Media Sosial Membawa Andil dalam Tren Wisata

Pemandangan di Pulau Padar, salah satu objek wisata unggulan di Labuan Bajo, selain Taman Nasional Komodo - M. Taufikul Basari
14 Januari 2019 16:37 WIB Rayful Mudassir, Dewi Andriani, Putri Zakia Salsabila Wisata Share :

Harianjogja.com,JAKARTA--Kabar harga tiket pesawat yang kembali normal menjadi kabar baik bagi dunia pariwisata terutama turis domestik. Peran media sosial dalam mendorong pertumbuhan pariwisata sangat dibutuhkan. 

Ada banyak faktor yang mempengaruhi kunjungan wisatawan ke Indonesia, antara lain ancaman bencana dan kondisi politik. Indonesia sendiri menargetkan 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) dengan devisa yang dapat diraup mencapai US$20 miliar. Tahun lalu pemerintah menargetkan jumlah kunjungan wisman mencapai 17 juta.

Sementara itu, destinasi utama pariwisata Tanah Air tahun ini diperkirakan belum banyak berubah. Bali dan Lombok menjadi andalan menarik turis asing, walaupun dihantui ancamanan bencana alam seperti gempa dan letusan Gunung Agung.

Namun, di luar itu, pembangunan infrastruktur seperti Tol Trans Jawa bakal meningkatkan arus turisme lokal. Jalur bebas hambatan ini jadi katalisator penting pengembagan wisata di Jawa.

Selain infrastruktur, media sosial juga ambil peran. Para traveler yang membuat konten via media sosial sering jadi panutan ketika akan mengunjungi suatu destinasi wisata. Informasi awal biasanya sangat menentukan ke mana orang akan piknik.

Peran media sosial dalam mendorong pertumbuhan pariwisata tak bisa diremehkan karena menjadi pintu pertama sebelum turis benar-benar sampai di lokasi. Media sosial mampu memberikan informasi yang bukan sekadar murah, tetapi juga paling mudah diakses.

“Kalau untuk tren, yang jelas sekarang ini sosial media lagi marak. Trennya orang bepergian ke tempat yang banyak berasal dari konten-konten di sosial media sehingga pengembangan destinasi wisata melalui sosmed akan semakin marak,” ujar penulis buku serial The Naked Traveler, Trinity.

Kian hari kian biasa orang berwisata demi mendapat foto yang Instagramable. Tren ini dibaca dengan baik oleh perusahaan yang behubungan dengan pariwisata, menggencarkan foto-foto bagus di media sosial yang membuat orang ingin berkunjung.

Perempuan yang memiliki nama asli Perucha Hutagaol ini mengakui bahwa Indonesia dengan segala pesona alam dan budaya seperti tak ada habisnya dieksplorasi. Tiap daerah, lanjutnya, punya cerita, bahasa, dan adat sendiri-sendiri.

Meski terdengar mainstream, traveler Riyanni Djangkaru menyebut Pulau Bali sebagai tempat favorit. Mantan presenter program televisi Jejak Petualang ini meyakini bahwa Bali selalu punya tempat baru untuk dikunjungi.

“Saya sudah pindah ke sini [Bali] selama delapan bulan. Dan selama ini, setiap kali selalu ada saja tempat-tempat baru. Ternyata Sanur tidak hanya sunrise, ternyata ada juga spot sunset,” ujar perempuan berdarah Sunda dan Komering Sumatra Selatan ini.

Walaupun turisme sedang digenjot oleh pemerintah, Riyanni menyarankan tetap ada upaya membatasi jumlah kunjungan wisatawan ke tempat tertentu, seperti taman nasional dan tempat menyelam. Kelebihan kapasitas tampung dapat menggerus kualitas destinasi.

Target pemerintah tahun ini memang tinggi, yaitu 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dengan pemasukan devisa negara hingga US$20 miliar. "Target tersebut cukup riskan jika suatu waktu biaya angkutan udara domestik naik lagi," katanya.

Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Asnawi Bahar mengatakan salah satu faktor yang menjadi tantangan cukup berarti adalah biaya angkutan udara yang membengkak. Hal ini mempengaruhi kondisi berlibur wisatawan.

Dengan tingginya harga angkutan pesawat terbang, beberapa perubahan akan dilakukan oleh wisatawan seperti mengurangi durasi berlibur, menurunkan kelas penginapan dan mengeluarkan belanja oleh-oleh lebih sedikit dibandingkan biasanya. Kondisi ini akan mempengaruhi para penjaja oleh-oleh di seluruh daerah.

Sumber : bisnis.com