Advertisement

WISATA SLEMAN : Menikmati Dinasti Mataram di Lereng Merapi

Senin, 29 Desember 2014 - 07:20 WIB
Mediani Dyah Natalia
WISATA SLEMAN : Menikmati Dinasti Mataram di Lereng Merapi

Advertisement

Wisata Sleman, Ullen Sentalu tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan budaya Jawa.

Harianjogja.com, SLEMAN-Ullen Sentalu merupakan lokasi yang bernuansa alami sekaligus misterius. Berikut gambaran lokasi wisata itu. Mengacu pada keterangan di website resminya, pemilihan lokasi Ullen Sentalu tidak main-main. Berdasarkan peta makro-kosmologi Mataram Kini atau Mataram Islam, Ullen Sentalu terletak di lintas Sumbu Utara yang secara imajiner menghubungkan Gunung Merapi, Tugu, Kraton Jogja, dan Pantai Parangtritis dalam satu garis.

Advertisement

Sedangkan berdasarkan peta sejarah Mataram Kuno atau Mataram Hindu & Buddha, museum ini terletak dalam satu garis dengan Candi Borobudur yang terletak 35 km di ujung barat dan Candi Prambanan sekitar 30 km di ujung timur. Adapun tiket masuk lokasi tersebut Rp30.000.

Begitu membeli tiket, seorang staf keluar untuk mengantarkan saya melewati penjagaan dan memasuki pintu “pertama” museum. Seperti akan memasuki gua dan kita tidak tahu akan menemukan apa di baliknya. Itulah perasaan saya saat berjalan melewati pintu kayu menuju ke sebuah labirin berdinding batu. Sejuk, dingin, dan membangkitkan adrenalin.

“Ini kita sedang berada di Guwo Selo Giri atau Gua Batu Gunung,” ujar staf yang menemani penulis masuk.

Dia kemudian mengantarkan penulis untuk bergabung dengan sebuah grup tour yang terdiri atas enam pengunjung. Guwo Selo Giri adalah ruang pamer untuk koleksi tetap. Ruang pamer ini terletak tiga meter di bawah permukaan tanah dengan struktur menyerupai gua masa silam atau bunker bangunan modern. Seluruh sisinya terbuat dari susunan bebatuan andesit yang ditambang dari area sekitar lokasi museum dan dibiarkan terbelah tanpa polesan sehingga terkesan sangat menyatu dengan alam.

Di ruangan ini terpajang karya-karya lukisan dan foto pribadi dokumentasi para tokoh dari empat kraton Dinasti Mataram, yakni Kraton Surakarta Hadiningrat dan Pura Mangkunegara dari Solo serta Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Pura Paku Alam dari Jogja. Di ruangan ini, pengunjung dapat melihat dokumentasi pribadi para raja, ratu, pangeran, dan putri dari keempat kraton. Selain itu, para pengunjung juga dapat menyaksikan beragam dokumentasi berbagai tarian dan musik tradisional Jawa.

Dari Guwo Selo Giri, pengunjung dihantarkan menuju Kampung Kambang dan Taman Kaswargan. Sebuah tangga dengan struktur punden berundak menghubungkan Guwo Selo Giri dengan Kampung Kambang dan Taman Kaswargan.

Menurut tour guide yang menemani kami, Kampung Kambang dibangun menyerupai kampung rumah orang Kalang yang tinggal di ibukota kuno Mataram Kuno periode pertama di Kotagede. Dibangun secara mengambang, Kampung Kambang dibuat menyerupai gang dan berkelak-kelok seperti labirin. Pengunjung yang tidak ditemani oleh tour guide akan mudah tersesat. Adapun Kampung Kambang terdiri dari lima ruang pamer, yaitu Ruang Tineke, Ruang Ratu Mas PB X, Ruang Batik Vorstendlanden Surakarta, Ruang Batik Vorstendlanden Jogja, dan Ruang Putri Dambaan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terkait

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Kambing dan Domba Jadi Andalan, UGM Genjot Ilmu Ratusan Peternak DIY

Kambing dan Domba Jadi Andalan, UGM Genjot Ilmu Ratusan Peternak DIY

Sleman
| Sabtu, 04 April 2026, 15:37 WIB

Advertisement

Tubuh Berubah Saat Rutin Makan Wortel Ini yang Terjadi

Tubuh Berubah Saat Rutin Makan Wortel Ini yang Terjadi

Lifestyle
| Sabtu, 04 April 2026, 15:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement