Advertisement

Liburan Nomor Satu, Resesi Ekonomi Pikir Nanti Dulu

Sirojul Khafid
Sabtu, 24 Desember 2022 - 21:47 WIB
Budi Cahyana
Liburan Nomor Satu, Resesi Ekonomi Pikir Nanti Dulu Beberapa orang sedang berlibur di Gunung Tidar, Magelang, beberapa waktu lalu. - Harian Jogja/Sirojul Khafid

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJAProyeksi adanya resesi ekonomi sudah ada di depan mata. Tapi prioritas anak muda berbeda, liburan yang harus tetap berjalan menjadi salah satunya. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Sirojul Khafid.

Hanya perlu duduk atau jalan kaki di depan salah satu hotel di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Restin Septiana sudah bisa melihat proses matahari istirahat dengan menenggelamkan diri. Sendiri. Berbicara dengan diri sendiri. Merefleksi semua kenangan yang satu-persatu mulai keluar dari pori-pori.

Advertisement

Di tempat yang indah, kadang kala kenangan baik dan buruk sering kali merekah. Dia keluar tanpa bisa dicegah. Tidak masalah kenangan bahagia, sedih, atau marah, yang penting bukan tugas kantor yang tiba-tiba singgah. Restin perlu waktu untuk rehat dari segala keriuhan ini.

Liburan ke tempat yang jauh menjadi momen spesial. Dalam setahun, dia umumnya hanya bisa melakukan sekali atau dua kali. Setidanya enam bulan sebelum berangkat ke tempat tujuan, segala persiapan sudah harus dimatangkan. Persiapan mulai dari perkiraan biaya, detail tempat yang akan dikunjungi, akses, dan sebagainya.

“Liburan itu bagiku penting, suka melihat tempat baru, bertemu orang baru. Intinya melarikan diri dari kerjaan, untuk refreshing. Masa orang kerja enggak stres,” kata Restin, perempuan berusia 28 tahun ini, Senin (19/12/2022).

Dalam setahun, pekerja di Jakarta ini setidaknya butuh liburan sekali ke tempat yang cukup jauh. Tahun ini dia cukup beruntung, bisa berlibur dua kali ke tempat yang jauh. Maret ke Labuan Bajo dan Juni ke Bali.

Dibandingkan dengan mencari momen libur panjang, dia lebih memilih mengambil jatah cuti. Pertimbangan liburan lebih kepada menghindari musim penghujan.

Restin memang menganggarkan biaya khusus untuk liburan. “Bukan setiap bulan nyisihin berapa persen dari gaji, tapi merencanakan liburannya dulu, baru nanti nyisihin dengan target dari perencanaan itu,” kata perempuan lulusan kampus di Jogja ini.

Dari berbagai tempat yang dia kunjungi, baik dalam maupun luar negeri, biaya terbanyak keluar saat ke Labuan Bajo. Semua biaya mencapai Rp5 juta. Meski di Labuan Bajo juga tempat yang paling memuaskan baginya untuk liburan.

Tahun depan, dia bersama keluarga ingin berkunjung ke Karimun Jawa, Jepara, Jawa Tengah. Sejauh ini, Restin tidak begitu memikirkan dampak resesi yang diprediksi akan datang menghampiri Indonesia. Perencanaan tetap dilakukan, namun tetap dengan mamantau keadaan ke depan.    

“Sejauh ini belum terpengaruh, lihat nanti ke depan. Kalau ternyata berpangaruh, ya mungkin enggak liburan dulu enggak apa-apa,” katanya.

Resesi ekonomi salah satunya dampak dari konflik Ukraina-Rusia. Pengamat Perbankan, Keuangan, dan Investasi dari UGM, I Wayan Nuka Lantara, mengatakan resesi yang akan terjadi karena lonjakan inflasi.

Peningkatan inflasi diikuti oleh kebijakan pengetatan moneter oleh bank sentral di negara Eropa dan Amerika, dengan menaikkan tingkat bunga acuan. Hal ini akan berdampak juga pada kebijakan yang diambil bank sentral di negara lainnya.

Apabila bunga acuan meningkat, biaya modal dan bunga kredit yang akan ditanggung bisnis juga akan naik. Dampak lanjutan biasanya berupa mata uang lokal yang melemah terhadap mata uang asing.

Jika suatu negara memiliki banyak pinjaman dalam mata uang asing, baik oleh pemerintah maupun swasta, maka jumlah mata uang lokal yang akan dikeluarkan untuk membayar pinjaman dalam mata uang asing juga akan meningkat.

“Jika kondisi tersebut tidak membaik, maka kombinasi rentetan harga produk yang meroket, inflasi yang meningkat, bunga acuan kredit yang naik, serta pelemahan mata uang lokal pada akhirnya akan berisiko menyebabkan terjadinya krisis ekonomi global," katanya.

Namun Wayan mengimbau masyarakat tetap tenang. Langkah yang bisa dilakukan dengan merevisi rencana keuangan sebelumnya. Penyiapan dana darurat penting dilakukan.

Upaya lain yang bisa dilakukan berupa mencari alternatif tambahan penghasilan selain dari gaji tetap. Misalnya memanfaatkan hobi kita untuk bisnis, berjualan online, dan tetaplah rutin berinvestasi.

Selanjutnya mengidentifikasi ulang pos-pos pengeluaran. Apabila memungkinkan, lakukan penghematan dan keluarkan uang untuk hal-hal penting dahulu.

Beberapa orang, baru akan memikirkan dampak resesi apabila sudah merasakan secara langsung. Saat belum terlihat dampaknya, maka berbagai kegiatan, salah satunya liburan, tetap akan berjalan. Ika Rahmanita salah satunya.

Berbagai rencana liburan baik skala kecil atau besar tetap dia anggarkan setiap bulan. Penyisihan uang saku dari orang tua menjadi tumpuan. Bersama delapan sahabat baiknya, setiap bulan bahkan pekan, Ika merasa perlu jalan-jalan.

“Tiap bulan harus ada main bareng, kaya kemarin ke Pacitan sama nginep di Villa Jalan Kaliurang [Sleman],” kata Ika yang saat ini masih kuliah sarjana satu tahap akhir.

Agar pengeluarannya merata, seluruh biaya biasanya dibagi delapan anggota. Tidak hanya dalam skala besar, liburan tipis-tipis juga mereka lakukan. Entah itu ngobrol di kafe, pasar, museum, atau sejenisnya. Ika secara khusus menyiapkan Rp500.000 setiap bulan untuk kebutuhan bermain bersama temannya.

Umur 22 tahun Ika rasa sebagai fase yang masih senang liburan dan berinteraksi dengan teman. Terlebih saat ini tidak sesibuk awal kuliah. “Beberapa temen juga ada yang udah kerja, tapi belum punya tanggungan keluarga, mikirnya jadi pengen main dulu sama teman-teman,” kata perempuan asal Pontianak ini.

Mungkin uang saku dari orang tua bisa naik atau turun. Apabila hanya butuh liburan, tentu bisa mencari alternatif yang sesuai anggaran. Ika tidak harus berlibur ke tampat yang jauh. Momen dalam perjalanan, seperti bercanda, bercerita, dan tertawa bersama teman sudah cukup membahagiakan. Momen yang mungkin akan susah terulang saat sudah ada dalam sebuah pernikahan.

“Selalu menikmati setiap perjalanan, justru di perjalanannya, bareng-bareng sama mereka,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

2023 Ada 1.111 Tempat Ibadah di DIY yang Terima Bansos

Jogja
| Jum'at, 27 Januari 2023, 09:07 WIB

Advertisement

alt

Donor Darah Bisa Bantu Turunkan Berat Badan, Benarkah?

Lifestyle
| Jum'at, 27 Januari 2023, 07:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement