KABAR WISATA: Bekas Pasar Horor Disulap Jadi Pusat Kuliner Instagramable

Taman di Pasar Gaum Garden Desa Gaum, Kecamatan Tasikmadu, Karanganyar. - Solopos.com/Sri Sumi Handayani.
16 November 2020 21:27 WIB Sri Sumi Handayani Wisata Share :

Harianjogja.com, KARANGANYAR–Lahan bekas pasar di Desa Gaum, Kecamatan Tasikmadu, Kabupatan Karanganyar yang mangkrak selama belasan tahun kini disulap menjadi pusat kuliner. Tempat yang diberi nama Pasar Gaum Garden itu kini dibangun sebagai tempat tongkrongan yang Instagramable.

Sebelumnya lokasi di sudut lampu lalu lintas itu kumuh, mangkrak, penuh ilalang, semak rimbun, dan gelap saat malam hari. Dulu hanya ada beberapa orang berjualan di kios dan tepi jalan. Kini, tempat itu telah disulap menjadi sangat berbeda dan membuat pangling saat masuk ke area tersebut.

Bangunan yang semula mangkrak itu menjadi tertata, bersih, rapi, dan cantik. Kesan yang didapatkan tenang, teduh, dan nyaman, jauh dari kesan mangkrak dan menakutkan.

BACA JUGA : KABAR WISATA: Breksi, Pahatan Tebing yang Menarik

Pusat kuliner ini berada di Jalan Gatot Subroto atau barat Proliman Beji yang termasuk wilayah Desa Gaum, Kecamatan Tasikmadu, Karanganyar. Lokasinya persis di pojokan lampu lalu lintas proliman Beji.

Tempat makan yang diberi nama Pasar Gaum Garden itu menawarkan tempat bersantai sembari menikmati aneka penganan, makanan berat, minuman, dan kuliner lain. Menu yang disuguhkan berbeda-beda setiap lapak.

Bangunan pasar menyerupai los atau tanpa dinding. Pengelola menambahkan aksen kulit kayu dan potongan kayu sebagai pagar maupun hiasan pada dinding. Mereka juga memasang bambu yang ditumbuhi tanaman merambat sebagai penghalau panas matahari.

Tidak hanya kuliner, Pasar Gaum Garden menyuguhkan tempat bersantai di taman dengan pemandangan bunga, sayur mayur merambat, dan rerumputan. Tempat ini semakin cantik dengan kebun dan gazebo, bangku dari kayu maupun bambu, serta ayunan.

Pasar Gaum Garden buka setiap hari mulai pukul 06.00 WIB-23.45 WIB. Tetapi, Anda tidak akan menemukan nama Pasar Gaum Garden di aplikasi Google Maps. Anda dapat mengetikkan Pasar Rakyat Gaum. Dua nama itu merujuk pada lokasi yang sama.

BACA JUGA : KABAR WISATA: Sensasi Bersepeda Blusukan Kampung

Pemerintah Desa Gaum membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) Usaha Pratama untuk mengembangkan kawasan itu menjadi pusat kuliner, tempat menongkrong, dan wisata foto.

Kepala Desa Gaum, Edi Susanto, mengaku malu melihat kondisi bekas pasar itu kumuh dan mangkrak. Padahal lokasi itu muka desa dan tidak jauh dari perkotaan.

"Pasar mangkrak selama 15 tahun, tidak ada aktivitas. Padahal itu muka desa. Mangkrak, kotor, alang-alang tinggi, kumuh, kamar mandi jorok. Ini kami perbaiki dibikin wisata kuliner dan tempat menongkrong. Dulu tempat uka-uka sekarang jadi tempat menongkrong. Suasana tenang, harga terjangkau, tetapi penampilan resto," kata Edi saat berbincang dengan JIBI/Solopos melalui sambungan telepon, Minggu (15/11/2020).

BACA JUGA : Kabar Gembira, Kuota Wisatawan ke Gunung

Revitalisasi

Edi menceritakan Desa Gaum mengucurkan Rp40 juta untuk merevitalisasi bangunan pasar dan lingkungan seluas 4.000 meter persegi. Pekerjaan fisik dan penataan kawasan dilakukan selama empat bulan. Edi mengaku puas karena aset desa itu kini bisa dimanfaatkan sebagai pemberdayaan masyarakat.

"Sejalan dengan program memajukan UKM Gaum. Kami awali dari menghidupkan aset desa. Dulu pasar kini pusat kuliner. Ada pedagang pasar masih berjualan dan tidak dipindah. Penjual kuliner diprioritaskan warga Gaum untuk mengangkat perekonomian masyarakat setempat," ungkapnya.

Ketua BUM Desa Usaha Pratama, Isnine Solihin, menyampaikan penataan kawasan itu melibatkan organisasi kepemudaan, karang taruna, paguyuban UKM di Desa Gaum, dan lain-lain. Mereka berpikir bagaimana wilayah dekat perkotaan bisa memiliki tempat senyaman wilayah pegunungan. Seperti disampaikan Edi, penataan kawasan tersebut difokuskan untuk pemberdayaan masyarakat di Desa Gaum.

BACA JUGA : KABAR WISATA: Bukit Paralayang, Tempat Romantis untuk

"Dulu tempat uka-uka dan tidak produktif. Kebon angker di wilayah urban, dekat kota kabupaten. Wajah perkotaan. Kami revitalisasi pertengahan Juli. Masih tetap pasar tetapi karakter berbeda. Ini lebih kekinian," katanya.

Sumber : JIBI/Solopos