Menghirup Harum Kopi di Lereng Gunung Kelud

Gedung kantor De Karanganjar Koffieplantage yang sejak era kolonial hingga saat ini memiliki fungsi yang sama. - Foto/foto: Harian Jogja/Maya Herawati
09 Juli 2018 19:35 WIB Maya Herawati Wisata Share :

Harianjogja.com, BLITAR—Blitar hampir selalu identik dengan wisata ziarah, makam Presiden Pertama RI Soekarno. Padahal Blitar, yang melingkupi wilayah kabupaten dan kota juga punya banyak destinasi lain yang tak kalah menyenangkan. Contohnya kawasan wisata Kebun Kopi Karanganyar atau yang dikenal dalam tulisan ejaan lama Keboen Kopi Karanganjar, di lereng Gunung Kelud. Kebun kopi ini dalam bahasa Belanda disebut sebagai De Karanganjar Koffieplantage. Terletak di Dusun Karanganyar, Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Bagi wisatawan, kebun kopi ini bisa dengan mudah dijangkau menggunakan transportasi online dari pusat Kota Blitar. Biaya jika menggunakan roda dua sekitar Rp25.000, untuk mobil Rp70.000-Rp85.000 (tarif pada Juli 2018).

Udara sejuk lereng pegunungan akan menyambut Anda setibanya di sana. Pintu masuk kawasan wisata dijaga seorang lelaki berseragam ala penjaga perkebunan zaman kolonial. Biaya tiket masuk per orang Rp15.000.

Seorang wisatawan berfoto di depan area pintu masuk De Karanganjar Koffieplantage.

Dari pintu masuk, Anda harus berjalan sebentar menuju area utama De Karanganjar Koffieplantage. Area utama ini terdiri dari beberapa bangunan. Di tengah-tengah terdapat Tuin Ster atau Taman Bintang yang berupa petak kolam berbentuk bintang dengan air mancur di tengahnya. Petak taman ini berusia 100 tahun lebih. Bangunan utama di area utama berupa bangunan kantor dengan papan nama besar di atasnya bertuliskan De Karanganjar Koffieplantage Blitar. Bangunan di sebelahnya adalah Rumah Lodji yang dulunya ditempati pejabat perkebunan era kolonial dan kemudian pemilik perkebunan setelah beralih tangan.

Di sebelah Rumah Lodji adalah Resko atau Restoran Prangko yang menyediakan menu tradisional khas Blitar. Resko juga menghadirkan puluhan koleksi prangko kuno, termasuk prangko pertama  yang diterbitkan Indonesia bergambar Presiden Soekarno. Ada dua museum yang menempel di bangunan Resko.

Bangunan menonjol lain setelah Resko adalah O.G. Cafe, kependekan dari bahasa Belanda Onze Grooutouders Cafe yang artinya kafe kakek nenek kita. Di tempat inilah harum aroma kopi yang sedang digoreng merebak.

O.G Kafe.

Di kafe ini pengunjung tak hanya bisa minum kopi, tetapi juga bisa menyaksikan proses roasting alias menggoreng biji kopi segar dari perkebunan. Kopi-kopi sehabis digoreng, dikemas dan dijual dalam kemasan bubuk, biji dan sachet.  Di belakang kafe ini ada gerbang masuk bernama Moeseoem Mblitaran. Dari gerbang ini pengunjung bisa menaiki tangga dan melihat pohon-pohon kopi.

 

Sudut pengolahan kopi di Keboen Kopi Karanganjar, berada satu atap dengan O.G Cafe.

Jika bukan musim liburan, wisatawan bisa menikmati suasana lengang, udara beraroma kopi dan hawa sejuk. Tak cukup sehari di tempat ini? Tenang, ada beberapa kamar yang disediakan untuk Anda dan keluarga menginap di perkebunan.

Nurul Hidayati, staf Promo Kreatif dan Public Relation Keboen Kopi Karanganjar menyebutkan ada paket yang ditawarkan bagi pengunjung. “Sewa kamar untuk menginap tanpa sarapan adalah Rp200.000 per malam. Untuk harga paket Rp400.000 plus sarapan dan fasilitas jip berkeliling kebun kopi,” katanya kepada Harian Jogja, belum lama ini.

Pengunjung, menurut Nurul, bisa memilih beberapa paket wisata yang memperkaya pengetahuan. Paket Edukasi Kopi misalnya, selain mendapatkan pelajaran tentang kopi dari guide, pengunjung juga mendapat kopi gratis dan es krim. Belajar kopi dilakukan di kebun yang dinamai dalam bahasa Belanda Koffieboomstraat atau berarti Jalan Pohon Kopi dan di Roosteren Kamer atau kamar penggorengan.

“Edukasi kopi meliputi pembibitan, pengolahan, penanaman dan penyajian,” kata Nurul.

Sejarah dan Jenis Kopi

Keboen Kopi Karanganjar kali pertama dibuka pada 1874 oleh orang Belanda, H.J Velsink. Selama beberapa tahun, perkebunan kopi ini dikelola oleh perusahaan Belanda. Hingga akhirnya pada 1945 Belanda harus pergi dari Hindia Belanda, perkebunan sempat diambil alih pemerintah Indonesia.

Kemudian diambil alih mandor perkebunan Denny Mochamad Roshadi. Ia lantas mendirikan PT Harta Mulia dan mengambil alih pengelolaan perkebunan dengan Hak Guna Usaha (HGU). Perkebunan dan pabrik pengolahan kopi sampai saat ini telah dikelola hingga tiga generasi anak keturunan Denny. Pada 2017 perkebunan mulai dibuka sebagai kawasan agrowisata.  Sampai sekarang pabrik yang masih beroperasi bisa dikunjungi wisatawan dan menjadi spot unik berfoto.

Berada di lereng Gunung Kelud dengan ketinggian 450-600 meter di atas permukaan laut (mdpl) tanaman kopi yang dianggap cocok ditanam adalah jenis robusta. Selain itu ada juga kopi jenis excelsa dan liberica. Semua biji kopi yang ditanam bisa dibeli oleh pengunjung di sudut pengolahan kopi yang menempel di bagian luar O.G Cafe.  “Kopi-kopi yang dijual fresh dari mesin penggorengan,” kata Nurul.

Lokasi pabrik pengolahan biji kopi PT Harta Mulia di Keboen Kopi Karanganjar.