Advertisement

Sajian Musik Etnik Dihadirkan Demi Hidupkan Wisata Budaya Kotagede

CRY22
Senin, 28 November 2022 - 08:37 WIB
Bernadheta Dian Saraswati
Sajian Musik Etnik Dihadirkan Demi Hidupkan Wisata Budaya Kotagede Salah satu penampil New Sound Tara 2022 digelar di Pendopo Padas Temanten Kelurahan Prenggan, Kemantren Kotagede, Kota Jogja, Minggu (27/11/2022). - Harian Jogja/CRY22

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Pagelaran musik etnik dalam New Sound Tara 2022 digelar di Pendopo Padas Temanten Kelurahan Prenggan, Kemantren Kotagede, Kota Jogja, Minggu (27/11/2022). Dari pagelaran tersebut, diharapkan dapat menghidupkan wisata budaya di Kotagede.

Hendi Setio Yulianto, Ketua Sanggar Kode mengatakan event ini untuk memperkenalkan destinasi baru wisata baru di Kotagede. “Kita mencoba mempromosikan ini [New Sound Tara 2022] memperkenalkan ini [New Sound Tara 2022] agar masyarakat bisa mengeksplorasi banyak, atau mengunjungi ini, karena di sekitar sini banyak situs,” katanya, Minggu.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

“Situs ini baru harapannya jadi promosi sebuah destinasi yang menarik untuk berbagai aktivitas,” katanya.

Untuk menghidupkan wisata budaya, pagelaran musik etnik dihadirkan. Hendi mengatakan gelaran yang bertajuk New Sound Tara bermakna sajian musik etnik nusantara. Melalui kegiatan ini, Hendi berharap dapat memberikan ruang bagi composer muda untuk mengeksplorasi musik etnik.

Baca juga: "Piknik Pesona" Buka JAFF 2022

“Harapannya mencoba melakukan nguri-uri [melestarikan] kreativitas komposer muda untuk membuat sajian musik etnik. Teman-teman mencoba mengeksplorasi untuk membuat sajian tampilan dengan sajian komposisi versi teman-teman,” tutur Hendi.

Dalam gelaran tersebut, inginkan, ditampilkan musik etnik aransemen, dan dikemas secara modern. “Ada musik etnik dalam segi klasik maka ada karawitan, musik etnik yang dikemas dalam sajian modern. Musik etnik dikemas secara jazz. Teman-teman mencoba mengeksplorasi sesuai dengan kreativitas dan pengembangan mereka masing-masing

Ada empat penampil dalam gelaran tersebut, diantaranya Aan Van Jawa yang menampilkan karya Ora Ilok yang menggambarkan masyarakat Jawa yang melarang beberapa aktivitas di malam hari.

Ia berharap gelaran musik ini dapat rutin diadakan. “Ada banyak ragam kelompok seni ini saling srawung untuk berdiskusi musik dalam konsep seni pertunjukan,” katanya.

R.B. Dwi Wahyu, Anggota DPRD DIY mengatakan srawung kampung merupakan kegiatan Komisi B DPRD DIY dengan Dinas Pariwisata DIY. Dwi mengatakan, pengelolaan wisata berbasis budaya perlu kerjasama antar Unit Perangkat Daerah (UPD).

Baca juga: 72 Festival di Jogja Hasilkan Ratusan Miliar Rupiah, Regulasi Kerap Jadi Penghambat

“Karena pariwisata tidak hanya dinas pariwisata tapi antar UPD,” paparnya.

Rencana dan Kerjasama

Selain itu, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) juga perlu merencanakan dan bekerjasama untuk membangun wisata berbasis budaya.

“Harus duduk bareng, untuk menginventasisasi potensi berbasis data, dengan data berbasis masalah. Nantinya, masalah membutuhkan kebijakan, lalu kebijakan butuh regulasi, regulasi butuh konsolidasi. Untuk menciptakan wisata yang dicita-citakan, berbasis budaya, semua Pokdarwis harus ada diskusi. Wisata harus tiap hari ada, ini harus ada magnet

Selain itu, pengelolaan wisata juga perlu ditingkatkan kapasitasnya. “Perlu adanya pengelola secara SDM berkualitas. Sehingga dibutuhkan pengelola bagaimana destinasi wisata ada aktivitas setiap hari, bukan tiba-tiba ketika ada event,” katanya. 

“Kotogede sangat berpotensi terhadap pariwisata, hanya dikembalikan ke pengelola. Kebijakan pemerintah ada semua, tinggal bagaimana konsep untuk mengelola pariwisata di Kotagede. Kotagede menjadi salah satu basis keistimewaan dengan kebudayaannya. Kita jual budaya destinasi, bangunan cagar budaya, kuliner budaya, semua ada cerita,” katanya.

Susanto Dwi Antoro, Ketua Komisi B DPRD Kota Jogja berharap momentum ini bisa menjadi kebangkitan bersama bagaimana kawasan di Prenggan, di kawasan Sungai Gajahwong, menjadi kekuatan untuk membersamai peningkatan pemberdayaan ekonomi berbasis wilayah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Pemahaman tentang Kanker Akan Turunkan Risiko Kematian

Sleman
| Senin, 06 Februari 2023, 23:47 WIB

Advertisement

alt

35 Tahun ke Atas Dinilai Berisiko, Usia Berapakah yang Baik untuk Promil?

Lifestyle
| Selasa, 07 Februari 2023, 03:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement