Persija Resmi Datangkan Alexander Jeremejeff untuk Musim 2026/2027
Persija resmi mendatangkan Alexander Jeremejeff untuk dua musim. Striker Swedia itu membawa pengalaman Eropa dan ketajaman di lini serang.
Jamu Ginggang Pakualaman (dok iNews/Kuntadi)
Harianjogja.com, JOGJA-Pandemi Covid-19 mampu membangkitkan industri jamu tradisional di Kota Jogja. Salah satu kedai jamu yang cukup dikenal dan bertahan hingga kini adalah kedai jamu Ginggang yang ada di Pakualaman, Jogja.
Kedai ini sudah berusia hampir satu abad hingga dikelola oleh generasi kelima. “Di sini konsumen bisa langsung mencicipi dan minum langsung,” kata Yayuk, salah satu pembuat jamu.
Yayuk menekuni usaha ini warisan dari kakek buyutnya. Berbeda dengan kedai jamu dulu, kini diseting lebih rapi dan nyaman layaknya kafe. Harapannya konsumen bisa betah dan kembali menyukai minum jamu. Jamu merupakan minuman yang dipercaya memiliki khasiat untuk kesehatan.
Selain meningkatkan daya tahan tubuh, juga dipercaya bisa mengobati berbagai penyakit. Seperti masuk angin, sakit perut, diare, batuk dan berbagai penyakit lainnya.
“Jamu Ginggang ini sudah sejak 1925, ini usaha turun temurun yang dikelola keluarga dari Mbah Joyo sebagai perintis pertama,” katanya.
Jamu Ginggang dulu merupakan minuman yang hanya diberikan kepada abdi dalem Pakualaman. Mbah Joyo merupakan salah satu abdi dalem yang diberi kepercayaan untuk meracik jamu kepada semua kerabat Kadipaten Pakualaman.
Seiring berjalannya waktu, jamu ini diperjualbelikan kepada masyarakat luas. Jamu Ginggang berasal dari kata Genggang yang bermaksa tansah genggah yang berarti tercipta persahabatan dan kekeluargaan agar tidak ada jarak antara kerabta Keraton dengan masyarakat. Nama ini disematkan oleh KGPAA Pakualam VII.
Baca juga: Herbal dan Jamu untuk Pasien Covid-19, Ini Jenis dan Saran Dokter
“Kami buka dari pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 20.00 WIB,”ujarnya.
Satu gelasnya dibanderol dengan harga Rp6.000 sampai dengan Rp25.000 tergantung jenisnya. Mulai dari beras kencur, kunyit asam, hingga galian singset dan sehat pria.
Salah seorang pelanggan Lya mengaku sudah beberapa tahun menjadi pelanggan di kedai Jamu Ginggang. Menurutnya jamu ginggang lebih alami dan rasanya lebih nikmat dibandingkan jamu yang ada di pasaran.
“Rasanya lebih mantap di banding jamu serupa di pasaran,” ujarnya.
Hampir setiap bulannya, Lya selalu mampir ke kedai ini untuk mencicipi jamu. Alasannya untuk menjaga kesehatan agar tidak mudah sait dan kecaoekan.
“Saya lebih percaya yang tradisional ini kan herbal jadi lebih aman," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Okezone
Persija resmi mendatangkan Alexander Jeremejeff untuk dua musim. Striker Swedia itu membawa pengalaman Eropa dan ketajaman di lini serang.
PSEL Bantul memasuki tahap persiapan. Pematangan lahan dijadwalkan September dan proyek ini memiliki nilai investasi mencapai Rp3 triliun.
Empat korporasi di Kalimantan Barat diselidiki terkait dugaan pelanggaran karhutla. Pemerintah membuka opsi pencabutan izin jika terbukti melanggar.
Bapanas menyiapkan Rp1,2 triliun untuk cadangan pangan pemerintah guna membantu masyarakat terdampak bencana alam sepanjang 2026.
Alfamart bersama PGMM Kabupaten Magelang menyalurkan 40 paket seragam sekolah bagi siswa prasejahtera di tujuh madrasah.Alfamart bersama PGMM Kabupaten Magelang
Ekonom UMY menjelaskan kenaikan desil belum tentu menandakan ekonomi membaik. Desil merupakan peringkat relatif kesejahteraan rumah tangga.