Advertisement

Indonesia Peringkat Teratas Destinasi Wisata Halal versi GMTI

Yanita Petriella
Rabu, 10 April 2019 - 07:37 WIB
Maya Herawati
Indonesia Peringkat Teratas Destinasi Wisata Halal versi GMTI Seorang pekerja menyiapkan makanan di Kedai Yong Bengkalis yang sudah mengantongi sertifikasi halal Majelis Ulama Indonesia (MUI), di Kota Pekanbaru, Riau, Selasa (9/4). Indonesia berhasil menduduki peringkat teratas Mastercard-crescent Rating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2019 bersama dengan Malaysia./Antara - FB Anggoro

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA-Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Akhirnya, Indonesia berhasil menduduki posisi wahid sebagai negara yang memiliki destinasi terbaik wisata halal dunia untuk pertama kali.

Pemeringkatan itu tertuang dalam hasil survei Mastercard-CrescentRating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2019. Pada 2015, Indonesia menduduki peringkat kelima sebagai negara yang memiliki destinasi wisata halal dan keempat pada 2016.

Advertisement

Pada 2017, negara berpenduduk muslim terbesar di dunia ini menempati peringkat ketiga dan kembali bergeser satu tingkat ke atas pada tahun berikutnya.

Pada tahun ini, Indonesia akhirnya menempati posisi puncak bersama dengan Malaysia dengan skor 78.

Menyusul Indonesia dan Malaysia sebagai negara dengan destinasi wisata halal terbaik di dunia berturut-turut adalah Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Maroko, Bahrain, Oman, dan Brunei Darussalam.

Fazal Bahardeen, CEO CrescentRating dan HalalTrip, mengatakan bahwa pencapaian Indonesia ini tak lepas dari upaya pemerintah dalam mengucurkan investasi di sektor pariwisata melalui pengembangan infrastruktur di berbagai daerah terutama destinasi halal tourism.

“Kami menganalisa kesehatan dan pertumbuhan berbagai destinasi wisata ramah muslim berdasarkan empat kriteria yakni akses, komunikasi, lingkungan, dan layanan,” ujarnya, Selasa (9/4).

Ya sebuah penantian yang lama ditunggu-tunggu oleh Indonesia setelah pemerintah berupaya keras mengembangkan wisata halal di Tanah Air.

Tak main-main, untuk bisa meraih peringkat pertama menjadi pariwisata halal terbaik di dunia, Kementerian Pariwisata pun menetapkan 10 destinasi pariwisata halal di Tanah Air yakni Lombok, Aceh, Jakarta, Sumatra Barat, Yogyakarta, Kepri, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan.

10 destinasi itu mendapatkan penilaian dengan empat kriteria standar GMTI dalam Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) yang dimulai pada akhir tahun lalu.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, usaha Indonesia untuk menempati posisi pertama memang sudah direncanakan dan menjadi target pemerintah tahun ini. Pasalnya, akses dan budaya pariwisata yang ada di Indonesia tak kalah dengan Malaysia.

“Indonesia lebih siap dibandingkan dengan Malaysia sebagai destinasi halal karena memiliki IMTI. Salah satu program yang dibuat pemerintah untuk memperlihatkan peringkat destinasi di Indonesia yang ramah terhadap wisatawan Muslim,” katanya.

Lebih lanjut lagi, Arief memaparkan Indonesia memiliki 755 wisata alam yang ramah muslim, 705 atraksi budaya ramah muslim, 1.238 cagar budaya muslim, dan 284 ateaksi buatan yang ramah muslim. Selain itu, terdapat 835 vila, 6.389 homestay, dan 759 festival yang halal dan ramah muslim.

Dia meyakini dengan memperoleh peringkat pertama sebagai negara yang memiliki pariwisata halal terbaik ini akan berdampak pada meningkatnya kunjungan turis muslim yang akan menikmati pariwisata halal di Indonesia.

Pada tahun ini, pemerintah menargetkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) muslim di Indonesia mencapai 5 juta kunjungan atau naik dari realisasi wisman muslim yang datang ke Indonesia pada 2018 sebanyak 3 juta kunjungan.

“Setiap tahunnya, jumlah kunjungan wisatawan muslim ke Indonesia meningkat, pada 2015 ada 2 juta lalu meningkat jadi 2,4 juta kunjungan pada 2016 dan menjadi 2,7 juta kunjungan pada 2017. Tahun ini, kami yakin ada 5 juta orang yang datang ke Indonesia dari moslem traveler,” ucap Arief.

Tentunya, hal tersebut akan mendatangkan tambahan devisa ke Tanah Air. Pasalnya, rerata belanja wisman muslim asal Timur Tengah setiap kunjungan ke Indonesia sekitar US$2.000 hingga US$2.200, lebih besar dibandingkan wisman lainnya yang rerata hanya US$1.100 hingga US$1.300.

“Dengan predikat ranking pertama ini saya yakin akan banyak wisman muslim ke sini [Indonesia] dan spending mereka akan menyumbang 22% hingga 25% dari target devisa tahun ini yang senilai US$17,6 miliar,” tuturnya.

Setelah mendapatkan predikat ranking pertama ini, pemerintah pun tak berhenti begitu saja dengan predikat ini dan tak cepat puas. Pemerintah akan terus berupaya meningkatkan promosi dan pelayanan di sektor wisata muslim.

Tak dapat dipungkiri, lanjutnya, negara tetangga Singapura hingga Thailand yang notabene bukan negara Islam lebih disukai oleh pelancong muslim. Hal itu dikarenakan turis muslim yang datang ke Thailand mendapatkan pelayanan terbaik.

Dalam sektor pariwisata yang menawarkan jasa, pelayanan terbaik sudah tentu dicari oleh wisatawan secara global. Terlepas dari destinasi, ketersediaan tempat salat hingga makanan halal turut menjadi perhatian utama turis muslim.

“Positioning halal tak jadi masalah sama sekali. Contoh Lombok kalau di Indonesia, kami harus mengeluarkan pertanyaan di benak kami kenapa orang Islam banyak datang ke destinasi tak halal. Yang sifatnya umum juga harus,” terang Arief.

Pengarah Tim Percepatan Wisata Halal Kementerian Pariwisata Riyanto Sofyan menambahkan salah satu upaya yang akan dilakukan pemerintah setelah memperoleh predikat pertama ini adalah meningkatkan sertifikasi halal di destinasi yang telah ditetapkan.

Selain itu, pemerintah akan mengintensifkan promosi ke negara-negara lain bahwa Indonesia merupakan negara yang ramah muslim. “Wisman muslim kebanyakan mencari wisata yang aman, makanan yang halal, dan tempat salat dan air wudu yang memadai,” katanya.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira meyakini dengan pencapaian tersebut, Indonesia akan kedatangan makin banyak turis muslim.

Terlebih, berdasarkan data Badan Pusat Stastistik (BPS), jumlah kunjungan turis Timur Tengah mencapai 266.900 kunjungan pada tahun lalu, mengalami sedikit penurunan dari realisasi pada 2017 sebanyak 284.400 kunjungan.

Malaysia yang sebagian besar masyarakatnya beragama Islam menyumbang sebanyak 2,5 juta kunjungan ke Indonesia sepanjang tahun lalu, naik 17,9% dari pencapaian pada tahun sebelumnya sebanyak 2,12 juta kunjungan.

“Tentu agar dapat menarik kunjungan wis­man, pemerintah tak sekedar promosi Won­derful Indonesia saja tetapi pembenahan in­fra­struktur pendukung moslem tourism dan juga mem­perbanyak pengadaan event internasional yang mampu menarik wisatawan muslim,” ucapnya.

SEKADAR GIMIK

Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Azril Azahari berpendapat, meski telah mendapatkan peringkat terbaik, menarik turis muslim datang ke Indonesia masih terbilang sulit. Menurutnya, konsep wisata halal bisa jadi hanya sekadar gimik.

“Pariwisata Indonesia sudah memperoleh banyak award, tetapi apakah banyak wisman yang datang dan target jumlah wisman tercapai? Enggak juga kan,” ujarnya.

Dia menilai, banyak destinasi di lokasi wisata yang telah ditetapkan sebagai destinasi halal ini belum siap. Dia pun meragukan perolehan predikat destinasi halal terbaik yang diterima oleh Indonesia.

Selain itu, menurutnya, konsep pariwisata halal ini tak memiliki kejelasan seperti apa bentuk dan implementasinya. Pemerintah juga tak bisa serta merta memberikan label pariwisata halal tanpa melakukan pembenahan penunjang wisatanya.

Dia mencontohkan, untuk memiliki pariwisata halal, yang harus disiapkan adalah adanya sertifikasi kehalalan mulai dari restoran, sumber daya manusia, hotel, hingga destinasi wisatanya.

Tak hanya itu, pemandu wisatanya pun harus menggunakan jilbab dan beragama muslim. Hal itu pun dinilai belum dilakukan pemerintah hingga kini.

“Ini beda apabila pemerintah bilang wisata di Tanah Air ini ramah muslim. Kalau ramah muslim pemandu wisatanya enggak harus menggunakan jilbab dan nonmuslim,” terang Azril.

Memperoleh predikat sebagai negara yang memiliki destinasi halal terbaik ini memang prestasi dan kebanggaan tersendiri.

Lantas, apakah dengan penghargaan yang diraih ini akan mampu menjadikan Indonesia sebagai destinasi wisata halal favorit bagi wisman muslim dunia? Atau, jangan-jangan ini tidak lebih dari sekadar trik pemasaran?

Jangan sampai, pemerintah hanya berhenti pada ambisi penghargaan semata saja, tanpa melakukan pembenahan destinasi wisata yang benar-benar sesuai dengan definisi konsep halal dan membawa hasil yang signifikan bagi industri pariwisata secara keseluruhan. (Muhammad Khadafi)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Jadwal lengkap KRL Jogja Solo Minggu 5 April 2026, tarif Rp8.000

Jadwal lengkap KRL Jogja Solo Minggu 5 April 2026, tarif Rp8.000

Jogja
| Minggu, 05 April 2026, 00:47 WIB

Advertisement

Jelang Menstruasi Pikiran Bisa Kabur Ini Penjelasan Ilmiahnya

Jelang Menstruasi Pikiran Bisa Kabur Ini Penjelasan Ilmiahnya

Lifestyle
| Sabtu, 04 April 2026, 20:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement