Advertisement

Menyambangi Toko Tembakau Tertua di Jogja, Ikon Wisata di Tugu Jogja

Sirojul Khafid
Minggu, 30 Juni 2024 - 21:37 WIB
Arief Junianto
Menyambangi Toko Tembakau Tertua di Jogja, Ikon Wisata di Tugu Jogja Toko Wiwoho. - Harian Jogja/Sirojul Khafid

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Dengan usia lebih dari seabad, Toko Wiwoho menjadi toko tembakau tertua di Jogja. Lebih dari sekadar ladang bisnis, toko ini kini juga menjadi salah satu ikon wisata Jogja

Wayang punakawan di Toko Tembako dan Tjeroetoe Wiwoho terlihat berdebu. Wayang dengan karakter Petruk, Semar, Gareng, dan Bagong terletak di bagian atas toko, ditemani perlengkapan rokok seperti tembakau di sekelilingnya. Usia wayang berbahan kayu itu mungkin sudah puluhan tahun. Sementara usia toko lebih tua lagi, sudah buka sejak 1919.

Advertisement

Bisingnya kendaraan di sekitar Tugu Pal Putih seakan tidak begitu mengganggu ketenangan Toko Wiwoho yang berada tepat di seberangnya. Pelanggan memang datang silih berganti, tetapi nuansanya tetap tenang, kadang kala sejuk saat udara jalanan bertemu dengan angin dari kipas toko. Sri Wahyuni duduk di depan deretan toples berlabel nama-nama tembakau.

Dia merupakan generasi ketiga dari pemilik toko. Perintis toko bernama Tan Kwie Hwa. Kala itu masih berupa toko sembako.

Dalam kesehariannya, Tan Kwie Hwa gemar nyusur atau nginang, kegiatan mengunyah atau mengoleskan bahan-bahan sirih ke mulut.

Sepeninggal Tan Kwie Hwa, pengelolaan toko beralih ke anaknya, yaitu JB. Wiwoho. Kebiasaan ibunya yang suka susur, membuat Wiwoho melihat peluang untuk menjual tembakau susur dan rokok.

Awalnya toko tak bernama. Koleksi wayang Wiwoho yang dia letakkan di toko menjadi sebutan bagi pembeli, terutama pembeli awal-awal. “Zaman papa masih muda, dia senang wayang dan bikin [wayang punakawan]. Orang-orang menyebutnya Toko Mbah Petruk. Wayangnya sampai sekarang enggak pernah ganti, sampai sawangen [dipenuhi sarang laba-laba],” kata Sri Wahyuni saat ditemui di Toko Wiwoho, Rabu (26/6/2024).

Penyebutan Toko Mbah Petruk umumnya berasal dari pelanggan yang sudah tua. Sementara untuk pelanggan yang usianya lebih muda, mereka lebih sering menyebutnya Toko Wiwoho.

Selepas Wiwoho meninggal, pengelelolaan toko ini beralih ke ME Setiyowati, istri Wiwoho. Kini usia Setiyowati sudah 83 tahun. Kondisi yang tidak fit membuat pengelolaan beralih ke Veronica Sri Wahyuni, anak Wiwoho dan Setiyowati yang menjadi generasi ketiga dari toko tersebut.

Sejak menjual tembakau, Toko Wiwoho lebih banyak menjual jenis tembakau alami. Asalnya dari Kedu, Temanggung, sampai Boyolali.

“Dari dulu supplier-nya sama, enggak beda, itu-itu saja. Setiap jenis tembakau ada supplier-nya masing-masing. Pernah ada tawaran dari beberapa supplier, tetapi jadi bingung, akhirnya kembali ke supplier awal saja. Rasanya jadi sama terus,” katanya.

Jadi Ikon Wisata

Lokasinya di sebelah ikon Jogja. Usianya juga sudah tua. Kombinasi itu membuat Toko Wiwoho tidak jarang menjadi incaran para wisatawan untuk berkunjung.

Bagi yang merokok sekalian mencicipi tembakau. Untuk yang tidak merokok lebih banyak menghisap ceritanya. Wisatawan yang datang kadang berombongan, dengan satu pemandu.

“Banyak yang minta foto. Ada pemandunya, jadi kami enggak usah ngomong atau ngejelasin,” kata perempuan berusia 60 tahun ini.

Wisatawan, terutama pelanggan yang memang ingin membeli, bisa memilih puluhan jenis tembakau di sini.

Ada tembakau alami dari berbagai daerah di Indonesia. Ada pula tembakau dengan label merek rokok tertentu, serta terdapat pula tembakau rasa.

Harganya beragam, rata-rata Rp20.000 per ons. Untuk tembakau yang agak mahal, jenisnya Gayo, dijual dengan harga sekitar Rp60.000 per ons.

Tidak hanya tembakau, Toko Wiwoho juga menjual kertas untuk membuat rokok, alat untuk melinting, cerutu, pipa rokok, dan lainnya.

Saat ini jumlah penjualan per harinya fluktuatif. Tidak ada momen yang membuat penjualan naik atau turun drastis. Penjualan lebih sering stabil. Penjualan yang sempat membahagiakan terjadi saat pandemi Covid-19.

Kala itu, banyak orang yang beralih dari rokok konvensional ke rokok buatan sendiri. Anak-anak muda juga banyak yang mencoba tren tersebut, dan bertahan hingga hari ini.

BACA JUGA: MUBENG BERINGHARJO : Mbah Jiwo, Penjual Tembakau Rajangan yang Legendaris

Latar belakang pembeli juga semakin beragam. Apabila dulu kebanyakan orang-orang tua, kini semakin banyak anak muda. Banyak anak muda yang suka tembakau alami atau campuran dengan cengkih. “Kadang ada pelanggan yang bapaknya dulu sering beli tembakau di sini, sekarang anaknya yang beli di sini,” kata Sri yang merupakan anak kedua dari Wiwoho.

Tidak hanya tokonya yang menyimpan banyak cerita, para supplier dan pelanggan Toko Wiwoho juga punya kisahnya masing-masing. Kisah yang berpotensi akan terus bertambah seiring dengan bertambahnya usia toko. Tahun ini, usia Toko Wiwoho sudah 105 tahun.

Tidak menutup kemungkinan generasi keempat, atau anak dari Sri Wahyuni juga akan melanjutkan Toko Wiwoho ini. “[Sekarang anak-anak] belum [banyak terlibat], masih pada kuliah,” kata Sri Wahyuni.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

alt

Viral Rektor UII Tak Ingin Dipanggil Profesor dan Tulis Nama di Surat Resmi Cukup Fathul Wahid, Ini Penjelasannya

Jogja
| Jum'at, 19 Juli 2024, 08:17 WIB

Advertisement

alt

Bisa Saja Terjadi pada Anak Anda, Waspadai Penyebab Diabetes Mellitus

Lifestyle
| Kamis, 18 Juli 2024, 22:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement