Menyusuri Sungai, Menikmati Lava Bantal

Wisata Lava Bantal berupa bebatuan yang telah dingin hasil letusan Gunung Merapi di Kali Opak, di Dusun Watuadeg, Jogotirto, Berbah, Sleman - Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati
31 Maret 2018 17:10 WIB Bernadheta Dian Saraswati Wisata Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Kabupaten Sleman memiliki objek wisata berupa singkapan yang terelok yang dijumpai di Pulau Jawa. Objek wisata itu bernama Lava Bantal. Tempat ini bahkan layak dijadikan geosite. Selain dapat menyaksikan indahnya bebatuan, pengunjung juga dapat menikmati kesejukan alam karena banyak pohon yang hidup di kawasan ini.

Lava Bantal merupakan objek wisata baru yang diresmikan dua tahun lalu. Lokasinya berada di Dusun Watuadeg, Jogotirto, Berbah, Sleman. Awalnya, objek wisata ini tak dikenal. Berupa bebatuan hasil letusan api purba di Kali Opak, objek ini banyak diteliti mahasiswa jurusan geologi dari kampus di DIY maupun luar DIY. Oleh seorang mahasiswa, foto bebatuan yang dilewati Kali Opak ini diunggah di media sosial dan akhirnya tenar seiring berjalannya waktu.

Orang-orang pun berduyun-duyun datang untuk memuaskan rasa penasarannya. Mereka yang datang dan mengabadikannya pada media sosial pun membuat Lava Bantal semakin terkenal.

Lava Bantal Berbah terbentuk pada awal masa aktif Gunungapi Purba Nglanggeran sekitar 36 juta tahun yang lalu. Lava Bantal terjadi karena retaknya lempengan benua Jawa di bawah Lava Bantal Berbah di dalam lautan sehingga keluarlah lava yang langsung menyentuh air laut, sehingga terbentuk struktur yang seperti bantal atau guling. “Bentuk bebatuannya kan tumpuk-tumpuk seperti bantal,” kata pengelola Lava Bantal, Purnama, 53, kepada harianjogja.com, akhir Maret 2018.

Permukaan lava ini hitam seperti terbakar karena efek pendinginan yang cepat pada saat menyentuh air laut. Posisi batuan Lava Bantal terletak di sebelah barat Kali Opak yang masuk Desa Kalitirto. Sementara untuk lokasi parkir dan fasilitas lain berada di seberang kali sebelah timur, yang terletak di Desa Jogotirto.

Sekitar 250 meter ke arah selatan, ada sebuah embung yang menjadi daya tarik wisatawan. Embung tersebut terletak di Desa Tegaltirto. “Jadi lokasi ini ada di perbatasan tiga desa itu,” kata Dwi Kris Nurcahyo, 30, pengelola Lava Bantal lainnya yang sedang bertugas menjaga parkir.

Sampai saat ini, pengelola belum menarik tiket retribusi karena belum ada peraturan dari pemerintah yang bisa diterapkan untuk objek wisata baru ini. Pengunjung hanya diwajibkan membayar parkir.

Ada banyak pohon yang tumbuh di sekitar tempat ini di antaranya pohon bambu, pohon asem, kleresede, dan bahkan saat menyusuri jalan menuju embung, wisatawan dapat menikmati tanaman buah seperti pepaya, pisang, dan juga cabai rawit.

Lava Bantal memiliki dua jembatan yang menghubungkan Desa Jogotirto dengan Kalitirto. Jembatan ini terletak pada sisi utara dan selatan. Jembatan utara membentang sekitar 20 meter dengan lebar satu meter. Purnama mengatakan, jembatan itu sudah ada sejak zaman Belanda.

Susur Kali

Kali Opak yang melalui batuan Lava Bantal memiliki kedalaman yang beragam. Ada yang hanya satu meter, ada pula yang sampai tiga meter. Saat musim kemarau, air yang mengalir sangat jernih kendati tidak begitu deras.

Untuk menikmati kesegaran airnya, pengelola menawarkan river tubing atau susur sungai menggunakan ban karet. Ada jalur pendek dan panjang yang ditawarkan. Track pendek hanya ditempuh sekitar 100 meter dan bisa bolak-balik. Jalur pendek memiliki tingkat kecuraman arus yang lebih besar dan hanya diperuntukkan bagi orang remaja sampai dewasa.

Sementara jalur panjang dapat ditempuh selama satu jam sejauh tiga kilometer. Jalur ini lebih landai sehingga anak-anak usia lima tahun bisa ikut menikmatinya. Biaya menyusuri jalur panjang Rp50,000 dan wisatawan akan mendapatkan perlengkapan lengkap seperti ban, pelampung, sepatu karet, ban, snack, dan sudah termasuk asuransi. Sedangkan track pendek hanya Rp25.000 per orang.

“Kalau yang track [jalur] panjang, ada lokasi cekungan air yang bisa digunakan wisatawan untuk ceburan [bermain air], kata Dwi.

Wisatawan yang sudah lelah bersusur sugai dapat istirahat sembari menikmati olahan sayur asem dan lodeh yang disediakan pengelola. Namun, makanan ini hanya dapat dipesan jauh sebelumnya dengan biaya Rp20.000 per orang dengan konsep makan prasmanan. Wisatawan dari kalangan perusahaan juga dapat menyewa pendapa sebagai tempat pertemuan.

Di objek wisata ini, selain lima orang yang berdagang makanan kecil dan minuman, ada pula warga yang berjualan jambu dalhari. Jambu air ini merupakan hasil budidaya warga Krasakan, Jogotirto, Berbah, Sleman bernama Dalhari. Jika dibandingkan jambu air pada umumnya, jambu dalhari lebih tebal, manis, dan besar. Saat musim panen yang biasanya terjadi saat kemarau, buah ini dijual hanya Rp20.000 per kilogram (kg), tetapi saat bukan musim panen bisa mencapai Rp50.000 per kg.