Advertisement
Masangin Alkid, Tembus Dua Beringin Bakal Bernasib Mujur
Pengunjung Alkid menutup matanya dan berupaya melewati dua pohon yang ada di tengah Alkid, Jumat (12/2/2021). - Harian Jogja/Sirojul Khafid
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA-Beringin kembar yang ada di Alun-Alun Kidul menjadi daya tarik para wisatawan yang berkunjung ke situ. Tidak hanya sebagai tempat foto, dua beringin yang berjajar di tengah lapangan luas ini juga menyimpan mitos yang masih dipercaya hingga kini.
Mitos beringin atau ringin kembar ini dinamai dengan tradisi Masangin. Di mana jika ada orang berhasil berjalan di antara kedua beringin itu dengan ditutup matanya, ia akan bernasib mujur, mendapat keberuntungan dan keinginannya terkabul.
Advertisement
Dari mitos itu, tak ayal jika banyak wisatawan yang datang mencoba Masangin ini. Di situ akan ada petugas yang menyewakan kain hitam penutup mata. Pengunjung mulai berjalan dari arah utara ke selatan.
Percaya tidak percaya, banyak orang yang gagal. Mereka tidak bisa berjalan masuk lorong di antara dua beringin itu tetapi justru melenceng ke arah lain. Ada yang ke barat, timur, atau malah justru berputar dan kembali ke utara meski mereka sudah merasa berjalan lurus.
Baca juga: Sajian Musik Etnik Dihadirkan Demi Hidupkan Wisata Budaya Kotagede
Dilansir dari visitingjogja.jogjaprov.go.id tradisi Masangin sudah ada sejak zaman dulu saat Kesultanan Yogyakarta masih berjaya. Awalnya, Masangin dilakukan saat tradisi Tapa Bisu yang dilakukan setiap malam 1 suro. Tradisi Topo Bisu dilakukan oleh para prajurit dan abdi dalem dengan mengelilingi benteng tanpa mengucap satu katapun.
Mereka mengenakan pakaian lengkap adat Jawa dan berbaris rapi. Mereka memulai ritual Tapa Bisu dari halaman Kraton menuju pelataran alun-alun lalu melewati kedua beringin kembar tersebut. Hal tersebut diyakain untuk mencari berkah dan meminta perlindungan dari serangan musuh.
Dari situlah mitos Masangin berkembang. Jika kita dapat melintasi dua pohon beringin dengan mata tertutup, maka semua apa yang kita inginkan akan terkabul.
Selain itu, area alun-alun kidul yang cukup lapang ini juga digunakan sebagai pusat latihan dan kegiatan para prajurit Kraton. Para prajurit biasanya mengasah konsentrasi dengan berjalan di tengah antara dua beringin kembar.
Mitos ini semakin kuat dengan adanya kepercayaan bahwa di tengah pohon tersebut terdapat jimat tolak bala untuk mengusir musuh. Konon, ketika tentara koloni melewati tengah pohon, maka kekuatan mereka langsung sirna. Karena itu muncul juga kepercayaan siapapun yang berhasil menyebrangi kedua beringin tersebut, ia mampu menolak bala.
Diberitakan Harianjogja.com sebelumnya, Balai Pengelola Kawasan Sumbu Filosofis (BPKSF) DIY mencatat ada dua nama untuk penyebutan ringin kembar itu. Ada yang menyebutnya supit urang. Tidak jarang juga dinamakan ringin kurung, karena dua pohon tersebut diberi pagar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Tren Wisata Solo Bergeser ke Destinasi Publik dan Hits Baru
- Kelas Menengah Jadi Penopang Utama Wisata Nasional
- Tren Pengasuh Anak Berbahasa Asing di Jepang, Tarif Rp5,6 Juta
- Sate Klathak Mbah Sukarjo Hadirkan Kuliner Khas di Pusat Kota
- Pulau Tidung Jadi Pilihan Favorit Liburan Akhir Tahun Dekat Jakarta
Advertisement
Keluarga ADP Pertanyakan Penghentian Penyelidikan, Ini Alasannya
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement




