Piknik & Makan Malam ke Gedung Kunstkring di Batavia

Gedung Kunstkring itu ada di Jalan Teuku Umar No.1, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat. - JIBI/Bisnis Indonesia
14 Mei 2018 16:35 WIB Maya Herawati Wisata Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Lebih kurang 104 tahun lalu orang-orang Belanda datang ke Gedung Kunstkring di Nieuw Gondangdia, Batavia untuk mengapresiasi karya seni buah tangan seniman dunia. Saat ini posisi Gedung Kunstkring itu ada di Jalan Teuku Umar No.1, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat.

Gedung yang didesain oleh arsitek PAJ Moojen ini dibuat untuk mewadahi kegiatan kelompok seni Lingkar Seni Hindia Belanda (Nederlandsch Indische Kunstkring) pada saat itu. Bukan kebetulan jika Moojen juga pendiri kelompok seni tersebut.

Peletakan batu pertamanya dilakukan pada 1913. Setahun kemudian, tepatnya pada pada 17 April 1914, Gubernur Jenderal Pemerintah Hindia Belanda Frederick Idenburg meresmikan bangunan tersebut.

Pada masanya, Kunstkring merupakan tempat yang sangat prestisius bagi para seniman. Sejumlah karya seniman besar dunia seperti Vincent van Gogh, Pablo Picasso, dan Paul Gaugin pernah dipamerkan dalam ruang pamer di gedung ini. Satu-satunya seniman Indonesia yang dapat berpameran di tempat ini adalah Bapak Seni Rupa Indonesia Modern, S. Sudjojono.

Sayangnya, seiring perpindahan kekuasaan dari Pemerintah Hindia Belanda ke Pemerintah Jepang, gedung ini berubah fungsi, dan sempat dijadikan sebagai kantor Imigrasi Jakarta Pusat.

Setelah berpindah kepemilikan ke tangan swasta, gedung sempat dibiarkan terbengkalai. Pada 2007, gedung ini sempat dimanfaatkan sebagai restoran Budha Bar, tetapi tak bertahan lama.

Hingga akhirnya pada April 2013, gedung tua ini dihidupkan kembali dengan nama Tugu Kunstkring Paleis oleh Anhar Setjadibrata, pendiri Tugu Group. Anhar yang juga kolektor benda seni ini berupaya mengembalikan Kunstkring masa lalu di era modern ini sesuai dengan izin yang diberikan oleh Pemprov. DKI Jakarta.

Wajah tua Kunstkring diremajakan dan secara rutin dijadikan sebagai ruang pamer karya-karya dari para seniman.

 

Penelusuran Sejarah

Arya Abieta, arsitek yang terlibat dalam konservasi gedung itu bercerita dahulunya bangunan tersebut dimiliki oleh pengusaha Tommy Soeharto sebelum dibeli oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.

“Kala itu kondisinya [saat diserah terimakan] dalam keadaan rusak berat. Kusen gedung hilang dijarah oleh pencuri, dan beberapa bagian bangunan tidak terpelihara,” tuturnya.

Proses konservasi bangunan ini dilakuan dengan bantuan dari Pusat Dokumentasi Arsitektur. Arya mendokumentasikan kembali fisik bangunan aslinya sekaligus menelusuri rekam jejaknya. Dari hasil pencarian melalui sejumlah dokumen yang masih tertinggal, akhirnya gedung ini dikembalikan ke bentuk awalnya. “Saya kembalikan material dinding ke semen kapur. Jendela [yang] hilang, kami buat kembali. Kami juga lakukan perbaikan lantai,” ujarnya.

Usai dipugar, Pemprov DKI Jakarta meminta gedung tersebut dikelola secara profesional sehingga disewakan kepada pihak ketiga.

Arya menjelaskan bahwa gedung berlanggam arsitektur modern ini merupakan yang pertama kali didirikan di Indonesia. Saat itu, Moojen sebagai arsitek mendesain bangunan yang sesuai dengan iklim tropis di Indonesia.

Ciri khas banguna tropis dapat dilihat dari sejumlah teras bangunan dan dua menara yang awalnya akan dipakai sebagai cerobong angin. “Ditilik dari sejarah, Kunstkring merupakan gedung berkonstruksi beton pertama di Indonesia,” ujarnya.

Arya mengharapkan ke depan gedung bersejarah ini dapat dikelola dengan cermat karena statusnya sebagai cagar budaya.

Dia pun menyayangkan jika ada tambahan demi memuaskan sisi estetika yang dapat mengubah bentuk aslinya. Dia mengaku sejauh ini pengelola gedung merawat bangunan dengan baik. Namun, dia berpesan agar pengelola terus berhati-hati dalam memanfaatkan gedung cagar budaya. “Konsultasikan dengan ahlinya,” ujarnya.

Public Relations Marketing Manager Tugu Dining Jakarta Zulfa Shafira mengatakan, Tugu Kunstkring Paleis mengusung konsep luxury and historical yang menyajikan kesan mewah berkelindan dengan sejarah kepada pengunjung.

“Tidak hanya sebagai galeri seni, tempat ini juga diubah menjadi resto dan tempat pertemuan. Jadi, selain menikmati hidangan, para tamu dan pencinta seni juga dapat mengetahui sejarah sekaligus mengapresiasi karya yang dipajang di tempat ini,” katanya.

Hampir seluruh benda-benda antik di gedung ini berasal dari koleksi pendiri Tugu Group Anhar Setjadibrata.

Interaksi Ruang

Pemanfaatan gedung Tugu Kunstkring Paleis seperti menjadi jawaban atas interaksi ruang antara arsitektur dan seni rupa. Di Indonesia, kedua hal ini masih belum mendapatkan ruang yang cukup luas. Contohnya saja, pemilihan tempat untuk gelari seni rupa bukan karena alasan arsitektur yang unik. Namun, lebih kepada masalah lokasi strategis, atau lahan parkir yang luas.

Di tambah lagi, permasalahan arsitektur dan seni rupa memang belum pada tataran kebijakan pemerintah kota sebagai citra kebudayaan yang lebih riil. Dukungan pemerintah masih sebatas memberikan izin penggunaan gedung-gedung lama yang direkonstruksi dan digunakan sebagai ruang pamer karya seni, atau mengedukasi publik untuk mengapresiasi karya.

Arsitektur masih diterjemahkan secara terbatas sebagai ruang secara fisik untuk mengakomodasikan aktivitas berkesenian. Akibatnya, antara arsitektur dan seni rupa belum bertemu kendati berada dalam perlintasan yang sama.

Berbicara keterkaitan arsitektur dalam ranah seni rupa, maka dibutuhkan sinergi antara seniman, kurator, dan arsitek, sehingga mampu menginterpretasikan karya dan ruang yang digunakan secara selaras. Kesadaran bahwa arsitektur ruang seni dan seni rupa berangkat dari budaya visual yang sama menjadi perlu untuk dibangkitkan dalam diri para pihak yang berkepentingan.

Manakala antara arsitektur dan karya seni terdapat ‘dialog’ yang cukup intens, maka arsitektur sebagai salah satu elemen pembentuk atmosfer seni rupa dan citra kebudayaan perkotaan secara luas dapat terwujud. Salah satu bentuknya seperti pada pemanfaatan gedung Tugu Kunstkring Paleis.