Tragedi Sungai Wiroko: Pelajar Wonogiri Tewas Tenggelam Saat Memancing
Pelajar 18 tahun tewas tenggelam di Sungai Wiroko Wonogiri saat memancing. Korban ditemukan setelah 4 jam pencarian.
Ragam gorengan khas Jepang/Antara
Harianjogja.com, JAKARTA—Gorengan khas Jepang ternyata banyak ragamnya. Namanya dan cara memasaknya pun berbeda.
Beberapa waktu lalu Duta Besar Jepang untuk Indonesia Masafumi Ishii mengundang wartawan untuk mengenal lebih jauh ragam dan cara mengolah gorengan Jepang. "Kali ini kami ingin memperkenalkan gorengan yang punya variasi pada kulit atau adonannya," ujar Dubes Ishii, belum lama ini.
Pada kesempatan tersebut, koki Kedubes Jepang Hori Ikuo memperagakan langkah-langkah dan tips memasak gorengan Jepang. Ada beberapa jenis gorengan yang dijelakan.
Jika bicara tentang gorengan khas Jepang, maka umumnya seseorang akan langsung teringat pada "tempura" yakni hidangan yang terbuat dari aneka macam hasil laut atau sayuran yang dibalut dengan campuran tepung terigu, air, dan telur kemudian digoreng dengan minyak sayur.
Makanan yang populer sebagai salah satu makanan terfavorit berdasarkan hasil angket wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Negeri Sakura itu dapat dengan mudah ditemui di restoran-restoran Jepang di Indonesia.
Ternyata selain tempura, Jepang juga memiliki jenis gorengan yang mungkin belum akrab di telinga masyarakat Indonesia seperti kara-age, kaki-age, kawari-age, dan su-age.
Ragam jenis gorengan Jepang tersebut dibedakan berdasarkan cara memasaknya. Masyarakat Jepang menyebut gorengan dengan agemono, age dalam bahasa Jepang berarti goreng.
Koromo-Age
Tempura masuk dalam kategori koromo-age, yaitu gorengan yang dicelupkan dalam adonan tepung basah sebelum digoreng. Umumnya tempura akan ditaburi sedikit garam sebagai bumbu, tidak lama setelah diangkat dari penggorengan.
Kara-Age
Hanya sedikit berbeda dari koromo-age, kara-age juga menggunakan sedikit tepung sebagai pelapis bahan makanan yang akan digoreng, tetapi terlebih dahulu diberi bumbu.
Kaki-Age
Kaki-age adalah jenis gorengan yang cara pembuatannya mirip dengan koromo-age dan kara-age, hanya saja bahan utamanya bukan hasil laut atau daging, tetapi sayuran.
Kawari-Age
Kawari-age menggunakan bahan bukan tepung sebagai pelapis makanan yang akan digoreng. Bahan kering yang bisa digunakan untuk membuat kawari-age adalah potongan kulit lumpia, rice crackers, corn flakes, atau mijinko yakni bahan pelapis gorengan yang terbuat dari beras ketan, bentuknya butiran kecil, dan teksturnya seperti gabus.
Su-Age
Kategori terakhir adalah su-age yakni gorengan yang tidak dibalut dengan apapun sebelum digoreng.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pelajar 18 tahun tewas tenggelam di Sungai Wiroko Wonogiri saat memancing. Korban ditemukan setelah 4 jam pencarian.
BPBD Bantul siapkan Rp20 juta untuk antisipasi El Nino. Potensi kekeringan dan kebakaran mulai dipetakan sejak dini.
Prabowo kunjungi Museum Marsinah Nganjuk, soroti sejarah buruh Indonesia dan perjuangan hak pekerja serta penghormatan pahlawan nasional.
BNNP DIY perkuat pencegahan narkoba dengan kearifan lokal dan sinergi masyarakat untuk wujudkan Yogyakarta bersih narkoba.
Kompetisi 76 Indonesian Downhill 2026 hadir lebih ekstrem di Bantul. Trek baru lebih curam, cepat, dan menantang rider elite.
Wisata Gunungkidul ramai 41.969 pengunjung saat libur panjang. PAD tembus Rp516 juta, pantai masih jadi favorit wisatawan.