Menikmati Ketenangan di Gua Maria Lawangsih

Para peziarah saat melaksanakan doa di Gua Maria Lawangsih, di Dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo. - Kulonprogo/Jalu Rahman Dewantara
12 Januari 2020 11:37 WIB Jalu Rahman Dewantara Wisata Share :


Harianjogja.com, KULONPROGO--Kawasan perbukitan menoreh di Kulonprogo tak hanya menyimpan aneka wisata alam, tapi juga wisata rohani. Salah satu yang patut jadi tujuan yakni Gua Maria Lawangsih.

Berlokasi di Dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Gua Maria ini masuk dalam paroki administratif Pelem Dukuh dan wilayah Keuskupan Agung Semarang. Untuk menuju ke lokasi ini dapat menggunakan sepeda motor, mobil, atau bus kecil. Dari pusat kota Jogja, jaraknya sekitar 30 km dengan waktu tempuh berkisar satu jam perjalanan.

Peruntukan utama Gua Maria ini sebagai tempat berdoa bagi umat Katolik. Namun di sisi lain, juga merupakan obyek wisata yang terbuka bagi seluruh kalangan. Wisatawan tak dipatok biaya untuk memasuki tempat ini, hanya perlu mengeluarkan uang sukarela untuk kepentingan pengembangan Gua Maria tersebut.

Nama Lawangsih sendiri diambil dari bahasa Jawa. Lawang artinya pintu, gapura atau gerbang. Sedangkan sih atau asih artinya kasih sayang, cinta, berkat, rahmat. Ini bermakna Bunda Maria sebagai gerbang surga dan pintu berkat.

Yang menarik dari tempat ini yaitu keasrian gua yang masih terjaga sampai sekarang. Jika biasanya gua maria yang ada di obyek wisata rohani adalah hasil karya tangan manusia, maka Gua Maria Lawangsih merupakan gua yang terbentuk secara alami. Di DIY, hanya ada dua gua maria yang alami, selain Lawangsih, ada pula Gua Maria Tritis, Gunungkidul.

Ukuran Gua Maria Lawangsih cukup besar dan luas. Pengunjung bisa melihat eksotisme gua, mulai dari sungai kecil yang mengalir di dalam gua serta ornamen gua seperti stalagtit dan stalagmit. Jika datang saat sepi, pengunjung bisa mendengar suara tetesan air.

Air yang mengalir di dalam gua biasa digunakan para peziarah untuk membasuh muka usai pelaksanaan doa. Salah satunya dilakukan Agustinus Kristanto. "Setelah membasuh muka rasanya yang pasti lebih segar, dan hati lebih tenang," ungkapnya peziarah asal Jogja tersebut.

Agus, mengaku sering berkunjung ke Gua Maria Lawangsih. Kedatangannya tidak hanya untuk berdoa, tapi juga menenangkan diri. Menurutnya gua ini sangat cocok bagi siapapun yang ingin merasakan ketenangan batin. "Karena lokasinya kan jauh dari kota, tidak ada suara bising kendaraan, sehingga cocok banget untuk relaksasi," ucapnya.

Ketua Pengelola Gua Maria Lawangsih, Flarentius Supriyanto mengatakan obyek wisata rohani ini biasanya ramai dikunjungi wisatawan dan peziarah saat hari besar keagamaan umat Kristiani atau libur panjang. "Biasanya pada Bulan Mei yaitu bulan Maria dan Oktober bulan Rosario juga pasti ramai, bisa sampai ratusan orang per hari," ungkapnya.

Namun demikian, akses menuju Gua Maria Lawangsih belum memadai. Lebar jalan tak mencukupi untuk dilewati kendaran besar. Kalau dipaksakan, sangat tidak aman. Sehingga diharapkan pemerintah setempat bisa melakukan perbaikan.