Krida Beksa Wirama Pentaskan Umbul Donga Sinengkeran Ing Matoyo di Pendopo Agung Royal Ambarrukmo

Krida Beksa Wirama tampilkan Umbul Dongo Sinengkeran Ing Matoyo di Pendopo Agung Royal Ambarrukmo, Selasa (25/6/2019). - Ist/ Royal Ambarrukmo
27 Juni 2019 20:47 WIB MediaDigital Wisata Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Krida Beksa Wirama kembali tampil untuk ketiga kalinya, Selasa (25/6/2019). Penampilan ini menjadi tanda tiga tahun berlatih tari Jawa klasik gaya Jogja dan komitmennya dalam pelestarian budaya Jawa di Pendopo Agung Royal Ambarrukmo.

Mereka berawal dari 2017 lalu saat Krida Beksa Wirama mendapatkan dukungan dan tempat berlatih menari Tari Jawa Klasik dari hotel berkarakter budaya kuat, Royal Ambarrukmo Yogyakarta.

Krida Beksa Wirama berkomitmen bahwa setiap tahunnya harus mampu untuk menghadirkan pementasan tari hasil dari latihan menari setiap Selasa pukul 16.00 – 18.00 WIB di situs cagar budaya abad ke-17 yaitu Pendopo Agung Royal Ambarrukmo Yogyakarta.

Pembina Krida Beksa Wirama, R.M Condroyono Hardjaningrat mengatakan selama tiga tahun berjalan ini, tidak hanya sekedar berlatih menari rutin setiap minggunya, akan tetapi juga mampu melahirkan sebuah karya tari.

“Dari generasi milenial, kakak guru yang kita motivasi dan kita fasilitasi dengan sederhana, tetapi dengan dukungan semangat, cinta, kepercayaan dan kesempatan untuk berkarya, Adek atau Kakak kita Sri Nurhayati berhasil menciptakan karya tari Jawa klasik Pandonga Pinungsung,” ucap R.M Condroyono melalui siaran pers, Kamis (27/6/2019).

Tari Pandongo Pinungsung, adalah tari yang diciptakan untuk mengantarkan doa dan ucapan syukur ke hadirat Tuhan YME, agar kita senantiasa diberi keselamatan, kelancaran dan keberhasilan dalam hidup ini. Tarian yang di dibuat pada 2018 lalu, ditampilkan pertama kali dalam peringatan hari jadi Royal Ambarrukmo Yogyakarta yang ke-7, akhir Oktober 2018.

Kegiatan rutin Krida Beksa Wirama bukan hanya berlatih menari tari jawa klasik, namun juga mengenai belajar mendalam tentang budaya Jawa meliputi busana, adat istiadat dan filosofi luhur yang saat ini semakin langka untuk diperkenalkan. Untuk peserta anak-anak Krida Beksa Wirama juga mengajarkan budi pekerti, norma dan aturan budaya Jawa yang saat ini pendidikan yang berakar dari budaya lokal telah banyak ditinggalkan.

Kegiatan ini adalah tanda bakti budaya untuk negeri, kerjasama dan kesempatan dari Royal Ambarrukmo Yogyakarta membuat bersinergi mengenalkan budaya luhur Jawa ini secara Internasional, melalui para blogger serta media massa dari berbagai belahan dunia atau dari tamu-tamu hotel.

Tiga tahun perjalanan kegiatan ini, kesemuanya adalah murni dari swadaya bersama dan kerja tulus banyak cinta, juga sukarela dari pengurus yang tergabung dalam Candiliya. Dengan dinamika dan warna warni kegiatan, untuk itu pada pementasan ketiga mereka berdoa dalam Tari Pandonga Pinungsun dan alunan Tembang Macapat dalam acara Umbul Dongo Sinengkeran Ing Matoyo atau doa yang bersama- sama kita panjatkan yang menyatu dalam gerak tari.

“Harapan kami, kegiatan ini membuat kami semua yang terlibat semakin mencintai dan bangga dengan budaya kita sendiri, dapat bermanfaat bagi masyarakat Yogyakarta khususnya dan Indonesia serta kita semua senantiasa diberi bimbingan & keselamatan dari Tuhan YME,” ungkapnya.