Advertisement

Bosan dengan Oleh-Oleh Jogja yang Itu-Itu Saja, Coba Cokelat Truffle Ini

Lajeng Padmaratri
Selasa, 25 Januari 2022 - 10:07 WIB
Arief Junianto
Bosan dengan Oleh-Oleh Jogja yang Itu-Itu Saja, Coba Cokelat Truffle Ini Trufllelogy. - Instagram trufflelogy

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA--Meski belum genap dua tahun dirintis, produk cokelat truffle rumahan yang dijalankan Balindo menambah semarak bisnis camilan cokelat di Jogja. Melalui jenama Trufflelogy, pemuda asal Batam itu ingin menghadirkan camilan cokelat yang berbeda kepada para pencinta cokelat.

Cokelat merupakan camilan sejuta umat. Nyaris tak ada orang yang tak doyan makanan olahan dari kakao ini. Kini, tangan-tangan kreatif membuat cokelat kian beragam, salah satunya ialah cokelat truffle.

Advertisement

PROMOTED:  5 Mitos dan Fakta Kesehatan Anak ala Tokopedia Parents

Cokelat truffle adalah suguhan cokelat yang terbuat dari cokelat dan krim yang umumnya dibentuk seukuran sekali makan, lalu dilumuri bubuk cokelat. Lantaran pemain bisnis cokelat jenis ini belum banyak di Jogja, Balindo pun tanpa ragu menawarkan produk cokelat truffle-nya sebagai salah satu pilihan menikmati olahan kakao.

Sekitar empat tahun lalu, pria 35 tahun ini merantau ke Jogja. Di kota ini, ia mengambil spesialisasi cokelat dengan salah satu chef untuk mendalami produk olahan kakao. Setelah puas belajar ilmu dasarnya, Balindo pun mengeksplorasi olahan cokelat. Puncaknya, pada 2020 ia merilis Trufflelogy.

"Pada 2020 mau buka bisnis, ternyata barengan sama pandemi. Tapi ya sudah jalani saja, meski saat awal-awal aku masih kerjain sendiri. Sekarang pasar yang terbentuk justru maksimal di penjualan online, mungkin karena pandemi juga," ujar Balindo, belum lama ini.

Saat itu, dia hanya berpikir bagaimana menggarap olahan cokelat truffle dengan serius. Dengan modal Rp900.000 yang ia gunakan untuk membeli alat dan bahan, Balindo memulai eksperimen cokelatnya.

Ada tiga varian yang pertama kali diluncurkannya, yaitu dark light, choco milk, dan matcha. Sejumlah varian itu mulanya ia tawarkan ke lingkaran pertemanannya. Beruntung, mereka menghargai usahanya dan mendukung dengan membeli.

Sembari meraba pasar, dia pun merambah promosi di media sosial. Rupanya, masa awal pandemi Covid-19 yang memaksa orang banyak beraktivitas di rumah saja justru membuat banyak pesanan Trufflelogy berasal dari luar Jogja.

Advertisement

"Pandemi bikin orang jadi banyak jajan, Trufflelogy ikut laris lewat penjualan online. Kami banyak kirim ke luar kota, dibandingkan penjualan dalam Jogja sendiri. Lama-lama pembeli yang suka cokelatku ikut promosiin dengan unggah ke Instagram Story, ternyata jadi viral," ungkapnya.

Sejak pertengahan 2021 lalu, Balindo pun menyewa sebuah rumah di Ngaglik, Sleman sebagai tempat produksi sekaligus outlet kecil bagi pelanggannya. Di sana, dia kini dibantu 12 karyawan.

Varian

Advertisement

Dibandingkan cokelat batangan, camilan berupa cokelat truffle memiliki tekstur yang lebih lembut. Tampilannya juga unik lantaran bertabur bubuk cokelat.

Setelah merilis tiga varian awal, Trufflelogy pun menambah tiga varian lain yaitu choco rum, choco mint, serta salted caramel. "Dari enam itu yang jadi best seller varian dark light, choco milk, matcha, dan salted caramel," kata dia.

Setiap satu boks Trufflelogy berukuran 135 gram. Harganya beragam berdasarkan variasi rasanya, mulai dari Rp50.000 hingga Rp60.000. Selain bisa dibeli langsung di outlet Ngaglik, Trufflelogy juga bisa dipesan via aplikasi daring seperti lokapasar dan pengiriman ojol.

"Buat orang Jakarta, mungkin cokelat satu boks seharga Rp50.000 gini murah ya. Jadi banyak yang pesan itu memang dari Jakarta," kata dia.

Advertisement

Meski mengirim ke luar kota, Balindo memastikan bahwa cokelat tersebut tahan di suhu ruang selama enam hari sehingga masih aman ketika diterima konsumen. Masa liburan, perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), hingga Lebaran membuat permintaan Trufflelogy melonjak drastis.

Untuk momen Nataru pada Desember lalu, kata dia, ribuan boks terjual Trufflelogy.

"Selain itu yang lebih tinggi lagi momen Valentine di 14 Februari. Alhamdulillah omzetnya bisa buat menggaji 12 karyawan yang kebanyakan mereka tadinya korban PHK selama pandemi," ujarnya.

PROMOTED:  Kisah Dua Brand Kecantikan Lokal Raup Untung dari Tokopedia: Duvaderm dan Guele

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Piala Dunia 2022

Advertisement

alt

72 Festival di Jogja Hasilkan Ratusan Miliar Rupiah, Regulasi Kerap Jadi Penghambat

Jogja
| Minggu, 27 November 2022, 21:37 WIB

Advertisement

alt

Daftar 21 Penyakit yang Tidak Ditanggung BPJS Kesehatan

Lifestyle
| Minggu, 27 November 2022, 18:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement