan bantuan papan protokol kesehatan kepada Bupati Kulonprogo, Sutedjo, dalam kegiatan sosialisasi CHSE dan gerakan BISA di Gua Kiskendo, Jatimulyo, Girimulyo, Selasa (10/11/2020). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
10 November 2020 15:07 WIB Jalu Rahman Dewantara Wisata Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mendorong empat desa wisata di Kabupaten Kulonprogo menerapkan standar keamanan dan keselamatan bagi wisatawan di masa pandemi Covid-19.

Keempat desa wisata itu meliputi Desa Wisata Segajih di Kalurahan Hargotirto, Kapanewon Kokap; Desa Wisata Jatimulyo, Jatimulyo, Girimulyo; Desa Wisata Tinalah, Purwoharjo, Samigaluh; dan Desa Wisata Glagah, Glagah, Temon. Bentuk dorongan dari Kemenparekraf itu berupa pemberian sosialisasi program Cleanliness, Healthy, Safety and Enviromental Sustainabilty (CHSE) dan gerakan Bersih Indah Sehat dan Aman (BISA).

BACA JUGA: Pengusaha Malioboro: Pemerintah Tak Pernah Bahas Uji Coba Bebas Kendaraan

"Melalui upaya ini kami harap destinasi wisata di Kulonprogo bisa kembali bangkit di masa pandemi Covid-19," kata Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Pariwisata, Kemenparekraf, Hari Sungkari, saat membuka kegiatan sosialisasi CHSE dan gerakan BISA secara virtual di kawasan Gua Kiskendo, Jatimulyo, Girimulyo, Selasa (10/11/2020).

Hari optimistis dunia pariwisata di Indonesia khususnya Kulonprogo bisa kembali bangkit setelah kemarin sempat terpuruk imbas pandemi Covid-19. Namun, untuk bisa merealisasikan kebangkitan itu, para pelaku wisata harus membekali diri mereka dengan ilmu soal pengoperasian wisata di masa pandemi. Beberapa hal yang perlu dilakoni adalah menerapkan CHSE dan gerakan BISA yang kini sedang digencarkan Kemenparekraf.

CHSE dan BISA menuntut pengelola maupun pelaku wisata agar bisa menjamin keamanan, kenyamanan serta keselamatan wisatawan yang berkunjung ke destinasi wisata. Terlebih di masa pandemi Covid-19 seperti ini, yang mana penerapan protokol kesehatan di destinasi wisata harus benar-benar diperhatikan, demi mengantisipasi penyebaran Covid-19 di lingkungan wisata.

"Jika kita bisa memastikan bahwa destinasi wisata itu aman untuk dikunjungi, insyaallah bisa menarik kunjungan wisatawan," kata Hari.

BACA JUGA: Akhir Tahun, TWC Upayakan Penambahan Kuota Jumlah Wisatawan

Direktur Pengembangan Destinasi Regional I Kemenparekraf Ony Yulfian lewat kegiatan ini, pelaku wisata diharapkan bisa lebih memahami tengah tentang apa saja yang perlu dilakukan dalam operasional destinasi wisata di masa adaptasi kebiasaan baru (AKB).

"Dengan telah ditetapkannya protokol kesehatan, maka wisatawan yang berkunjung ke destinasi wisata bisa dengan sendirinya cerita kepada orang lain bahwa destinasi tersebut telah menerapkan prosedur keamanan, keselamatan dan kesehatan sehingga akan mendorong wisatawan untuk mendatangi objek wisata itu," ujarnya.

Di samping memberikan pembinaan, empat desa wisata tersebut juga memperoleh bantuan peralatan penunjang program CHSE, meliputi tong sampah, westafel, disinfektan beserta alat penyemprot, masker, thermogun dan papan peringatan protokol kesehatan.

Bupati Kulonprogo Sutedjo mengapresiasi kegiatan yang telah digelar Kemenparekraf ini. Menurutnya memasuki masa AKB, seluruh masyarakat ihwal khusus pelaku wisata harus bisa kembali beraktivitas. Namun, dalam praktiknya, mereka harus menyesuaikan diri dengan program CHSE yang diterapkan melalui gerakan BISA.

"Tujuannya untuk membiasakan kita semua beradaptasi di AKB, dan memberdayakan pelaku wisata yang terdampak pandemi Covid-19. Sekarang wisata harus bisa menerapkan gerakan BISA guna menjamin keamanan pariwisata pada masa pandemi Covid-19, karena kekinian keindahan bukan tolok ukur wisata diminati, tapi bagaimana menjamin keamanan dan keselamatan wisatawan di lokasi wisata," ujar dia.