KABAR WISATA: Berpetualang Naik Jip Menaklukkan Pegunungan Menoreh

Salah satu spot foto di kebun teh Nglinggo, Samigaluh, Kulonprogo. - Ist/dok Parang Menoreh
03 Desember 2020 17:57 WIB Nina Atmasari Wisata Share :

Harianjogja.com, MAGELANG- Pegunungan Menoreh membentang di sisi selatan Pulau Jawa, melewati sebagian wilayah Kulonprogo DIY, Magelang hingga Purworejo, Jawa Tengah. Panjangnya pegunungan dengan lekuk-lekuknya menjadi tantangan yang menarik untuk ditakhlukkan.

Saat ini di Pegunungan Menoreh sudah terdapat jalan aspal yang bisa dilalui kendaraan bahkan hingga sampai ke puncaknya, di Suroloyo yang masuk wilayah Samigaluh Kulonprogo. Dengan medan yang berupa perbukitan, dibutuhkan kendaraan yang tangguh untuk menakhlukkannya.

Naik jip adalah pilihan paling tepat. Kendaraan adventure ini dipastikan mampu menakhlukkan medan yang ekstrem di perbukitan Menoreh. Peluang ini pun dimanfaatkan oleh pelaku wisata di lereng Menoreh Borobudur dengan membuka paket wisata menyusuri pegunungan Menoreh menggunakan jip.

Baca juga: KABAR WISATA: Romantic Garden, Wisata Instagramable di Kawasan JJLS

Salah satunya adalah komunitas Jip Parang Menoreh. Komunitas ini memiliki 12 jip yang siap melayani hasrat petualang wisatawan. Mengambil start di kawasan wisata sekitar Candi Borobudur, mereka menawarkan sejumlah paket tour dengan beragam rute dan harga yang bisa dipilih wisatawan.

Harian Jogja belum lama ini ikut merasakan langsung mengikuti trip panjang menyusuri Pegunungan Menoreh menggunakan jip dari Parang Menoreh. Rombongan kami bersama tim dari Bappeda Kabupaten Magelang saat itu, start di Lapanga Soepardi, Kota Mungkid di pagi hari.

Jip menyusuri kawasan pedesaan lewat jalur Sambeng menuju Desa Bigaran. Di sepanjang jalan ini, jalan masih banyak dilalui warga untuk beraktivitas. Pemberhentian pertama adalah Balkondes Bigaran, yang merupakan spot wisata khas kuliner coklat.

Perjalanan dilanjutkan ke spot kedua yakni puncak Suroloyo yang merupakan spot puncak Pegunungan Menoreh. Lokasinya di Desa Sidoharjo Samigaluh Kulonprogo. Jaraknya sekitar 15 km dari Borobudur. Jalur yang dilalui berupa pegunungan berlekuk-lekuk, namun kondisi jalan sudah beraspal.

Ruas jalan ini cenderung sepi hanya sesekali bertemu warga yang melintas, terutama warga lokal yang membawa rumput atau hasil pertanian. Selama perjalanan yang ditempuh sekitar 1,5 jam, sesekali akan ditemui rumah warga di tepi jalan.

Di sepanjang jalan ini, wisatawan akan disuguhi pemandangan alam Magelang di sisi kanan jalan, dan alam Kulonprogo di sisi kiri jalan. Semuanya berupa hamparan pepohonan yang menghijau dengan pemukiman penduduk di sela-selanya. Di beberapa titik perjalanan bisa berhenti untuk berfoto dengan latar belakang pemandangan tersebut.

Namun, pemadangan terindah ada di Puncak Suroloyo. Dari titik ini, wisatawan bisa menyaksikan hamparan alam Magelang mulai lembah Menoreh hingga Gunung Merapi dan sejumlah gunung lain di Jawa. Bahkan, Candi Borobudur tampak dari titik puncak ini.

Perjalanan dilanjutkan menuju kebun teh Nglinggo yang berjarak sekitar lima kilometer dari Suroloyo. Medan ini paling ekstrem sehingga sensasi naik jip paling terasa. Selain jalannya yang sempit, medan yang meliuk-liuk menjadikan sensasi tersendiri saat memilih untuk berdiri di bagian belakang. Jangan lupa berpegangan erat ya!

Di kawasan ini ada beberapa spot yang bisa menjadi tempat berhenti. Semuanya menawarkan pemandangan yang eksotik. Wisatawan bisa berfoto di antara tanaman teh yang menghijau, berfoto di atas jeep dengan latar belakang alam Pegunungan Menoreh, ada pula Puncak Kukusan yang menyediakan spot foto di atas papan bambu di ketinggian.

Puas berfoto-foto dan menikmati pemandangan alam, perjalanan dilanjutkan untuk turun. Spot terakhir menjadi tempat untuk beristirahat sekaligus menutup perjalanan dengan makan di rumah makan di kawasan Borobudur. Hari sudah senja saat kami tiba dan menikmati mi godog.

Pengemudi jip kami waktu itu, Rifaldi, mengungkapkan bahwa trip kali itu tergolong superlong. Rifaldi yang merupakan Bendahara Parang Menoreh menyebutkan trip itu ditawarkan pada wisatawan dengan harga Rp650.000 per trip, bisa untuk empat hingga lima orang. Rute lain yang bisa dipilih yaitu mengunjungi peternakan susu kambing ettawa, kebun teh Tritis, Nglinggo dan puncak Suroloyo.

Pilihan trip lain yakni Sunrise trip yang ditawarkan Rp550.000 dengan rute sunrise di Punthuk Setumbu, Gereja Ayam, produksi gula jawa dan madu. Paket medium seharga Rp450.000 berupa trip ke peternak madu lokal, proses produksi gula jawa, wisata susur sungai, petani jamur dan berfoto pemandangan.

Adapun trip terpendek ditawarkan menunjungi produksi madu lokal, proses produksi gula jawa dan berfoto dengan background Pegunungan Menoreh dan sawah, yang ditawarkan dengan harga Rp350.000. "Untuk titik kunjungan ini bisa diatur sesuai keinginan wisatawan," kata Rifaldi.

Ia menyebutkan Parang Menoreh sudah terbentuk sejak 29 Mei 2019. Selain menakhlukkan pegunungan Menoreh, mereka juga melayani rute lain di Magelang seperti seperti menuju Gunung Telomoyo atau lereng Gunung Sumbing.

Menurutnya, peminat wahana wisata jip ini cukup tinggi baik di hari biasa maupun hari libur. "Di hari biasa kebanyakan adalah rombongan kantor atau komunitas, kalau hari libur kebanyakan rombongan keluarga," katanya.