Adaptasi Baru, Mayoritas Wisatawan ke Jateng dan Jogja Gunakan Jalur Darat

Sejumlah wisatawan berjalan di halaman Candi Borobudur di Kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (13/2/2020). - ANTARA / Anis Efizudin
06 September 2020 23:37 WIB Iim Fathimah Timorria Wisata Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Pandemi Covid-19 membuat pola kunjungan wisatawan lokal mengalami penyesuaian salah satunya di destinasi wisata di Jawa Tengah dan Jogja.

Direktur Utama Badan Otorita Borobudur (BOB) Indah Juanita mengatakan selama masa pandemi Covid-19, mayoritas wisatawan lokal lebih memilih mengunjungi destinasi pariwisata yang dapat dijangkau dengan transportasi darat di sekitar Jogja dan Jawa Tengah.

"Saat ini orang belum banyak menggunakan transportasi udara karena belum berani terbang, jadi mereka banyak yang memilih untuk ke destinasi wisata lewat jalur darat," tutur Indah dikutip dari siaran pers, Minggu (6/9/2020).

Baca juga: Tak Cuma KTP Disita, Pelanggar Protokol Covid-19 di Sleman Harus Ikuti Pembinaan Bela Negara

Terkait hal itu, Indah mengatakan pihaknya beserta sejumlah asosiasi pelaku wisata tengah berupaya menyusun pola wisata yang dapat memberikan pengalaman baru bagi wisatawan yang datang berkunjung ke wilayah koordinatif BOB.

"Jadi melalui travel pattern yang baru ini diharapkan bisa meningkatkan durasi kunjungan wisatawan menjadi lebih lama dan memberikan pengalaman baru," lanjut Indah.

Baca juga: Kemendagri Sesalkan 2 Hari Terakhir Banyak Kerumunan Saat Pendaftaran Pilkada 2020

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Singgih Raharjo menjelaskan bahwa Pemerintah DIY tidak melakukan penutupan destinasi wisata. Namun, penutupan destinasi lebih banyak dilakukan oleh para pengelola.

"Masyarakat Yogyakarta punya semacam modal sosial, sehingga mereka membatasi kunjungan ke destinasi wisata saat awal terjadinya pandemi Covid-19 dan para pengelola destinasi pun menutup lokasi yang ia kelola tanpa ada perintah dari pemerintah provinsi. Selain itu, berbagai kampung di Jogja juga membatasi akses masuk wilayahnya secara mandiri," papar Singgih.

Hal ini didukung dengan kebijakan Pemda DIY yang membatasi jumlah kunjungan wisatawan. Salah satunya dengan menolak rombongan wisata yang bepergian menggunakan bus pariwisata.

Singgih juga menyebutkan pihaknya sudah menyusun berbagai aturan terkait protokol kesehatan yang harus diterapkan setiap pelaku pariwisata dan wisatawan yang datang berkunjung ke Yogyakarta. Aturan ini dikenal dengan sebutan "Pranatan Anyar Plesiran Jogja".

"Kami menyusun protokol ini bersama-sama dengan unsur pemerintah kabupaten/kota dan asosiasi pelaku wisata. Aturan-aturan ini juga sudah kami bukukan dan digunakan oleh seluruh asosiasi dan pengelola destinasi wisata," kata dia.

Singgih juga menyebutkan tidak semua destinasi wisata di Jogja dibuka untuk wisatawan. Hanya destinasi yang sudah lulus uji coba penerapan protokol kesehatan dengan izin dari Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Yogyakarta dan pemerintah setempat serta telah menerima plakat "Jogja Clean & Safe".

Dalam kesempatan tersebut Singgih juga menyebutkan Pemda DIY berupaya membentuk ekosistem digital di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dengan meluncurkan aplikasi "Visiting Jogja".

"Jadi melalui aplikasi ini wisatawan bisa melakukan reservasi dan pembayaran hotel serta mengakses berbagai data dan informasi mengenai destinasi wisata di Jogja," jelasnya.

Selain itu, Singgih menuturkan pihaknya telah memberdayakan wisatawan lokal melalui program #DiJogjaAja. Menurutnya, pemberdayaan ini dikarenakan banyak warga dari berbagai daerah di Jogja yang mengunjungi destinasi wisata di daerah lain tanpa keluar dari wilayah Jogja .

Sumber : Bisnis.com